Makassar-Toraja Day #1; This is Appetizers!


Lampu putih pada androidku menyala berkedip-kedip siang itu. Seakan terhubung secara telepati, Aku merasa itu adalah Whatsapp message dari salah satu anggota Travelbandits.

“Ta, Elo mau ikut Trip Makassar Toraja gak?”

“Tiket Promo Air Asia. PP dari Jkt cuman 400ribu”, berondong tanya Yeni dalam messagenya.

Pakai melompat dulu dari bangku (kegirangan) aku mengetik balasan “IKUTTT”

Trip kali ini semua anggota Travelbandits berkumpul. Senangnya :-D. Karena kesibukan kerja yang mendera, trip kali ini aku pasrah ikut rombongan backpacker lain yang total jumlah peserta semuanya 14 orang. Weww..Banyak juga rombongan trip kali ini, bagiku backpacker trip yang ideal maksimal 6 orang, itu dengan catatan yang otaknya sudah sama errornya 😀 hahaha..karena akan banyak sekali aral melintang masalah kekompakan, seperti destinasi, mau santai atau rush trip, trus masalah kenyamanan jenis penginapan, jenis makanan mau hemat atau hura-hura manjain lidah dan perut. Bahkan trip kali ini aku gak booking tiket, transportasi dan akomodasi sendiri, semua sudah di arrange ikut group. Itinerary yang dishare sangat padat. 4D3N untuk merambah banyak destinasi sepanjang Makassar-Toraja.

Karena penerbangan pagi menuju Ujung Pandang, pagi di akhir Oktober 2013 itu kami sudah berkumpul di CGK. Travelbandits sudah berkumpul! Aku yang setengah mati menahan kantuk pagi, Dewi yang seperti biasa selalu fresh, Yeni dan Wulan sudah anteng dengan ukuran ransel yang selalu kecil. Ade seperti biasanya selalu diantar ke CGK dengan rombongan keluarga lengkap dari mama sampai ponakan-ponakan. Penerbangan ke Makassar selama 3.5 jam akhirnya membawa kami menjejakkan kaki di tanah Sang Ayam Jantan dari Timur Sultan Hasanuddin. Dua unit Avanza sudah menunggu kami untuk mengantarkan ke beberapa destinasi hari ini. Tujuan pertama kita siapkan energi dulu dengan menyantap Pallubasa makanan khas Makassar, berupa daging sapi yang dimasak dengan kuah kaldu, asam jawa, kelapa parut dan beraneka rempah-rempah yang tajam rasanya.

Travelbandits team touch down Makassar
Travelbandits team touch down Makassar

Sehabis urusan pengisian energi selesai baru kita diantar Daeng pengemudi Avanza ke Taman Nasional Bantimurung yang berjarak 20 km dari bandara Sultan Hasanuddin. Di Bantimurung Aku berharap dapat melihat banyak kupu-kupu warna-warni di alam bebasnya tetapi kupu-kupu yang berterbangan lebih didominasi yang berwarna kuning pucat dan tidak begitu banyak, lebih banyak sudah dijual dalam bentuk awetan di pigura. Tak jauh dari pintu masuk kami disambut kolam Jamala yang kata guide setempat adalah kolam enteng jodoh. Sempat Aku dan Dewi mupeng kepengen terjun demi suatu tujuan itu, tapi lagi malas berbasah-basah kami pun menuju air terjun tak jauh dari sana.

???????????????????????????????

??????????????????????
Agent Bond #ya kali..
???????????????????????????????
Air terjun di Bantimurung

 Hari itu banyak pengunjung yang mandi dan berenang di sekitar air terjun, suasana hiruk pikuk dipenuhi orang-orang berenang menggunakan ban karet dan keluarga yang menggelar tikar berpiknik di bawah pohon rindang dekat air terjun. ke arah atas nampak undakan anak tangga yang di depannya di promosikan ada goa dan danau kecil bernama Toakala yang berair biru hijau di bagian atas, sebagian dari kami sudah langsung pergi menuju spot yang lebih menantang itu yang jaraknya sekitar 1.2 km ke atas. Akupun tak mau ketinggalan segera menuju kesana. Entah karena keasikan ambil foto aku terpisah dari rombongan dan menyadari di tengah perjalanan semakin sepi, jalan setapak di pinggiran sungai berwarna biru itu semakin ditingkahi suara serangga, hewan pengerat hutan yang bergemuruh sahut menyahut dan kadang melolong tinggi karena pengaruh gema. Tiba-tiba kulihat sesosok wanita muda tersenyum di arah beberapa meter di depanku, sempat bergidik kaget tapi ternyata wanita muda itu adalah penjaga warung di sepanjang jalan pinggir sungai, dia tersenyum seraya menawarkan minuman kemasan kepadaku. Ohh..lega..kupikir sudah masuk ke dunia lain >.<

???????????????????????????????
Aliran sungai menuju danau

Akhirnya kudengar suara tawa segerombolan pengunjung, nah itu rombonganku sedang berfoto di danau Toakala. Airnya berwarna biru hijau segar dengan tepian pasir berwarna putih. Maju terus ke arah depan terletaklah goa yang di promosikan di bawah tadi. Profil goa batu kering dengan banyak stalagmit dan stalagtit, hanya sebentar kami menelusuri goa dan yang menarik perhatianku adalah kelompok kelelawar yang menggantung di langit goa. Mereka sedang tidur siang. Di dalam goa di jaga oleh 2 orang pemuda yang seakan menjadi guide tidak resmi, di akhir penjelasannya tentang goa mereka minta diberi uang seikhlasnya. Seharusnya layanan guide dibuatkan aturan standar dan resmi, rasanya lebih nyaman, kita dapat memutuskan akan memakai jasa guide atau tidak sepanjang perjalanan. Dari kolam Jamala sampai air terjun, banyak sekali anak-anak muda yang mendekat minta dijadikan guide. Kurang nyaman rasanya mereka membuntuti kita walaupun kita sudah menolak jasa guide dari mereka.

???????????????????????????????
Danau biru hijau Toakala
??????????????????????
Baby bat and family get take a nap

Beres eksplore Bantimurung kami melanjutkan perjalanan ke spot unik yang dalam obrolan itinerary disebut-sebut sebagai miniatur Ha Long Bay-nya Indonesia. Deretan bukit limestone karst besar di suatu perairan pasti jadi petualangan asyik bisa mengarunginya dengan perahu. Miniatur Ha Long Bay itu dikenal dengan Rammang Rammang karst karena terletak di desa Salenrang dusun Rammang Rammang kabutaen Maros. Perjalanan berjarak sekiar 71 km di tempuh selama 1.5 jam. Dalam perjalanan kami melewati pabrik semen Bosowa yang tentunya dekat dengan sumber daya alam terbesarnya limestone dari bukit-bukit di Maros yang memiliki potensi bahan pertambangan dan galian. Melihat lumayan banyak perusahaan tambang karst yang berdiri menjadikan kita perlu mawas akan kelestarian ekosistem karst di Maros. Apalagi keindahan Rammang Rammang Karst sudah mulai terdengar gaungnya di kalangan pecinta traveling Indonesia. Lebih baik dipikirkan untuk tujuan pengembangan pariwisata.

Sore itu kami tiba di tepian dermaga perahu boat dusun Rammang Rammang. Apa karena kami datang sudah pukul 15.30 sore sehingga spot wisata itu sepi, tidak ada tempat parkir mobil khusus yang ramai seperti dalam bayanganku. Kedua mobil rombongan kami hanya ambil parkir di tepi jalan. Dermaga perahu kecil itu sudah di sponsori oleh iklan salah satu provider telekomunikasi. Lumayan mengganggu buat background foto sih :-D. Dua perahu boat kecil siap mengantar rombongan berkeliling. Travelbandits berada dalam satu perahu yang terus terang aku agak kuatir ini perahu kelebihan beban kerja gak ya? Daeng pengemudi perahu adalah penduduk setempat yang berpembawaan sederhana dan ramah khas asli penduduk pedesaan. Bagian pertama dibuka dengan deretan tanaman Nipah, suasananya seperti delta sungai Mekong Vietnam. Tak lama perahu melaju mulai tampak eksotisme jejeran batu karst yang menjulang tinggi rendah, warna putih tulangnya berbaur dengan birunya langit dan kehijauan tumbuhan yang melekat pada dinding karst. Kesan eksotis menguat ketika kami melewati rumah penduduk yang berupa rumah panggung terbuat dari kayu, batang dan rumbia nipah sebagai atapnya. Setelah melewati celah karst yang menyempit dan menyerupai atap goa yang terbelah di atasnya perahu dihentikan oleh Daeng. Rupanya kita dibawa menuju the best spot untuk mengambil foto bukit Rammang Rammang karst.

???????????????????????????????

?????????????????????? ????????????????????????????????????????????????????? ????????????????????????????????????????????OLYMPUS DIGITAL CAMERA ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Kami semua terpana akan keanggunan bukit karst yang bersanding dengan alam khas pedesaa, sebatang pohon kelapa yang tinggi menjulang, rumah pangung yang seakan sedang bercermin melihat keelokan dirinya pada pantulan bayangan di perairan.

Day #1 pada trip kali ini merupakan hidangan pembuka di antara rentetan jadwal tour yang padat. Selepas sore kami menuju ke kota Makassar lagi untuk bersantap malam dan pada pukul 21.00 akan melanjutkan perjalanan ke Rantepao Toraja. Santap malam kami adalah mie Titi dan nasi goreng merah merona. Untuk konsep mie Titi kami sudah tidak asing lagi dengan mie kering disiram capcai kuah hanya sedikit berbeda mie nya lurus kecil, tapi nasi gorengnya itu merah merona kami baru lihat dan rasanya cenderung manis. Porsinya buesarrr, sepertinya untuk takaran makan wanita, satu porsi Mie Titi bisa untuk 2 orang dan nasi goreng yang menggunung dalam piring itu bisa untuk 4 orang 😀

20131018_18180520131018_182006

Daeng pengemudi Avanza terakhir mengantarkan kami ke sebual pool bus untuk menuju Rantepao Toraja yang berjarak 326 KM dan akan ditempuh selama kurang lebih 9 jam. Bus yan kami pakai Metro Permai. Jadi malam itu kami tidur di bus dan kursi busnya memang super tebal bin empuk. “So fluffy things!” Seru Ade kegirangan. Di bagian bagasi kabin tersedia colokan untuk charge hape dan baterai kamera kita, namun tetap berhati-hati ketika bus berhenti di sekitar terminal atau pom bensin, maka pedagang buah dan makanan oleh-oleh pun ikut masuk menwarkan dagangannya dalam keadaan bus gelap. Wahh bus malam Willer bus Tokyo-Kyoto masih kalah desainnya nih, waktu itu pagi hari di Kyoto kakiku bengkak sehabis turun dari bus malam. Kursi busnya memang Puewe banget bikin tidur lelap, terbukti pagi hari sampai di Rantepao kakiku tidak bengkak. Energi untuk eksplore Toraja hari ini sudah hampir siap.

20131018_195649
Seat empuk di bus Metro Permai
20131019_044755
Bus Metro Permai
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s