Yang Hilang dan Bertemu di Cambodia


Ini adalah kali kedua aku backpakeran bareng teman-teman dari team yang sebelumnya di backpakeran ke Sing’pore-Bangkok-Ho Chi Minh terdiri dari 5 cewek (aku, twin sist Dewi & Heni, Ester dan Yeni) dan ketambahan 1 cowok. Tragedi kehilangan pertama dimulai dari departure date 1 August 2010, Andi satu2nya cowo di group ini ketinggalan flight karena kena macet menuju bandara CGK, pasti ngulur2 waktu berangkat 😉 dan dia akhirnya beli tiket lagi untuk berangkat lusa harinya tanggal 3 Aug flight pertama dari CGK menuju Phnom Penh, Cambodia. Itu artinya Andi skip gak ikut skejul backpack ke KL dan Malaka di 2 Aug, padahal semua tiket dah dibook dari jauh hari sebelumnya. Kita berlima rada kesel sama Andi yang suka ngulur waktu berangkat gak kyk cewe2 yang disiplin waktu ini.

Front Office Kece :)
Front Office hostel #kece aja asal Afghanistan

Sesuai itinerary datang di KL di jam orang ronda malam, 2.00 pagi hikmahnya naek shuttle bus dari LCCT bareng para pilot bule yang menuju KL…Ademmm. Dari shuttle bus nyambung taxi dipandu GPS, sampai juga di Tropical Guest House di Bukit Bintang, Oh No.. karena 1 kamar booking dari hostelbookers dan jam datang 2.00 pagi tsb, kamar kami dikasih ke tamu lain 😦 setelah sempet protes kami dikasi satu kamar yang paling gede disitu dan satu kamar single size, kesal lumayan terobati karena ownernya baik dan ramah. Jadilah hari pertama kami naik bis selama 3 jam ke Malaka, nyambung Kopaja nya sono dari terminal Malaka, nyambung taxi ke down town Malaka buat mengunjungi tempat2 bekennya Malaka, reruntuhan Gereja di atas bukit sama naek perahu keliling little venice Malaka. Cuman dapet komen dari taxi driver pas menuju down town, mau ngapain di sungai itu? kita bilang keliling naek perahu si abang driver bilang dia orang sini ogah banget disuruh naek perahu di sungai yang bau itu. Tapi kerennya liitle Venice di Malaka ini semakin dipercantik, diperlengkap dengan fasilitas modern sampai ada wisata monorail juga yang waktu itu baru mau dibuat. Cumungudh donk Bang driver!!

With Romi Perantau dari Bandung
Makan siang di Malaka berfoto sama Romi perantau dari bandung
Malaka
Malaka

Skejul padat sampai malam, kita dapet kenalan di guest house, backpack couple dari Austria sama dari Malaysia juga, nebeng transfer foto pake notebook Sylvia Miau cewe dari Austria. Tibalah pagi hari dengan keyakinan full dah selesai beberes sampai di LCCT kami dapt sms dari Andi yang ngabarin dia sudah mau flight ke Phnom Penh, Klop deh team nanti ketemu disana. Lalu..mulailah kabar yang bikin mules itu datang, kita berlima ketinggalan pesawat yang sudah flight pas kita mau check in..Wadoww ternyata kita hanya mengandalkan Yeni yang bikin itinerary nulis flight KL-Phnom Penh jam 8.00 harusnya di tiket jam 7.00 pagi. Lesson to learned, harus mandiri jangan bergantung sama orang lain, cek ulang semua dokumen #mules ples kalut. Akhirnya nekad browsing dan nemu tiket ke Phnom Penh dari Malaysia Airlines bearngkat jam 10.00 pagi. Pindah lokasi to KLIA pake shuttle bus airport. Lari-larian gak keruan sambil bawa backpack, cari info dan harus nunggu 5 orang yang mau ngebatalin tiketnya menurut bagian informasi..semakin mules keringet segede jagung bercucuran, sayang donk dah bikin itinerary buat ke Phnom Penh-Siam Reap. Akhirnya dapet juga 5 tiket dengan harga 2.5jt satu tiketnya, bayangkan dengan tiket promo sekitar 400-500rb pada tahun itu, angka itu menohok dan pulang liburan langsung dihadapkan tagihan CC..Tidakkk.. Ah sudah hajar bleh aja, kita berempat pilih flight pagi itu dan Yeni pilih book flight dari AA untuk berangkat besok pagi, dia balik lagi ke guesthouse yang front officenya mas-mas ganteng imigran dari Afghanistan.

Sampai di Phnom Penh airport yang kecil itu macam bandara Adisucipto, kita berempat berharap langsung ketemu Andi yang udah kita SMSin disuruh nunggu sampai flight kita dateng..dan karena lack of communication, Andi gak tahu klo kita ketinggalan flight dari AA dan pake Malaysia Airlines. Jadilah kehilangan yang kedua, satu jam kita keliling airport yang mini itu dah dapet 6 kali keliling ples ngubek-ngubek ruang kosong kayak gudang, toilet cowok (uhhh demen), sampe gw desperate bukain semua daun pintu yang bisa dibuka buat nyariin sosok Andi. Di telpon gak bisa, sampe kita beli no lokal di kios, gak bisa juga. Akhirnya dengan saling ngedumel segala macem dan niat klo ketemu Andi mau ngomel-ngomel abiss.

Naik Delman Tuk-tuk dari Airport Phnom Penh
Naik Delman Tuk-tuk dari Airport Phnom Penh

Lokasi pertama ke Tuol Sleng, lokasi genosida oleh Khmer Merah. Wahh baru kali ini gak bisa foto ceria, bulu kuduk berdiri, merinding, perut serasa ada yang menusuk sampai ke ulu hati, mau nelen ludah susah, mata jadi pedih begitu liat diorama ruangan, alat2 penyiksaan, ilustrasi penyiksaan dan jejeran foto-foto korban. Genosida sadis. Di halaman luar bangunan sekolah Tuol Sleng ditumbuhi pohon bunga kamboja yang berbau duka setia menemani kisah duka yang ada. Setelah dirasa cukup kita keluar dan naik Tuk-tuk (delman pakai sepeda motor) untuk menuju warung Bali, milik seorang Indonesia perantau di Phnom Penh. Dan Ohh..itu kita lihat sosok Andi lagi di atas tuk-tuk sendirian sama bang tuk-tuk. Whoaaa…langsung ngumpul dan saling ngomel rame kayak pasar. Rupanya Andi dah lama nungguin di bandara dan ambil keputusan buat jalan duluan sampai ke kuburan masal korban genosida bahkan maen paint ball dengan senjata AK47 beneran! Akhirnya sepakat damai dan kami berlima tos kayak team basket 😀 lanjut explore Phnom Penh. Setelah ketemu warung Bali, bahkan Heni ketemuan sama teman sekampungnya yang kerja jadi expat di Phnom Penh.

Duka di Tuol Sleng
Duka di Tuol Sleng
Para Penumpang
Si anak hilang berbaju biru
Kerja sampingan
Kerja sampingan

Skejul kembali padat merayap, kunjungi situs-situs istana dan di pasar sentral lagi-lagi terbukti orang Cambodia pun mahir berbahasa Melayu untuk urusan jualan karena orang Indonesia klo belanja banyakkk bgt sampe kodian. Setelah disepakati kita sewa satu taxi yang dipesankan oleh Bapak pemilik warung Bali untuk perjalanan ke Siam Reap sekitar 4 jam. Dalam taxi di seat belakang diisi 4 orang cewe lumayan pegal, melewati jalan antar kota antar propinsi yang pekat, listrik masi jarang. Terkadang ketika melewati  kampung yang agak terang terdengar panggung musik yang berdegum-degum keras, mirip konser dangdutan di kampung klo di sini.

Jam 2.00 pagi lagi sampai di Siam Reap, supir taxi yang gak bisa bahasa Inggris dan kami gak bisa bahasa Khmer saling ribut menanyakan alamat dengan orang yang kami temui. Akhirnya sampai juga di guest house yang kami tuju, kamarnya besar banget buat diisi berdua, dilengkapi kamar mandi dalam dan AC. Model rumah tua yang nyaman dan hijau asri dengan pohon taman yang rimbun. Pagi menuju situs Angkor Wat the Lost City yang eksotik dengan diantar 2 delman tuk-tuk pesan dari guest house, 12USD untuk temani jalan2 dari pagi sampai sore. Di pintu masuk kami nungguin lagi Yeni yang baru flight pagi itu dari KL langsung ke Siem Reap. Sungguh pertemuan yang sangat koboy, untungnya saluran telekomunikasi SMS sudah lancar, kemarin ternyata memang ada trouble jaringan telpon. Setelah team lengkap berenam, kami beli tiket untuk satu hari keliling Angkor Wat. Karena situs the lost city ini luas banget ada tiket terusan untuk 3-5 hari. Angkorwat keren banget, eksotis, benar2 seperti melakukan perjalanan di kota jaman lampau itu. Kita foto2 di lokasi syuting Tomb Rider dan foto dengan rombongan penari Cambodia dengan bayar 5-10USD. Hari sudah sore, kita sudah lelah namun ada satu lagi wat di atas bukit yang katanya indah untuk menikmati sunset, yang mau naik ke atas hanya ber empat, Heni dan Andi menunggu di bawah. Capek emang sudah jalan ke atas bukit, tangga di candi itu curam sampai mendekati 90 derajat tegak lurus. Lelah banget sampe atas, lagi asik elap keringat dan ngos2an, radar aku dan Dewi bekerja..ada cowo kece berbaju ungu di dekat kita!! Kayaknya sih orang Jepang, tinggi dan atletis..Oase bangettt nihh.. Trus karena kaca mata kuda ketinggalan di rumah, mata kita ngeliatin terus, dia sadar pula di liatin & keliatan malu2..Aduhh pliss deh..klo seganteng itu di Jakarta udah belagu banget, eh ini malah nunduk malu2, liat lagi, nunduk malu2…haisss..Akhirnya lupa siapa minta tolong fotoin duluan, kita saling kenalan, foto2, dan kami bilang dia cakep, namanya Akihiro Ito dari Jepang..nah bener kan. Karena englishnya agak kacau, Aki sahabat baru kita ini jadi kliatan malu2 and sampe minta maaf klo englishnya kacau..#duhh aseli melelehh..Setelah tukeran fb dan email kita nikmati sunset dari atas bukit. Pas mau pulang hari hampir gelap, Aki minta tolong mau ikut tuk-tuk kita untuk ke guest house..Oouww marii diangkut, aku and Dewi ketawa puwas..hahhaha sekalian janjian dinner malah.

???????????????????????????????
Sebelum kenalan
IMG_3611
Sudah kenalan 🙂
Akihiro un Purple Shirt
Akihiro pelopor foto unyu untuk Travelbandits
Khmer Dancer
Berfoto bersama Khmer Dancer

Dasar orang kita jam karettt, janjian sama Aki telat 20 menit, dia sudah gak ada di hostelnya begitu dijemput. Waktu itu katro abis, gak punya whatsapp buat chat dan gak minta no telp memang. Ya sudah kita dinner, malam ini di pilih resto Khmer yang mewah ada outdoornya dengan candle light dinner dan western dinner yang sophisticated untuk menghapus kegalauan gak jadi dinner sma Aki 😦 hihihi… Akhir malam ditutup dengan…belanja lagi di pasar malam, belanja dan belanja, oleh2 dan oleh2 😀

Last Dinner on Khmer Resto
Last Dinner on Khmer Resto
DSC06188
Shop till drop
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s