Twilight Zone in Venice


T.w.i.l.i.g.h.t   Z.o.n.e ” A state of surrealism, where things that should not make sense seem to do so”.

” A phrase dedicated to strange phenomenon and bizzare events”.

Di penghujung Mei dengan cuaca hangat bersahabat di Italy, perjalanan kami lanjutkan dari Firenze menggunakan kereta Frecciargento yang dioperasikan oleh Trenitalia dari stasiun Santa Maria Novella menuju Venice dengan tujuan stasiun Santa Lucia yang sudah berada di dalam pulau kecil Venice. Perjalanan di tempuh dalam 2 jam dimulai dari Firenze jam 16.30 dan akan tiba di Venice pada pukul 18.30. Aroma kegembiraan mulai menyeruak begitu kereta kami sudah melewati stasiun Venice Mestre, yepp sebentar lagi kami akan melintasi jembatan yang berupa jalan tol besar dan rel kereta yang menghubungkan Venice Mestre dan Venice Santa Lucia. Aku, Yeni dan Ade melonjak kegirangan karena sebentar lagi kami akan memasuki sebuah kota apung kecil padat nan cantik bagai di negeri dongeng bernama Venice. Berbeda dengan Roma yang masih terang dengan cahaya matahari sampai pukul 8 malam, di Venice pukul 18.30 di bulan Mei itu sudah nampak cuaca senjanya. Udaranya berbau angin laut karena memang Venice terletak di daerah laguna berawa di sepanjang garis pantai. Begitu kereta berhenti di stasiun Santa Lucia kami langsung turun dan memanggul backpack dengan sigap. Kami langsung menuju ke tourist information. Di dalam ruangan kotak dengan kaca loket itu seorang petugas tourist information hanya memberikan jawaban “This is located in very near area from there, just go to left and keep straight after you get the exit gate from this station”. Setelah mendapat jawaban singkat itu kami pun langsung bergegas menuju arah yang dimaksud. Begitu kaki kami melangkah menuruni undakan anak tangga yang lebar sepanjang teras pintu keluar stasiun, kami pun disuguhi pemandangan Grand Canal yang indah dan terdapat dermaga kecil kapal fery pengangkut penumpang ke pulau sekitarnya seprti ke Murano dan Burano, juga terdapat bangunan berkubah San Simeone Piccolo, hijaunya warna kubah selaras dengan hijau segarnya warna air di Grand Canal. Di sepanjang teras anak tangga itu banyak orang duduk-duduk menikmati senja, berbincang dan bercanda. Beberapa White Egret nampak asyik lepas landas di perairan depan stasiun, beberapa lainnya sibuk mematuki kakinya sendiri seolah sedang membersihkan sesuatu yang menempel di kakinya.

???????????????????????????????

Kami teruskan langkah ke area Canaregio tempat penginapan pertama yang akan kami cari. Tak berselang lima belas langkah dari depan stasiun belok ke kiri, dada kami berdetak lebih cepat karena pemandangan euphoria Venice yang kini terpampang di depan mata! Puluhan orang lalu lalang di jalan blok berbatu tua, sebagian besar terdiri dari turis yang baru datang dan akan meningggalkan Venice, kemeriahan toko-toko souvenir yang memajang aneka topeng fantasi carnaval gaya baroque dan Victorian di etalasenya, aneka handycraft unik, deretan restaurant dengan penataaan meja dan kursi yang apik memenuhi pinggir jalan yang dilalui orang-orang. Euphoria itu sempat membuat tidak fokus, mungkin hanya Yeni yang bisa fokus berjalan.

“Dari tadi kita cuma ambil jalan besar kan Ta? Kita gak ada ambil gang-gang kecil untuk mencari letak hotel Marte Biasin kan?” tanya Yeni memecah lamunan daftar belanjaanku. “Oh, iya hanya ambil ke kiri terus sampai kita bertemu ponte (jembatan) nah disitu akan ketemu hotel Marte”, ujarku lugas. Tapi lama kami melangkah lagi sampai sudah berasa pegal memanggul keril, belum juga aku ketemu bacaan hotel Marte. “Nah, itu hotel Marte!” Seru Ade sembari menunjuk ke seorang cowo ganteng (pake bangets) bersetelan vest dan pantalon gelap. “Siapa cowo itu?” seruku bersemangat seperti menemukan oase di tengah padang pasir. “Yee, itu lihat bacaan Marte di atas Kanopi!” ujar Yeni sewot karena melihat aku gagal fokus. “Ooo, iya itu hehe dah ketemu bacaannya”, alam bawah sadarku langsung pulih, jadi si cowo ganteng itu adalah waitress dari restaurant dan di sebelahnya berdiri ada pintu besi tempa berkanopi dengan kaca jendela, di atas kanopinya terdapat huruf-huruf besar merah bertulikasn MARTE.

Setelah memastikan lagi, benar saja di depannya terdapat ponte (jembatan) Aku pun yakin ini hotel Marte Biasin. Dengan yakin kami masuki pintu besi tempa berkanopi itu, beberapa langkah di dalamnya langsung berhadapan dengan meja besar resepsionis, tetapi kok kosong ya tidak ada yang jaga. Sebelum inisiatif memencet bel di meja aku lakukan, Ade berkata “Ta itu dah ada tamu lain yang menunggu kayanya”. Benar di sebelah kiri meja resepsionis ada sepasang suami istri paruh baya berkulit putih nampak keringatan dan lelah, sepertinya baru saja datang seperti kami. Dengan sopan kami pun menanyakan keberadaan resepsionis dan mereka ternyata sedang menunggu hal yang sama. “Istirahat dulu deh, nanti klo resepsionist datang paling mereka duluan yang check in” Ucapku seraya menaruh keril 42 Liter ke lantai dan langsung diiyakan Yeni dan Ade. Lama tak ada tanda kemuculan sang resepsionis, sang Istri dari pasangan tamu sebelum kami itu langsung mengambil inisiatip bertanya ke waitress ganteng di laur dan sekembalinya kami mendapat informasi bahwa kami harus naik lagi ke ruangan di atas untuk melakukan check in. Kembali memanggul keril dan pasangan itu bersusah payah mengangkat koper dan tas besarnya, kami tapaki susunan anak tangga berkarpet merah di gang sempit setelah meja resepsionis tadi. Setelah menapaki sekitar 20 anak tangga dan kembali ngos-ngosan di ruang terbatas itu, aku melihat ada pintu kayu kecil dan berkaca jendela dengan dua buah kursi kayu di depannya, berharap itu adalah ruangan resepsionis untuk chek in. Kepalaku masih mendongak ke atas berharap penuh pada pintu kecil berjendela kaca, ketika sebuah suara besar memecah keheningan di tengah helaan nafas kami yang ngos-ngosan, “There is still another stairs to get to receptionist room! and this small door is not the receptionist room!” Ternyata suara besar bernada protes itu keluar dari si Suami yang berperawakan tinggi besar, peluh nampak semakin berlelehan di keningnya, rambut dan kumis lebat warna jagungnya menjadi lebih basah. Sambil bersabar dan menghambil satu helaan nafas panjang, kami semua mulai menapaki anak tangga berkarpet merah lain dengan sudut elevasi mencapi 60 derajat itu. Fuihh!! “Ayo Ta, De, semangat..semangat! sedikit lagi berhasil!” Ujar Yeni memberi komando laksana sedang summit ke Mahameru, memang Yeni sudah lulus di 3676 mdpl puncak Mahameru, sedangkan aku dan Ade baru lulus Ranu Kumbolo saja 😀

Dengan sisa tenaga memanggul keril kunaiki anak-anak tangga merah itu dan akhirnya kami sampai ke depan daun pintu kayu yang lebih lebar, seakan belum percaya kami sudah sampai ke ruangan resepsionis sebenarnya. Kulebarkan pupil mataku untuk melihat kondisi yang sedang aku lihat. Ku tengok ke kanan dari pintu masuk terdapat satu set meja makan kayu untuk 6 orang, di belakangnya banyak terdapat lagi deretan kursi-kursi meja makan terbuat dari kayu ukir warna ccoklat tua, di depan meja makan terdapat banyak tumpukan tas dan koper besar juga beberapa ransel. Sudah kuduga itu milik tamu yang akan check out atau baru saja check in. Ada beberapa tamu lain yang sedang mengerumuni meja resepsionis.

Melihat urutan tamu yang ada, kami sadar bahwa kami urutan ketiga setelah pasangan suami istri paruh baya itu. Lumayan sambil melepas lelah kami duduk di set meja makan pertama, paling dekat dengan meja resepsionis. Pandanganku langsung menuju meja resepsionis mencari sosok sang penjaga meja. Hotel ini nampaknya hotel tua yang sudah berdiri selama puluhan tahun, di balik meja besar resepsionis terdapat rak kayu tempat kunci dan rak etalace tempat menaruh dokumen. beberapa dokumen di tumpuk tak beraturan di dalamnya. Ketika kulihat sosok di balik meja resepsionis itu, aku menemukan pemandangan yang jarang aku lihat..Ya..sang resepsionis adalah seorang nenek yang telah berumur, kutaksir umurnya sudah lebih dari 75 tahun. Tubuhnya kecil mungil dan semakin kisut karena di makan usia, banyaknya kerutan di wajahnya mempertegas bahwa umurnya bukan terdiri dari angka yang kecil.  Mengenakan kemeja katun berkerah warna pastel dan dirangkap oleh jas lab putih, benar jas kerja laboratorium. Rambutnya yang berwarna kuning putih keemasan di gelung ke ikat ke belakang. Tapi beliau tampak masih gesit melayani tamu yang sedang check in. Lama setelah menunggu giliran, akhirnya pasangan suami istri paruh baya mendapat giliran untuk check in. Kami bertiga masih istirahat, dari pembicaraan mereka, aku mulai mengerti bahwa gedung yang kami pijak saat ini adalah hotel Marte dan pasangan tersebut harus tinggal ke hotel Biasin yang bangunannya terpisah oleh sebuah jembatan di depan hotel Marte, Ponte Delle Guglie. Nenek Senorita resepsionis menunjuk ke sebuah monitor kecil di atas rak kayu di belakang meja, nampak tampilan CCTV berwarna hitam putih yang menunjukkan posisi jembatan dan gedung hotel Biasin kepada tamu. Nampaknya mudah menuju kesana. Kulirik jam tanganku waktu sudah menunjukkan lewat dari setengah delapan malam. Karena ingin bergegas check in dan masuk kamar, akupun mendekati meja resepsionis karena sebelumnya aku melihat kehadiran satu orang pria paruh baya bersetelan jas masuk ke dalam meja resepsionis menemani nenek Senorita.  ” Can I do a check in right now sir?” Ujarku bertanya setengah tak sabar pada pria bersetelan jas yang di panggil dengan nama Alejandro oleh nenek Senorita. “I am sorry, I can not. This hotel is belong to her. She is the owner”, jawab Alejandro tegas namun ramah. Walau di jawab dengan ramah tetep rasanya kecele, sambil kulirik nenek Senorita yang masih sibuk dengan tamu lain. Aku pun balik ke meja makan tempat Yeni dan Ade duduk. “Gak boleh check in sama Alejandro. Fuihh” ujarku lemas, kuterima tatapan aneh dan kaget mereka berdua. “Aneh ya..lama banget lagi satu tamunya, tapi kita habis ini kok” Yeni menimpali. Sampai akhirnya kami pun di panggil untuk check in, keringat sudah bikin lengket baju di badan, kami pun bergegas maju. Aku pun maju dan menjelaskan kami sudah book kamar via booking.com satu kamar untuk tiga orang atas namaku. Nenek Senorita mengerutkan dahinya, seolah tak pernah mendengar namaku dan melihat dokumen booking aku dari web tersebut. Dengan cepat kukeluarkan kertas booking yang sudah di print dari email yang kuterima dari website. Ada rasa kuatir juga jangan-jangan si nenek lagi kumat pikunnya. Nenek Senorita menagduk beberapa file kertas di hadapannya, kemudian selembar kertas yang sudah ditandai diambilnya. “Oh, ya it is your name right?” Tunjuknya pada selembar bukti booking. “Yes, that”s right” Ujarku bersemangat. Setelah mengecek berapa lama kami menginap, nenek meminta paspor. “Only my pasport?” Sodorku tergesa memberikan pasport. “No, I need all of your pasport!” Ujarnya tegas sambil menujuk kami bertiga. Ade dan Yeni kupanggil dengan cepat agar posisi mereka mendekat ke meja resepsionis. “Pasport, semua!” Dengan meringis heran mereka berdua pun memberikan pasport kepada sang nenek. Selanjutnya gerakan yang kami lihat membuat senyum kami terkulum menahan geli. Nenek Senorita menyobek secarik kertas dari bukti booking dan menggaris bawahi namaku serta lama menginap, kemudian mengambil seutas karet gelang warna merah dan mengikat jadi satu pasport kami bertiga. Dengan sigap dibukanya laci besar di bawah meja, kepala dan mata kami bertiga sampai menunduk melongok mengikuti arah laci besar tersebut. OMG! di dalam laci tersebut terdapat jejeran puluhan pasport berbagai warna dari berbagai negara dengan keadaan terikat karet gelang dalam satuan-satuan kumpulannya. Mataku melotot bengong seperti melihat isi koper berisi kokain di film mafia The God Father. Nenek dengan muka tegasnya melanjutkan tugasnya dengan memberikan kami kunci kamar dan penjelasan letak hotel Biasin dari monitor kecil CCTV. Ya, kami harus menempati hotel di seberang karena hotel Marte sudah penuh. Dengan sisa tenaga yang ada kami kembali memanggul keril menuruni 2 set anak tangga ke lantai 1.

Di luar kami disambut hujan gerimis dan cahaya senja mendekati gelap. Kulihat beberapa orang berlarian cepat, kami sebrangi Ponte Delle Guglie, sebuah jembatan lengkung khas Venice. Dibuat lengkung karena di bawahnya tempat melintas perahu. Setelah menaruh tas dan puas akan kondisi kamar yang kami dapat, agak sempit namun benar-benar bersih dengan kamar mandi pribadi. Karena merasa lelah dan lapar kami memutuskan untuk mencari makan malam atau mencari jajanan dulu di luar. Bergegaslah kami keluar kamar yang berada di lantai 2. Lobby hotel berupa sebuah ruang tamu dengan beberapa set sofa besar yang nyaman dan berkarpet tebal. Tidak ada meja resepsionis di hotel Biasin, sehingga tamu hotel bisa membuka pintu dari bagian dalam tanpa menggunakan kunci. Pintu akan terkunci otomatis begitu penghuni hotel menutup pintu. Kunci hanya diperlukan untuk membuka pintu dari luar. Disambut gerimis dan malam pun sudah menjadi gelap di venice, udara dingin mengiringi kami berjalan. Banyak restauran yang menyediakan makanan sea food di Venice. Kami memutuskan hanya membeli buah saja untuk mengganjal sebelum makan malam, setelah mandi kami akan keluar lagi untuk makan malam. Yeni girang sekali melihat aneka buah yang dijual. Dari red cherry, pisang, strawberry, aneka plum, aneka berry, buah peach yang biasanya harga di Jakarta sangat mahal, disini harga per kilonya hanya 2-3 Eur.

Selesai membeli buah kami baru ingat belum mendapat kupon sarapan pagi dan mau menanyakan password wi fi hotel. Karena di hotel Biasin tidak ada resepsionis dan sepertinya intercom tidak menghubungkan kedua hotel Marte-Biasin, bergegaslah kami menuju nenek Senorita di lantai 3 hotel Marte. Sesampainya disana kami melihat nenek sedang melayani tamu Jepang yang check in. Wanita muda Jepang ini seumuran kami, maka tanpa sungkan aku mendekat ke arah meja resepsionis. Cewek Jepang ini bisa berbahasa Italy dengan baik, Aku pun kagum melihatnya tetapi wajahnya tampak kesal berbicara dengan nenek, tampaknya sama masalahnya nenek belum menemukan bukti booking si tamu. Ketika nenek sibuk mencari dokumen, cewek Jepang ini tersenyum dan curhat kepadaku klo si nenek ngotot dan salah..hehehe. Aku cuma bisa kasi saran yah maklum deh. Urusan dengan tamu Jepang selesai nenek melayani kami. Diberinya kami password wifi dan kupon sarapan pagi. Dengan hati lega kami pun menuju hotel Biasin yang hanya berjarak 15 meter dari hotel Marte dipisahkan oleh jembatan mungil Ponte Delle Guglie itu dan muncullah petaka kecil itu. Aku gak bisa menemukan kunci kamar kami! Panik kuaduk-aduk isi tas kameraku. Kurogoh semua kantong dan lipatannya. “Di saku celana lo kali Ta” Ujar Ade tak kalah panik. “Gak ada!” ujarku mulas setelah meraba kantong celana. “Gw minggir dulu deh!Duh tapi gak ada tempat terang.” Kutaruh tas di atas meja di pojokan teras sebuah cafe yang sudah gelap. Dengan meringis menahan kesal akan kebodohanku sendiri, kuperiksa lagi semua kantong dan lipatan sekat di tas. Dan yakkk…Hahhhh..ini dia kunci keramat. Kelegaan teramat sangat aku rasakan dan dengan gerakan asal kumasukkan semua isi tas. Tak sampai 3 menit aksi panik itu terjadi. Begitu anak kunci diputar yess. kami pun masuk ke dalam lobby. Keringat panik membasahi kening dan punggungku, kami bertiga tertawa lega di dalam lobby membelakangi pintu masuk. Tiba-tiba sebuah suara menyentakkan kami bertiga dan membuat kami membalik badan 180 derajat dengan cepat. “CLOSE THE DOOR!” Sebuah suara parau nan lantang bergema di lobby yang sepi. Jantung kami bertiga hampir saja loncat rasanya ketika dalam kegelapan di balik pintu muncul wajah nenek Senorita dengan kerutannya dan sosok tubuh mungilnya di balut jas lab putih. Whoaaa…jantung kami sesaat berhenti berdegup, darah berhenti mengalir ke otak, mata kami melotot!

Kaki kami pun terasa lemas, selemas-lemasnya. Boleh jadi muka kami pucat pasi, dengan gemetar aku berjalan menuju pintu dan mengangguk, “Yes, Mam I will close the door” Ujarku tak keruan. Nenek Senorita mengangkat kepalanya, wajahnya menampakkan ketegasan luar biasa pengalaman menghadapi tamu hotel selama puluhan tahun. Sikapnya tegas melindungi keamanan bersama. Aku pun merasa bersalah karena teledor. Selepasnya pintu tertutup dan tak tampak lagi nenek Senorita, meledaklah tawa kami bertiga. Sepertinya kita yang masih muda 😀 turun dari lantai tiga dengan dua set tangga curam itu ples cari-cari kunci kamar durasinya singkat sekitar 10 menit. Gilaakk nenek yang masih punya tamu untuk didata udah nyusul aja pake nyebrang jembatan lengkung. Menurut kami dengan usia nenek yang kami taksir sudah lebih dari 75 tahun sepertinya membutuhkan waktu yang lama, sekitar 20-30 menit lah untuk ke hotel Biasin. Kami disambut Twilight Zone di malam pertama kami di Venice.

Nenek Senorita sedang bekerja
Nenek Senorita sedang bekerja
Berfoto bersama nenek Senorita
Berfoto bersama nenek Senorita

???????????????????????????????

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s