Jelajah Gunung Pusuk Buhit sampai Pantai Pasir Putih Parbaba Di Samosir #2


Chapter 4. Exploration of Batak Culture in Samosir

Punggung Pegunungan bukit barisan berdiri tegak seolah membendung air di dalam danau raksasa ini, baling-baling mesin kapal ferry bekerja menggerakkan kapal dengan kecepatan yang cukup nyaman untuk menikmati pemandangan danau Toba di hari yang cerah itu. Kapal sudah hampir merapat ke tepian di TukTuk, tampak beberapa hotel dan cottages dari berbagai kelas kebanyakan mengambil desain atap Rumah Bolon dengan ujung atap yang melengkung pada bagian depan dan belakang. Untuk trip kali ini kami belum melakukan reservasi penginapan dan transportasi untuk di Samosir. Di atas kapal ferry seorang pemuda bertubuh kurus yang memakai celana bermuda dengan kaus singlet putih dan berkulit gelap mengajak Charlie mengobrol selepas dari penyeberangan Tiga Raja di parapat, mencoba membuka suasana akrab dan kemudian mengenalkan dirinya sebagai Welly, sampai akhirnya ketika kapal ferry merapat di suatu dermaga kecil di TukTuk kami pasrah saja mengikutinya. Dibawanya kami ke sebuah hotel cottages yang rindang dan cukup luas tak jauh dari dermaga. Ternyata memang Welly adalah local guide dan merupakan pegawai dari Lekjon Cottages yang kami kunjungi ini. Bahkan untuk keliling pulau Samosir keesokan harinya Aku, Yeni dan Charlie memutuskan untuk menyewa mobil rekomendasi dari Welly. Sebuah family car dengan harga sewa 450.000 IDR untuk 12 jam dan seorang supir yang sudah biasa mengantar turis keliling Samosir. Hotel tempat kami menginap mempunyai kamar dan area halaman yang dilengkapi gazeebo di tepian dermaga dengan pemandangan langsung ke Danau Toba, sangat pas untuk menikmati kesyahduan sunrise dan sunset di sana. Sore itu waktu kami habiskan bertiga berjalan-jalan di sekitar cottages dan menikmati sunset dari sebuah restoran kecil dengan desain ala rumah pohon di tepi Danau Toba.

Kapal Ferry dari Parapat penyebrangan Tiga Raja hampir merapat di Tuktuk Samosir
Mulai tampak hotel beratap rumah Bolon di Tuktuk yang cantik
Pilihan hotel ditetapkan di atas ferry, Lekjon Cottage di Tuktuk
Ada bilyard juga di Lekjon
Menikmati sunset di Samosir
Sunset di cafe eksotis

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Keesokan harinya kami bangun dengan keadaan segar, kamar yang kami ambil di Lekjon Cottage ini tidak berpendingin AC tetapi udara malam di Samosir sangat sejuk dan lumayan dingin. Setelah mobil sewaan datang kami langsung check out dari penginapan untuk selanjutnya menjelajah Samosir dari pagi sampai sore nanti.

Yoga di tepi danau Toba..Why not?
Pohon alpukat segar di Cottage

???????????????????????????????

Kami terhipnotis oleh pemandangan indah di sepanjang tepian Samosir yang mengarah ke Danau Toba, segarnya punggung bukit dan air biru danau, ladang padi dengan rumah Bolon, beberapa gereja berwarna putih yang terletak di tengah ladang menjadi santapan pemandangan di Samosir pagi itu. Tujuan pertama adalah Desa Simanindo, kami akan menonton pertunjukan Sigale-gale di sebuah open air museum Huta Bolon Simanindo. Panggung pertunjukan berupa tanah lapang di tengah-tengah deretan rumah bolon di bagian kanan dan kiri lapangan terbuka. Alunan musik khas batak yang diusung dari tiupan seruling sordam dan gendang batak gondang sabangunan. Patung Sigale-gale adalah pahatan kayu dengan sosok lelaki bertubuh jangkung yang konon asal muasalnya bermula dari kisah si Manggale, anak semata wayang dari seorang Raja Batak pada jaman dahulu kala. Sang Raja menyuruh anak lelaki semata wayangnya untuk pergi berperang dengan musuh dan berujung dengan kematian Manggale. Sang Ayah yang terlarut dalam kesedihan tiada berujung, akhirnya berdasarkan saran seorang Datu (tabib) bahwa Raja perlu dihibur dengan dibuatkan patung Sigale-gale yang rohnya akan dipanggil oleh Datu diiringi sordam dan gondang sabangunan, maka menarilah patung Sigale-gale tiada henti selama 7 hari 7 malam. Di malam ke delapan Sigale-gale berhenti menari, Raja pun sudah terhibur hatinya dan tidak lagi larut dalam kesedihan. Saat ini pertunjukan Sigale-gale ditampilkan untuk tujuan wisata,  penonton dapat ikut menari pada suatu babak dalam pertunjukkan Sigale-gale, para pemain akan membagikan kain selendang ulos ke beberapa penonton, maka menarilah kami para penonton dengan gerakan tari Tor-Tor dan diiringi musik Gondang Tor-Tor Tunggal Panaluan. Seru, berkesan dan sangat mencairkan suasana para penonton yang datang dari manca negara.

???????????????????????????????

Di depan salah satu Bolon Simanindo

???????????????????????????????

Penonton menari bersama Sigale-gale
Salah satu babak dalam Pertunjukan Sigale-gale
Sigale-gale menari

    ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Abang supir mobil sewaan kami menyebutkan suatu tempat yang katanya enak dinikmati pada cuaca cerah hari itu di Samosir, namanya Pantai Pasir Putih Parbaba. “Kalian bisa berenang-renang atau naik perahu bebek disana. Pasir pantainya putih dan anginnya segar”, saran Abang kepada kami. Ingin sekali berenang tapi kami tidak mau repot urusan basah dan berganti baju hari itu. Pertama kali ke Samosir ingin sekali menyambangi semua tempat hahaha…bahkan Abang pun menyarankan kami mengunjungi tempat pemandian air panas yang letaknya di gunung Pangururan Pusuk Buhit. Aihh..lengkap sekali Pulau kecil Samosir ini sudahlah eksotis ada pula gunung dan pantai juga air terjunnya.

Pantai Pasir Putih Parbaba di Pangururan
Tempat Pemandian air panas di Pangururan Gunung Pusuk Buhit
Satu makam keluarga terpandang di Samosir

Ekspedisi Samosir oleh Trio travelbandits ini dilanjutkan ke Huta Siallagan yang terdapat batu kursi Raja Siallagan. Batu kursi ini terletak di tengah kampung di bawah pohon rindang. Batu kursi pada masa lampau digunakan sebagai tempat sosialisasi peraturan adat istiadat juga penetapan hukuman untuk orang-orang yang berbuat kejahatan seperti pencurian, pembunuhan dan lain-lain. Raja Siallagan dikenal sebagai raja yang tegas dan adil, hukuman bagi para pelanggar peraturan dan pelaku kejahatan dimulai dari hukum denda, hukum pasung hingga hukum mati dipancung.

Batu Kursi Raja Siallagan
Perkampungan Huta Bolon Siallagan
Rumah adat Huta Siallagan yang menggambarkan ilustrasi hukum pasung di bagian depan rumah
Ilustrasi hukum pasung di Huta Siallagan

Sebelum mengakhiri keliling Samosir dalam sehari ini kami singgah di makam Raja Sidabutar di Tomok. Banyak makam dan patung batu peninggalan jaman Purba dan Megalithikum di makam Raja Sidabutar, raja pertama Batak yang berasal dari Gunung Pusuk Buhit. Hanya sebentar saja kami melihat area makam keluarga Raja Sidabutar karena sudah ada kabar dari Ester dan Tommy, rombongan yang baru balik dari perjalanan mereka ke Tarutung akan menemui kami di Parapat. Penyebrangan dari Tomok ke Ajibata kembali dilakukan dengan menggunakan kapal Ferry.

Sight Seeing Samosir
Rute Sight Seeing Samosir
Makam Raja Sidabutar
Penyeberangan menggunakan kapal Ferry dari Tomok Ke Ajibata di Parapat

Sore itu kami menuju restoran Singgalang di Parapat untuk bertemu rombongan dari Tarutung. Dilepas oleh senja kemerahan kami akan menuju Brastagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s