Bermalam di rumah Orang Kanekes, Baduy Dalam


Hopp.. kujejakkan kaki dengan mantap ke atas peron di lantai 2 stasiun. Waktu menunjukkan pukul 6.40 pagi, sinar mentari mulai menerobos belantara beton di Jakarta. Komuter line yang membawa aku dari Bekasi sudah sampai di stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pandanganku langsung melihat ke sekeliling mencari segerombolan anak muda dengan backpacker kerilnya. Ya, pagi ini aku janjian dengan suatu komunitas travel agent ala backpacker yang akan mengadakan trip ke Baduy Dalam di daerah Banten. Kakiku melangkah pasti menghampiri sekumpulan anak muda dengan backpacker mereka yang ditaruh di atas lantai 2 stasiun di peron terdekat dengan tempat berhentinya keretaku.

“Mau ke Baduy kan?” Tanyaku ramah.

“Iya, bener. Ini lagi nunggu teman-teman yang lain” Seseorang di antara mereka menjawab ramah.

Aku yakin ini teman-temanku di group whatsapp (WA), karena jumlah peserta mencapai 30 orang, panitia travel agent membuat group whatsapp untuk membuat persiapan dan media diskusi untuk peserta. Di group itu sering juga bercanda seru tentang traveling, hal yang lagi hits. Walau kita belum pernah bertemu muka tapi obrolan di group WA membuat langsung akrab pas bertemu seperti suasana pagi ini. Obrolan dimulai dengan berkenalan nama, tinggal dimana dan kerja dimana. Aku menyalami tak kurang dari 7 orang teman baru cewe dan cowo. Kebanyakan memang mereka adalah karyawan seperti Aku yang ingin berlibur dan berpetualang di hari wiken dengan biaya yang murah meriah jadi memang lagi musim trip ala backpacker dengan tujuan tempat yang bisa dijangkau dalam perjalanan wiken saja dekat dari Jakarta.

“Kamu sudah sarapan Ta?” Tanya seorang teman baru sambil menyodorkan risol dan lontong oncom. “Ini sarapan dulu bareng-bareng”

“Makasih, hehe..emang belom sarapan nih”, Kuambil satu lontong oncom yang lumayan jumbo dan satu risol yang masih hangat. Sambil terus mengobrol menunggu teman-teman yang lain Aku menikmati sarapan gratis ini dengan enak. Baek banget deh ni teman-teman baru 🙂

Tiba-tiba aku dikagetkan suara ringtone hapeku. kuangkat nada panggil yang masuk

“Mba, dah dimana?” Tanya Ucup salah satu panitia travel agent.

“Lagi makan lontong Cup. Kamu dimana? Gw dateng sebelum jam 7.00, tapi kok belum liat elo? Gw di lantai 2 nih”, Ujarku menjelaskan posisi.

“Kelompok kita kumpul di lantai satu dekat mesin ATM yang berjejer!”, Ucup tak kalah bingung.

“Jiahh, ini bukan dari Ants yang sama gw sekarang ya. OK gw samperin elo” Langsung kututup telpon karena berasa keselek risol.

“Eh, makasih ya lontong dan risolnya. Ternyata group gw ada di lantai satu” Dengan memamerkan senyum nyengir kuda aku pamit teratur dari group pemberi sarapan pagi ini.

Dan ternyata dari lantai 2 stasiun Tanah Abang tidak bisa langsung turun ke lantai satu. Sistem yang aneh dan merepotkan! Gak tau deh klo keadaan sekarang, Aku memang jarang naik komuter hanya special occasion seperti sekarang. Yang ada Aku berjalan sendiri ke arah belakang stasiun melewati jalan sepanjang peron untuk mencari pintu keluar dan dilanjutkan berjalan ke arah depan stasiun yang trotoarnya hampir tidak ada disesaki oleh pedagang kaki lima yang menjual jajan pasar, nasi uduk, aneka menu sarapan, tukang ojek, angkot yang ngetem. Wahh jadi backpacker di Jakarta jauh lebih menantang daripada di negara tetangga yang sudah lebih teratur.

Nah, itu dia aku melihat Dewi seorang teman yang sebelumnya ikut pendakian ke Mahameru di dekat mesin ATM. Lama menjelang berangkat muncul juga Ade dengan kerilnya yang sedang dalam fase moveonisasi ikut dalam trip kali ini 🙂 dan dimulailah perkenalan sebenarnya dengan group Ants Adventure yang akan membawaku bermalam di Baduy Dalam.

Kereta Ekonomi ke Rangkasbitung ini sudah dilengkapi AC sekarang. Dengan harga tiket yang sangat terjangkau, sudah lumayan juga fasilitasnya sekarang ini ruangan gerbong bersih dan ada colokan listrik buat charger HP. Panitia mengatur tempat duduk untuk 30 peserta. Suasana segera mencair, peserta saling kenalan dan mengobrol sambil di absen satu persatu. Perjalanan kereta memakan waktu 1.5 jam ke Rangkasbitung dan diteruskan naik elf selama 2 jam ke Ciboleger. Jalan menuju Ciboleger sudah sebagian beraspal, tetapi masih banyak juga jalan yang kondisinya sudah rusak. Beberapa perbaikan jalan sedang dilakukan, tapi tak urung elf terguncang dengan hebat di beberapa jalan yang kondisinya rusak. Mendekati Ciboleger elf di hentikan di tengah jalan oleh seorang pria bertubuh kecil berbaju hitam dan berkain sarung selutut, tiba-tiba dengan gerakan ringan pria kecil itu sudah nangkring di atas atap elf. “Orang Baduy Luar”, Ujar Eza salah satu team Ants menjelaskan. “Kalau orang Baduy Dalam gak boleh naik kendaraan dan bahkan alas kaki. Konsekuensinya mereka akan dikeluarkan dari kampung Baduy Dalam”, tambah Eza. Wadohh berat banget yah syaratnya. Jadi apakah orang Baduy Dalam sangat terbatas dalam bepergian dan gak bisa pergi jauh dari kampungnya? Mari kita cari tahu lebih lanjut 🙂

Elf berhenti di sebuah alun-alun desa dengan sebuah tugu dengan patung putih keluarga petani dengan dua anaknya. Rombongan yang terdiri dari 2 elf itu sampai Di Ciboleger. Rumah di Ciboleger sudah merupakan rumah modern dari beton dan bagus. Alun-alun Ciboleger itu juga berfungsi sebagai terminal kecil tempat pemberhentian mobil para traveler yang berkunjung ke sana. Perjalanan ke Baduy Luar maupun Baduy Dalam harus ditempuh dengan berjalan kaki. Setelah makan siang di warung dan sholat dzuhur, pendakian pun dimulai. Group kami dipandu oleh beberapa orang Baduy Dalam yang juga berperan sebagai porter dan penunjuk jalan. Suku Baduy ini bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten. Desa yang kami tuju adalah Cibeo, kalau dilihat dari peta desa Cibeo adalah pemukiman Orang Kanekes atau Baduy Dalam terdekat sebelum Cikartawana dan Cikeusik. Jika dilihat dari Google earth Cibeo berjarak sekitar 6 km dari Ciboleger, tetapi medan yang kami lewati lumayan berat buatku dengan banyaknya tanjakan dan turunan yang lumayan curam. Yang aku ingat mulai jalan dari Ciboleger sekitar jam 1 siang dan sampai ke Cibeo menjelang magrib, ini mungkin standar pendaki awam sepertiku yang diselingi kejadian terpeleset karena sudah kelelahan :-D.

Alun-alun Ciboleger dengan  patung keluarga tani
Alun-alun Ciboleger dengan patung keluarga tani

20140125_121850

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Remaja Baduy
Remaja Baduy

2019275p

Info tentang Cibeo dari Google Earth
Info tentang Cibeo dari Google Earth
???????????????????????????????
Memasuki wilayah Baduy Luar

???????????????????????????????

Anak Baduy memang banyak yang lucu
Anak Baduy memang banyak yang lucu
Menenun sarung
Menenun sarung
Kain batik motif Baduy
Kain batik motif Baduy

??????????????????????

GFF (Galau Friend Forever) Ita vs Ade
GFF (Galau Friend Forever) Ita vs Ade

???????????????????????????????

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Memasuki wilayah Baduy dalam berlaku larangan untuk memotret apapun di sana, alat komunikasi dan elektronik lainnya dilarang diaktifkan. Kalau saja aku boleh merekam suara yang kudengar ketika melewati ladang padi huma dekat pusat lumbung padi, wahh…ada suara musik dari bambu dan lesung yang bertalu terdengar berirama merdu dan menggema dipantulkan oleh bukit-bukit dan ruang kosong yang berkontemplasi seirama di dalamnya. Musik alam yang megah tapi tersembunyi di tengah keterasingan, hanya bisa dinikmati oleh para traveler yang berkunjung ke Baduy Dalam.

Kami menginap di rumah penduduk Baduy dalam, tidur di atas lantai bambu yang disusun berjajar di atas rumah panggung kayu. Bilik anyam bambu memberikan kesejukan di malam hari, kami tidur nyaman di dalam sleeping bag. Lampu tidak boleh digunakan, lilin boleh menyala seperlunya. Untuk keperluan ke toilet di malam hari kami boleh menggunakan sungai di depan desa dan boleh menggunakan head lamp. Memang pendatang seperti kami sedikit melanggar aturan yang ada. Tempat mandi ada di belakang desa, berupa jejeran beberapa pancuran kecil yang ditampung di atas alung batu besar tempat menumbuk padi. Makan malam dan makan pagi kami dimasak oleh penduduk Cibeo. Untuk para traveler ini mereka sudah menggunakan styrofoam dan sendok plastik. Acara malam itu adalah bercengkrama dengan orang Baduy, makan malam dan makan duren dan belanja..Apa? Belanja? Yaa..Orang Baduynya sendiri menawarkan syal, gelang, bahkan baju hitam dengan hiasan sulam seperti yang mereka pakai. Harganya untuk syal 50.000 rupiah baju hitam lengan panjang dihargai 200.000 rupiah, tapi aku tahu karena ini dibuat dengan alat tenun bukan mesin. Bintang malam itu adalah Syapri pemuda Cibeo yang ganteng dan imut, semua berpikir Syapri baru berumur 15 tahun, ternyata umurnya sudah 23 tahun dan sudah beranak satu. Orang Baduy memang menikah di usia muda belia karena mereka menerapkan isolasi dari dunia luar seperti tidak menggunakan alat modern dalam kehidupan mereka sehingga banyak dari mereka buta huruf dan menikah di usia muda. Tetapi sedikit demi sedikit pengaruh modernisasi mulai menyentuh mereka. Syapri dan beberapa kawannya yang biasa menjadi pemandu para traveler sudah pernah ke Jakarta, biasanya mereka mengunjungi dan diundang orang yang pernah menjadi tamu mereka dan menjadi bersahabat. Sebut saja Pondok Indah Mall, Plaza Semanggi, bahkan mereka pernah merasakan nonton di XXI, makan di top roof dan menginap di hotel berbintang lima di Jakarta. Aturan dari Pu’un atau ketua adat yang tetap mereka pegang adalah tidak menggunakan alas kaki dan berjalan kaki menuju Jakarta…Woww. Beberapa kata gaul pun terlontar dari mulut Syapri “Beneran kak ini baju hitamnya kayak jaket klo dipake keren bingit!” Halahh..

Pagi menjelang di Cibeo, kehadiran sinar mentari kami sambut dengan gembira karena semalaman hanya bergantung pada nyala pelita kecil. Aku dan beberapa teman menyempatkan diri berkeliling desa sebentar. Di depan beberapa rumah di Cibeo warganya membuka warung kecil, arus modernisasi memang susah untuk dibendung, terdapat jajanan anak-anak seperti cokelat, permen dan chiki seperti yang beredar di kota. Seorang pemuda Cibeo yang menemani kami berjalan pagi bercerita tentang Pu’un ketua adat yang sangat dihormati dan disegani, semua petuah dan petunjuknya mereka ikuti. Sedangkan Jaro adalah kepala desa merupakan perwakilan dari Pu’un yang akan menyampaikan petuah dan petunjuk dari Pu’un langsung ke masyarakat Baduy Dalam.

Si ganteng nan imut Syapri
Si ganteng nan imut Syapri
Pemandangan di sekitar Cibeo
Pemandangan di sekitar Cibeo
Melewati danau di tengah jalan pulang
Melewati danau di tengah jalan pulang

???????????????????????????????

???????????????????????????????
Kampung di Baduy Luar

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Andri dan Arga duo maut
Andri dan Arga duo maut
Kaki yang kuat itu
Kaki yang kuat itu

???????????????????????????????

Kain hasil tenun untuk cindera mata
Kain hasil tenun untuk cindera mata
20140126_121142
Salah satu alasan ke Baduy adalah untuk beli sepatu baru
20140126_121749
Makan Bakso dulu sehabis turun dari Baduy dalam
Bersama rombongan sahabat Ants AdvenTour
Bersama rombongan sahabat Ants AdvenTour

Perjalanan pulang dimulai pukul 8 pagi karena kami harus mengejar kereta dari Rangkasbitung menuju Jakarta sekitar pukul 2.00 siang. Sampai di Ciboleger menjelang jam 12 siang, kami bisa bebersih di masjid atau menyewa kamar mandi penduduk sekitar alun-alun Ciboleger. Sesampainya elf di Rangkasbitung, rupanya kereta ekonomi ke Jakarta ada yang datang. Kami tidak mendapatkan kereta ekonomi seperti waktu berangkat, kereta ini akan turun di stasiun Palmerah, tempat duduknya terbatas dan kami tidak dapat membeli tiket dengan nomor kursi. Berdiri di kereta selama perjalanan Rangkasbitung-Palmerah bukan perkara mudah, apalagi kami cukup lelah setelah 2 hari pendakian ke Cibeo, belum lagi kereta ini disesaki pengamen, aneka jenis dagangan asongan mulai dari buah, makanan ringan, aneka mainan anak, handuk, jam tangan sampai assesories rambut wanita. “Lontong, tahu, risol..hangat..hangat!” Sesosok tubuh tambun dengan baskom besar di depan perutnya menyeruak di antara penumpang, berdesakan menyenggol badanku dan membuat kakiku kehilangan pijakan untuk sesaat. “Fiuhh…sabar..sabar, sebentar lagi sampai”, Ucapku pelan dalam hati. Kudapatkan pijakan kaki lagi di atas lantai kereta. “Siti, ntar klo gw kawin elo datang yak!” Sesosok tubuh ikut menyusul menyeruak menyusul Siti sang pedagang lontong. Tank top merah, tas merah marun senada, topi kupluk abu dan seuntai kalung mutiara putih yang dipakai wanita yang lewat di depanku langsung mencuri perhatian semua orang. “Iyah, ntar gw dateng”, jawab Siti sekenanya. “Eh beneran elo dateng, laki gw cakep nyang kali ini”, desak wanita tank top merah yang kemudian berhenti 20 langkah dariku dan berdiri dekat Ucup. Aku hanya saling pandang dengan Ade, Arga dan Andri. Nah tiba-tiba muncul ide gila Arga yang mungkin melihat teman-temannya lemas butuh penyemangat.

“Ndri, gw panggilin dya yah” mata usilnya berbinar.

“Jangan ah ngeri lo ntar dya marah”, ujarku mencegah.

Tanpa menunggu persetujuan yang lain Arga bergegas mendekati wanita itu, berkomunikasi seakan menyampaikan pesan dari Andri.

“Namanya siapa Ga?” Andri berteriak ke arah depan.

Wanita bertank top langsung menjawab, “Nama saya Yanti..Yanti Octavia!”, sambungnya.

“Masih sendiri apa udah ada yang punya?”, timpal Arga di sebelahnya menyelidik.

Wadohhh..yang ada kami yang lain pasang muka pura-pura gak kenal sama Arga dan Andri, duo rusuh itu. Aku sendiri takut klo si wanita tank top tiba-tiba tersinggung atau mengamuk. Tapi sejurus kemudian tanya jawab jarak 20 langkah itu berlangsung seru dan membuat separuh gerbong menyimak serius., terkadang diselingi balas pantun gombal dari kedua belah pihak.

“Yanti punya tanah banyak luas bang, hasil dulu berangkat ke Arab”, terang Yanti dan berbagai celotehnya yang mengundang senyum simpul para penumpang. Session foto pun dilakukan, beberapa juru kamera mendekat. Arga dengan luwes mengeluarkan pose terkerennya bersama Yanti Octavia. Sampai saatnya tiba stasiun tujuan Yanti sudah tiba, dengan khidmat mereka pun mengucapkan perpisahan. Fiuhhhh…semua orang lega Yanti Octavia dapat turun dengan selamat tanpa terjadi suatu insiden. Begitu pula dengan rombongan kami yang mendarat selamat di stasiun Palmerah. Pengalaman bertemu dan bermalam dengan saudara-saudara di Baduy sangat berkesan.

Arga vs Yanti Octavia
Arga vs Yanti Octavia
Baju Baduy untuk hang out di Jalan sabang
Baju Baduy untuk hang out di Jalan sabang
Advertisements

9 thoughts on “Bermalam di rumah Orang Kanekes, Baduy Dalam

    1. Iyah trekkingnya lumayan melelahkan, untung kemarin tidak turun hujan waktu ke sana, kalau hujan lebih sulit lagi. Terimakasih sudah main ke sini 🙂

      Like

  1. asdwjklasdflabjhfnabslkjdfasldnfalsdf

    gak tau deh mbak mau ngomong apa. hahahaha

    bekgron blognya cakep, 😀
    ceritanya, seruuuu
    apalagi baduy dalam. keren bingits

    gini dulu deh komennya, entar kalo baca lagi dan lagi baru komen lagi hahaha

    Like

    1. Makasihhh..ini baru belajar..masi gaptek bgt klo setting ada yg berubah atau gak sengaja keubah..hehehe..klo jepret juga cuman pake Automatic..halahh diajarin pake manual di camdig gak mudeng2..hehe..

      Like

    1. Iyah harus di coba itu yg deket2 selain bagus wisata wiken sekitaran jakarta dan banyak nambah temen baru klo ikut open trip 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s