Raun-raun dari Medan sampai Samosir #1


Chapter 1. Travelbandits Conference Call by Skype

Beberapa orang traveler dari kota dan tempat yang terpisah melakukan suatu konferensi untuk merencanakan sebuah trip ke Sumatra Utara.

“Ta nyalain skype lo. Gw sama Ester dari kost kita join conference call sama Tommy dari Pati.”

“Sekarang!”, tulis Yeni bersemangat di messagenya.

Aku malam itu yang sedang leyeh-leyeh di kamar sepulang kerja dengan segan mengaktifkan skype di tablet ipad. Ku lihat di layar sudah ada Yeni dan Ester berada di kamar kost, dengan posisi seperti duo Shinta-Jojo mau upload video ke Youtube 😀

“Mana Tommy?” tanyaku

Sejurus kemudian muncul gambar pemuda berkaos coklat, “Hai Ta! ini gw Tommy”, sapanya ramah.

Baru kali ini aku chatting by Skype dengan Tommy, dia adalah kawan kuliah Ester di Semarang. Menurut info isi otaknya sama dengan kita-kita backpacker travelbandits ..ahahaha..Maka dimulailah conference call itu dengan riuh rendah membicarakan jumlah peserta dan mau bertemu di mana di Medan nanti.

–info traveler embarkasi Jakarta–

“Gw dari Jakarta berempat, tapi flight Ester beda sendiri, lebih siang. Cewe 3 cowo 1 dari Jakarta”

–info traveler embarkasi Semarang–

“Aku dari Semarang flight berdua sama Benny. Satu cowo satu cewe.”

“Siapa yang cewe?” tanya yang lain. “Benny aka Dik Sri aseli cewe”, pungkas Tommy. “Jam kedatangan kita di Medan sama dengan Ester”

–Info traveler Tarutung via Ester–

“Dewi kawanku akan jemput kita di Samosir, kami akan ke Tarutung. Berdua dia dengan temannya cowo”

 Chapter 2. Unplanned Home to Stay

Touch down kota Medan via Polonia. Aku, Yeni dan Charlie traveler embarkasi Jakarta melonjak kegirangan, hari masih pagi jam menunjukkan pukul 10.00 kurang, kami bermaksud menuju mal di pusat kota. Alamakk..taxi burung biru di sini menggunakan harga tembak tidak mau pakai argo, setelah sepakat kami pun berangkat menuju pusat kota.  Tujuan pertama adalah istana Maimun yang merupakan istana peninggalan Kesultanan Deli, beruntungnya kami di hari kunjungan itu disambut oleh pertunjukkan musik melayu dari 3 orang musisi di depan pintu masuk Istana Maimun. Irama musik melayu yang melangut indah datang dari petikan gambus, gesekan biola, tingkahan rebana yang berdendang dan picitan akordion yang mendayu-dayu.

IMG_2313 DSC_0076 IMG_2314

Disambut alunan irama Melayu
Disambut alunan irama Melayu

Memasuki bangunan utama Istana, suasananya sejuk. Warna didominasi oleh kuning emas dan aksen hijau. Kesultanan Deli mencapai puncak kejayaan di bawah pimpinan Sultan Ma’moen Al Rasyid, Sultan Deli IX (1873-1924). Di era Sultan Deli IX ini istana Maimoon dibangun. Desain interior Istana Maimun merupakan perpaduan dari budaya Melayu dan sentuhan gaya Islam, India, Spanyol dan Italia karena dilihat dari asal-usul budaya Kesultanan Deli dan pada masa itu Deli terkenal sebagai penghasil tembakau terbaik di dunia sehingga jalur perdagangan internasional sedikit banyak mempengaruhi gaya arsitektur Istana maimun.

Interior Istana Maimun
Interior Istana Maimun

IMG_2299

Bagian Istana yang dihuni oleh kerabat
Bagian Istana yang dihuni oleh kerabat

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Mendekati Dzuhur kami pergi ke Masjid Raya Medan yang jaraknya hanya 100 mtr dari Istana Maimun dan juga merupakan peninggalan Kesultanan Deli. Masjid dengan gaya arsitektur Maroko ini arsiteknya seorang Belanda A.J. Dingemans. Keren buat berfoto :).

???????????????????????????????
Great Mosque Medan
???????????????????????????????
Interior Great Mosque Medan

Selepas Dhuzur kami belum juga bertemu dengan rombongan traveler embarkasi Semarang, maka kami bertiga memutuskan makan siang di Tiptop. Dari Masjid Raya Medan kami naik satu becak motor buat bertiga, Aku dan Yeni duduk manis di dalam becak bertudung itu dan Charlie ikut nangkring di bonceng Abang bentor. Sungguh sebuah moment penghematan :-D.  Makan siang di Tiptop dengan suasana yang masih asli jadul, pelayannya memakai kopiah hitam dan menu yang disediakan antara lain masakan khas peranakan warisan Belanda dan Tionghoa. Lokasi Restoran Tiptop berdekatan dengan Tjong A Fie mansion, rumah antik besar kepunyaan saudagar dan pengusaha besar Tjong A Fie pada masa Kesultanan Deli berjaya.

Suasana jadul di sepanjang Kesawan Medan
Suasana jadul di sepanjang Kesawan Medan
Resto Tempo Dulu TipTop
Resto Tempo Dulu TipTop
Gerbang rumah Tjong A Fie
Gerbang rumah Tjong A Fie

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Koko Charlie di depan rumah
Koko Charlie di depan rumah

???????????????????????????????

Menjelang sore kami mendapat info Ester, Tommy dan Benny sudah ada di kota Medan dan telah berkeliling di Istana Maimun, kami sepakat bertemu di sana dan akan pergi makan malam bersama.

Diskusi di warung kaki lima
Diskusi di warung kaki lima

Rombongan traveler sudah mencapai 6 orang ini dan belum tahu malam ini akan menginap dimana. Setelah ngobrol sepertinya rombongan ini akan terbagi menjadi 2:

  • Rombongan pertama yang terdiri dari Aku, Yeni dan Charlie akan bermalam di hotel depan Tiptop, 200ribu permalam untuk satu kamar ber AC dan kamar mandi dalam juga Free Wi Fi rasanya cukup beralasan.
  • Benny mempunyai kenalan di Medan yang langsung akan mengantarkan mereka ke Samosir malam ini, di sana mereka akan dijemput Dewi untuk eksplore Samosir dalam setengah hari saja dan dilanjutkan menuju Tarutung.

Chapter 3. Trip to Samosir Island

Sesuai rencana pagi itu Aku, Yeni dan Charlie berangkat dari hotel di Jalan Ahmad Yani, Kesawan untuk menuju terminal bus Amplas. Tepatnya pada waktu itu kami tidak tahu terminal Amplas, hanya kami bilang pada Abang Bentor mau ke Samosir, dibawanya kami ke pool elf dan bis antar kota antar propinsi dan di dropnya kami di sebuah kios elf yang akan membawa kami ke Parapat piggiran Danau Toba.

Travelbandits goes to Samosir!!
Travelbandits goes to Samosir!!

Ongkos elf Medan-Parapat murah sekali, untuk 4-5 jam perjalanan hanya 20.000 rupiah pada waktu itu. Elf ini tujuan akhirnya adalah Tarutung maka ongkos sampai Parapat jatuhnya lebih murah. Tapi Alamakkk..Ito kernet elf kami selalu menambahkan penumpang di jalan dengan bawaan mereka yang banyak dan volumenya segede gaban. Bayangkan saja ketika berangkat dari pool semua kursi penumpang hampir sudah penuh terisi, 30 menit kemudian di sebuah terminal kecil pinggir kota naiklah Namboru dengan karung-karung berisi pakaian dagangan untuk di jual ke Sei Rampah. Aku duduk bersama yeni dan bangku kami pun diisi penuh 3 orang penumpang. Charlie duduk sendiri di seat depanku, yang berharap mendapatkan kenalan baru (cewe donk) di perjalanan ke Parapat ini akhirnya mendapat teman sebangku Opung Boru yang sibuk menguyah sirih dan inang tembakau..Bahhh..tak disapanya pula Abang Charlie ini 😀

IMG00452-20120517-0952

Penambahan penumpang terus dilakukan oleh Tulang yang menyupiri elf dan Ito kernet. Jika melihat tampilan orang yang berdiri di pinggir jalan dengan tas dan karung-karung besar, Ito kernet berteriak dari kaca jendela elf,

“Perbaungan! Perbaungan! Tebing Tinggi! Balige! Balige! Tarutung! Tarutung”

Begitu calon penumpang melambai Tulang supir seraya menghentikan laju elf, Ito kernet bergegas membuka pintu dan dengan sigap cekatan menumpung karung-karung besar bawaan penumpang ke bagian dalam elf kami yang masih terlihat lantai. Seorang penumpang lelaki muda yang bertubuh kecil harus mau duduk di atas tumpukan karung itu. Kompak sekali Lae!

Mendekati Parapat Aku terbangun dari tidur dan kubuka mata melihat keluar jendela. Kami sedang menyusuri sisian Danau Toba! Indah nian! Mata ini tersegarkan dengan pemandangan deretan bukit hijau dan danau yang luas sekali, jalan berkelok-kelok dan naik turun. “Yeni, Charlie, sumpah ini lebih bagus dari Nami Island!”, ujarku spontan karena terkagum-kagum Hehehe..

Toba Lake here we come!
Toba Lake here we come!

Turun dari elf kami belum tahu lagi harus kemana, berbekal tanya kami pun naik angkot menuju penyebrangan Tiga Raja untuk mengambil kapal menuju TukTuk daerah di Samosir yang banyak terdapat penginapan. Kapal Ferry yang kami tumpangi mulai meninggalkan penyeberangan Tiga Raja. Kami semakin terkagum-kagum dengan Danau Toba. Udara cerah, segarnya air danau dan jejeran bukit-bukit tinggi hijau menjadi pemandangan menuju Pulau Samosir. Wahh memang kami belum reservasi hotel untuk di Samosir, hanya berharap masih ada penginapan yang harganya terjangkau untuk kami menginap di Samosir…

Menyebrang dari Tiga Raja
Menyebrang dari Tiga Raja

???????????????????????????????

Di atas kapal penyebrangan ke TukTuk
Di atas kapal penyebrangan ke TukTuk
Bocah-bocah penyelam koin di atas kapal menuju TukTuk Samosir
Bocah-bocah penyelam koin di atas kapal menuju TukTuk Samosir

 

Advertisements

2 thoughts on “Raun-raun dari Medan sampai Samosir #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s