Ekspedisi ke Kawah Ijen


Mini bus yang kami tumpangi di dini hari jam 2.00 WIB mulai beranjak meninggalkan Arabica Homestay yang terletak di Sempol 13 km sebelum Kawah Ijen. Sekitar 30 menit  akhirnya kami tiba di lembah Paltuding sebagai pemberhentian terakhir sebelum hiking ke kawah Ijen . Udara dingin dengan kelembaban yang tinggi menyambut kami di area parkir. Di Lembah Paltuding ini terdapat fasilitas parkir untuk mobil dan bis pariwisata, beberapa guest house, toilet umum dan warung makanan. Aktivitas di Paltuding selalu bergeliat ramai setiap harinya di mulai dari malam hari mendekati dibukanya gerbang portal pendakian ke gunung dan kawah Ijen pada jam 2.00 dini hari sampai siang harinya. Paltuding selalu disibukkan oleh banyaknya turis domestik dan manca negara yang mempunyai tujuan ke kawah Ijen dan dipenuhi juga oleh lalu lalang para penambang sulfur di kawah Ijen.

Ketertarikan aku ke kawah Ijen ini bermula dari melihat film dokumenter di masa aku kecil, profil gunung dan kawahnya serupa mangkuk raksasa yang berisi cairan warna hijau tosca dan gambaran orang yang berjalan di bibir kawah Ijen, menjadi magnet kekaguman tersendiri buatku. Belum lagi di film dokumenter itu meliput perkerjaan yang sangat luar bisa beresiko tinggi yang dilakukan para penambang belerang yang masih melakukan penambangan dengan cara sederhana dan sangat minim peralatan yang memadai. Kawah Ijen menurut data dari kementrian ESDM adalah penghasil belerang terbesar. Selain keindahan kawah Ijen yang dipaparkan di film dokumenter besutan TVRI itu, juga selalu teringat bagaimana pundak-pundak para penambang yang harus memikul berpuluh kilo beban belerang sembari menahan pedih nafas dan mata akan uap belerang demi mencari rejeki. Alasan lainnya, aku tertarik karena pernah melihat wawancara Ibu Sri Sumarti di acara talk show Kick Andi. Bagaimana tidak, si Ibu pemberani ini dengan teamnya berani mengarungi kawah Ijen dengan perahu! untuk keperluan peringatan dini bencana alam dan penelitian profil dasar danau. You know, kedalaman danau kawah ijen ini mencapai 180m.. dan lagi tingkat keasamannya sangat tinggi. Woww! semakin bergidik aku membayangkannya. Magnet lainnya lagi adalah pesona blue fire yang muncul dari gas sulfur yang dinyalakan dari celah penambangan.

Danau hijau Tosca Ijen

Rahmat guide ekpedisi kawah Ijen kali ini, sudah mencoba mendeskripsikan tingkat kesulitan pendakian lereng menuju Ijen selepas Paltuding, ” Jarak ke kawah Ijen sekitar 3 km dari Paltuding, 500 meter pertama tracknya masih mendatar biasa maka sampailah kita di pos pertama” ujarnya menenangkan namun langsung disambung, “Nah menuju pos berikutnya, jalan akan semakin menanjak curam, lumayan deh!” senyum dan alis Rahmat membentuk sudut khawatir untuk peserta yang tidak berlatar belakang penggemar hiking. Benar saja melewati 500 meter pertama semangatku mulai surut, terakhir hiking adalah sekitar 5 bulan yang lalu ke desa Cibeo Badui! Napasku tersengal-sengal dengan hebatnya, jantung berdegup kencang sampai ada letupan kecil di area belakang leher dekat otak bawah aku rasa. Gondola..mana Gondola! jeritku tertahan dalam hati..Hehehe. Aku lepas topi kupluk bulu silverku, karet woolnya serasa mengekang kepalaku yang mau pecah ini dan Rahmat dengan sabarnya sesekali mendorong punggungku dari belakang supaya aku mau terus berjalan. Whoaa..maafkan teman-teman team ekspedisi, tetapi memang akhir-akhir ini aku malas berlatih kebugaran 😦

“Yak tinggal dua kelokan lagi kita akan sampai di pos terakhir jalan menanjak”, selalu Rahmat berkata. Medan lintasan terberat menuju kawah Ijen sekitar 1.5 km dengan sudut kemiringan 25-35 derajat. Berkali-kali aku minta berhenti untuk istirahat, teman-teman yang lain sudah di depan berjalan cepat mungkin mengejar blue fire.  Yah demi blue fire aku pun memompa semangat, karena jika hari sudah terang blue fire tak terlihat lagi. Ku sorotkan head lampku jauh ke depan, setelah tanjakan curam panjang ada sekumpulan orang telah berkumpul, mungkin ini pos terakhir pikirku. Aku tidak mau buang waktu dengan terus melangkah cepat ke kiri sampai sambil bertanya pada Rahmat, “Ini arahnya kesini? Sambil terus melangkah ringan karena tidak ada lagi tanjakan, di tengah gelap itu jalan semakin sempit dan tubuhku serasa menembus semak belukar.”Hei kemari!” Panggil Rahmat dan sekumpulan orang. “Kita istirahat dulu di pos terkahir!”, Duhh ternyata aku sedang bersemangat sekali sampai terus berjalan ke arah semak belukar, arah yang berlawanan arah dengan kawah Ijen. “Hahahaha….”, teman satu team semua tertawa, “Mesin diesel nih, lama panasnya!” Celetuk salah satu teman. Hahahaha siall…tertawa pula aku.

Benar saja setelah pos terakhir perjalanan begitu ringan, cuaca di bulan Agustus membuat langit cerah dengan banyak bintang dan malam itu bulan tidak sedang penuh, sehingga gugusan milky way banyak menghiasi langit malam. Di tengah lelah dalam gelap aku bisa melihat di sebelah kanan jalan setapak ada gunung yang ditutupi kabut awan hingga hampir setengah badan gunung, indah seperti lilitan kapas gulali. “Itu lihat kepulan asap di sana!” Tunjuk Rahmat ke arah depan. “Asap dari kawah ijen!”. Kulihat punggung Ijen bagai pagar tinggi yang di baliknya mengeluarkan kepulan asap. Semakin dekat dengan kawah kami mulai berjalan di bibir kawah bagian atas gunung, terdapat kaldera besar dari lelehan lava Ijen. Akhirnya kami sampai sekitar pukul 03.30 di bagian atas kawah. “Ada yang mau turun ke kawah? Ini jaraknya 600 meter ke kawah dan sangat curam”, Tanya Rahmat menegaskan. Dari 6 orang di team hanya kami bertiga yang mau turun ke bawah ditemani seorang porter untuk membawakan tas kamera dan lensa yang lumayan berat. Udara dingin sekali ditingkahi hembusan angin gunung yang kencang, kupakai sarung tangan kulit cepat-cepat karena udara dingin menjalar dengan cepat. Sudut kemiringan sekitar 45-60 derajat untuk mencapai kawah, tetapi karena konturnya batu-batu berundak masih terasa tidak membosankan dan tidak membuat cepat lelah menurutku. Orang-orang berjalan bergantian di sepanjang track menuju kawah dan mereka yang akan kembali ke atas, karena lebih banyak jalur jalan hanya seukuran tubuh satu orang dewasa. Kode etik yang tidak tertulis adalah kami harus berhenti dan berdiam diri ke pinggir jika ada penambang belerang yang akan lewat sambil membawa pikulan mereka baik dalam keadaan penuh ataupun kosong. Yah, memang beban pikul seberat 80-100 kg itu sangat berat di bawa dari tambang di dekat kawah dan target mereka adalah 2-3 kali bolak-balik memanggul belerang dalam jarak 3 km sekali arah jalan  dari lembah Paltuding. Sungguh pekerjaan yang teramat berat dan mungkin menjadi pilihan terakhir para penambang untuk dapat menghasilkan uang.

Kulihat sudah separuh perjalanan turun ke kawah, blue fire sedari tadi sudah memanggil, tetapi terang fajar semakin dekat, sampai akhirnya aku telah mencapai bagian paling bawah dekat dengan permukaan danau, blue fire telah menghilang tidak dapat di foto lagi 😦 . Walau sedikit kecewa tetapi pemandangan kawah Ijen mempesonaku, airnya yang berwarna hijau tosca nampak bagus bersanding dengan warna bebatuan dinding kawah dan langit biru. Saat ini aku sudah berada di dasar mangkuk kawah Ijen, di tepi air danau hijau tosca. Masing-masing sibuk mengabadikan keindahan itu dalam bidikan lensa dan kamera.

Ijen Crater

Tepat di samping danau terletak penambangan belerang. Memang ini benar-benar tambang rakyat. Hanya diolah secara tradisional, maka dari itu tidak ada prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)sama sekali di area penambangan ini. Aku sebagai orang yang berkecimpung di dunia industri membaca penjelasan Ibu Sri Sumarti yang dikutip dari web ESDM semakin memperjelas kekhawatiran akan keselamatan para penambang:

“Penambang menggunakan cara yang sangat sederhana untuk “menangkap” belerang. Mereka memasang pipa yang terbuat dari besi (pawon) berdiameter 16 – 20 cm. Setiap pipa panjangnya 1 m. agar mudah memasang dan menggantinya jika rusak. Pipa tersebut dipasang sambung menyambung mulai dari tebing atas dimana titik solfatara yang suhunya mencapai 200 C sekaligus sebagai sumber belerang hingga dasar tebing yang jauhnya antara 50 – 150 m. Melalui pipa tersebut gas belerang dialirkan kemudian tersublimasi di ujung pipa bagian bawah dan siap ditambang. Apabila salah satu pipa rusak karena korosif, maka uap belerang tidak mengalir sempurna dan terlepas ke udara bebas dan tidak sempat tersublimasi. Kendala lainnya adalah ketika suhu solfatara naik melampaui 200 C, maka uap belerang tidak sempat tersublimasi karena terbakar.”

Instalasi sederhana penambangan belerang  kawah Ijen
Instalasi sederhana penambangan belerang kawah Ijen
Mulai memanggul belerang
Mulai memanggul belerang
Berjalan terseok dengan beban berat
Berjalan terseok dengan beban berat
Berhenti sesaat untuk memantapkan posisi beban panggul
Berhenti sesaat untuk memantapkan posisi beban panggul
Membuat bentuk kerajinan dari belerang membantu tambahan pendapatan
Membuat bentuk kerajinan dari belerang membantu tambahan pendapatan
Belerang yang di cetak dengan bentuk unik untuk dijajakan kepada turis
Belerang yang di cetak dengan bentuk unik untuk dijajakan kepada turis
Gubuk pos penambang berisi motor , belerenag hasil asah dan alas tidur untuk istirahat
Gubuk pos penambang berisi motor , belerenag hasil asah dan alas tidur untuk istirahat
Peralatan sederhana
Peralatan sederhana
Mencoba membawa beban berat
Mencoba membawa beban berat

Apakah tidak ada rencana dari pemerintah setempat untuk melindungi hak para pekerja tambang? Para penambang belerang Ijen menjual hasil tambang mereka ke perusahaan penampung dengan harga per KG yang sangat murah dan tidak sepadan dengan resiko kerja. Entah bagaiman seharusnya proyek ideal untuk melindungi penambang belerang di Ijen, Apakah perusahaan penampung belerang harus mau bertanggung jawab akan prosedur K3 atau pemerintah yang seharusnya membuat instalasi yang lebih memadai untuk penambangan belerang tersebut.

Tetiba Rahmat berteriak sambil menunjuk ke arah belakangku, “Awas asapnya menuju ke sini!” Hembusan angin kencang di dasar kawah memang sering kali mengepulkan badai asap uap belerang dari celah dinding tambang. “Tenang, diam di tempat!” teriak Pak Suroso, porter kami dari bagian atas tambang, dia berada di tempat yang aman. Aku mencoba tenang, merapatkan masker dan Ohh..pedih sekali mata ini..ku tutup mataku dengan syal batik. Lama nafasku tertahan dan kengerian dalam kegelapan karena aku memejamkan mata, ketika dadaku sudah sesak, aku pun membuka mulut dan yakk…asap tebal berwarna kuning itu memasuki mulut dan tertelan melalui kerongkongan. Rasanya asam dan sifat Sulfur yang higroskopis, meyerap uap air, membuat kerongkonganku tercekat. Begitu kabut asap reda, kembali kuhirup oksigen dari udara. Begitulah rasanya kerja menjadi penambang belerang Ijen kupikir. Mereka tereskpos oleh uap asam belerang dengan frekuensi tinggi setiap harinya.

Bernafas dalam lumpur belerang
Bernafas dalam lumpur belerang
Merasakan tercekat asap belerang yang asam dan higroskopis
Merasakan tercekat asap belerang yang asam dan higroskopis

Kawah Ijen pesona keindahan alam yang sudah tersohor ke manca negara, terlihat dari banyaknya turis asing yang datang. Geliat transaksi mata uang mengalir deras dapat dipastikan dari tingginya aktivitas pariwisata di wilayah itu. Tak habis tanyaku kenapa pemerintah tidak melindungi hak para penambang belerang itu. Dalam perjalanan pulang naik ke atas kawah, Aku melihat  turis domesitk, seorang ibu yang akan turun ke kawah berpapasan dengan penambang belerang separuh baya yang nampak kesusahan dengan pikulan beratnya. Si Ibu berkata, “Pak rejeki yang bapak cari sangat berat tetapi halal dibanding dengan para koruptor yang mudah sekali bergelimang harta”. Bentuk dari kepedulian? Setiap orang punya cara untuk mengekspresikannya.

Beristirahat dalam perjalanan ke atas bibir kawah
Semangat dan keihklasan menjalankan hidup yang kukagumi

Hasil penambangan pagi ini

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s