Mencari Chapel Bridge di Lucerne


Pagi hari kami sudah siap menanti datangnya jam sarapan pagi pada pukul 7.00 di hotel Guerrini yang berjarak hanya 200 meter dari stasiun Venice St. Lucia di Canaregio area. Kereta yang akan membawa kami ke Milan baru akan berangkat pukul 10.50 pagi, maka setelah sarapan Aku dan Ade memutuskan untuk kembali mencari St. Mark Basilica setelah kemarin seharian berusaha mencari tapi gagal fokus karena bingung oleh lorong-lorong kecil di Venice dan beberapa jembatan kecil yang seakan bentuknya serupa, tetapi gagal fokus sebenarnya di sebabkan oleh acara belanja yang sangat menyita waktu dan tenaga. Tas bawaanku telah beranak, satu buah tas besar dengan roda bermotif world map ala Globe Trotter telah berpindah tangan dari pedagang tas Bangladesh dekat Rialto Bridge ke tanganku seharga 24 EUR.

Setelah mengkoreksi arah dari Rialto Bridge akhirnya kami menemukan St. Mark Basilica dan square nya yang membuat kagum, walaupun beberapa bagian basilica sedang mengalami renovasi. Setelah puas mengeksplore St. Mark Basilica saatnya pulang menuju hotel untuk bergegas mengejar jam berangkat kereta ke Milan. Hari ini Aku dan Ade berencana menuju Lucerne dengan kereta via Milan. Yeni telah berpisah sejak kemarin sore untuk melanjutkan perjalanannya ke Aix Les Bains dengan kereta via Geneva. Lorong-lorong kembali menyesatkan perjalanan pulang Aku dan Ade, kami berdua berusaha mengingat tanda-tanda spesial dari toko yang kami lewati dan lebih tepatnya mampir, berhenti sebentar dan meratapi etalase tempat barang-barang mupengable (bikin mupeng aseli) tersebut dipajang.

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ?????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ?????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

“Ayok De, buruan!” Ujarku sambil mengambil foto miniatur vespa di etalase. “Hadoww malah fotoin and berhenti lagi..Ayokk Ta!” Ade menyeretku.

Beban di punggungku terasa berkurang karena beberapa barang sudah menghuni tas besar dorong world map. Satu buah tas kerja kulit buatan Firenze, sepatu boots bersol tebal yang berat, 8 potong kaos, 2 topi nahkoda, beberapa dompet besar berbahan kulit, 2 KG keju Holland titipan teman di Almere, aneka cindera mata dari Venice, Paris, Pompei, Pisa, Roma tergeletak berdesakan dalam tas dorong, rodanya yang kecil kadang menggelimpangkan badan tas ketika aku berjalan cepat. Sungguh repot! >.< Langkahku bergegas memasuki stasiun Venice Santa Lucia. Pukul 13.30 siang kereta kami sampai di Milan. Perut kami lapar minta diisi, dengan mengejar waktu kami pergi ke kios pizza di dalam stasiun Milano Central. Waktu sudah menunjukka jam 13.50 kereta ke Lucerne akan berangkat 14.10! Dengan tergesa kami berlari mencari peron dan tempat duduk. Tapi duhh..padahal sejak di Indonesia Aku tahu klo tiket terusan antar negara ini setelah dari Milan ke Lucerne aku belum mendapatkan Passenger Name Record (PNR) number, yang Aku pegang hanya PNR dari Venice-Milan. Tapi daripada resiko ketinggalan kereta Aku dan Ade nekat langsung naik kereta Euro city 158 seperti yang tertera pada tiket.

20140531_191026
Tas yang beranak

Di dalam kereta menuju Lucerne kami berkenalan dengan dua pasang suami istri paruh baya yang sedang melakukan traveling. Duduk di depan kami pasangan dari USA, sang suami bernama John karena sang istri selalu dengan mesra memanggil namanya. Duhhh mendengar percakapan mereka bikin hati kecil ini pengen berteriak menjeritkan derita..Akkkk. “John, did you remember our first honeymoon in Venice?”…Bla..bla..bla..super romantis conversation. Air mataku hampir membuncah ku tengok ke kanan, Ade bersiap tidur! Kejam orang nelangsa dibiarkan sendirian.

20140530_175133 20140530_175123

Tak lama datang pasangan suami istri Swiss paruh baya  yang terlihat sibuk hendak memasukkan tas besar mereka ke celah di bagian bawah antara kursi yang saling membelakangi. “Belong tho whom is this bag?” tunjuknya pada Deuter 42 L milikku. “That is mine, Mom”, sahutku hormat. “And this one?” Tunjuknya pada Deuter merah milik Ade di celah yang lain. “Mine, Mom” Jawab Ade gelagapan. “You cannot use 2 places!” Ujarnya bersungut tegas. Aku bergegas mengambil ranselku, sampai Ibu John berkata, “John, please help them”. Dengan sigap John berdiri dan mengeluarkan kopernya yang sebesar kulkas 2 pintu dari celah kursi dengan susah payah. “Ouhh, sorry sir to bothering you” ucapku tak enak. “It is Ok”, senyumnya ramah dan bergegas ke bagian rak kabin di dekat pintu gerbong. Aduh masalah banget yak dulu2an pakai celah kursi, Aku merasa seperti orang yang datang dari dunia ke-3 dan berbuat salah 😦 Beres masalah pengaturan tas, pasangan USA mulai mengajak kami mengorbrol dan benar saja mereka gak tahu apa itu Indonesia, kami dilihat seperti orang dari daerah terpencil, buta pendidikan dan mereka terheran-heran kami bisa berbahasa Inggris. “Did you learn English in School? Your English is very good” Ibu John memuji tapi kebingungan melihat 2 wanita bertampang Indonesia ini. Haedehhh mau nyelem rasanya.

Dan tibalah saat yang membuat mules itu ketika kondektur kereta Milan-Lucerne mulai berkeliling dan akan menscanning PNR pada tiket kami. “You cannot use this ticket. This is not valid for Milan to Lucerne. You do not have PNR number!” Cek kondektur berkumis abu baplang berbadan besar. Muka Aku dan Ade mendadak hijau seperti baru saja makan jamur beracun dari Amazon. “But, we only have this ticket. We already booked from Trenitalia website for whole trip start from Venice-Milan-Lucerne and we didn’t get any PNR number from SBB Bahn, only PNR number form Trenitalia”. Ujarku menjelaskan. “You must get off on the next station to get the PNR number on your ticket and validate it” Kondektur kumis baplang telah mengetuk palunya. Kalut tapi harus dihadapi, yang jadi pikiran adalah repotnya memanggul ransel sembari menggeret si world map dengan roda yang tidak stabil dan belum lagi resiko sampai kemalaman tiba di Lucerne. “Ohh.. in USA this ticket would be valid for the whole trip” John dan Istri menyanyangkan kejadian yang menimpa kami. Tiba-tiba si Ibu Swiss yang mulanya protes pada tas kami di celah kursi mulai berbicara memberikan solusi. “You must get off from this train in Como, 2 next stations from now. Go to the ticket office to get the PNR number and validate it. Next train will be available in every 1 hour  to Lucerne. Don’t Worry” Sarannya hangat dan menenangkan. Gejolak mulas di perutku berangsur mereda. “Como is a beautiful place. The city has famous lake..lake Como”..bla–bla sang suami Ibu Swiss menerangkan kota Como pada kami seolah travel guide profesional. Mendekati Como kami bersiap menurunkan semua tas bawaan sampai pada 2 orang kondektur si Kumis baplang dan kakek pirang bermuka ramah menghampiri kursi kami. Mereka berdua berbicara bahasa German Swiss dan sedikit campuran Italy mungkin. Kakek pirang bermuka ramah meminta tiketku dengan sopan, di teliti dan di bacanya. Sesaat Aku menahan nafas..”You can continue your trip with this ticket” tatapnya pada kami berdua. Whoaaaa..pengen peluk kakek!! girang banget kami ucapkan terima kasih berulang kali. “The other officer is Swiss man. He is the person who allow you to use the ticket” Ibu Swiss menerangkan.

Como kota dimana kami hampir diturunkan

Suasana bertambah hangat ketika Ibu Swiss membagikan coklat kepada kami dan penumpang anak-anak di belakangnya. Bahkan Bapak Swiss rajin memanggil kami untuk mendekati jendela menerangkan sistem terowongan dan jembatan di pegunungan Swiss ini. Kereta memang berjalan banyak menanjak dan turun  melewati banyak terowongan yang dibuat untuk menerobos jalur pegunungan Swiss ini. Pemandangannya jangan ditanya betapa indah. Bulan Mei terlihat hijau bukit-bukit, beberapa kami lewati pegunungan batuan yang ditutupi salju. Bahkan ketika sampai di Lucerne station suami istri Swiss ini menunjukkan halte bus yang harus kami naiki menuju ke hotel Alpha Lucerne. Terima kasih Bapak Ibu 🙂

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? 20140530_164535

Beberapa kali kami bertanya pada orang yang kami temui setelah turun dari bus. Warga Lucerne ramah sekali plus cakep 🙂 dengan segera mereka mengeluarkan gadgetnya dan mencari alamat hotel kami dengan Google map. Bahkan rombongan ketiga yang kami tanya mengantarkan kami sampai ke dekat hotel karena akan menuju arah yang sama. Mereka dengan hangat bertanya asal kami,  2 orang dari mereka sudah tahu Indonesia dan akan pergi ke Bali. Hotel kami berada di dekat sekolah SMA dan taman kanak-kanak, seperti Ibu Swiss bilang lingkungan hotel kami berada dalam lingkungan yang baik dan aman di Lucerne ini. Karena dingin dan lelah kami memutuskan di kamar saja malam ini dan memakan bekal pizza ukuran jumbo yang di beli di stasiun Milan tadi. Besok pagi kami akan mencari Chapel Bridge sebagai landmark kota Lucerne sebelum pergi ke Engelberg.

20140531_065558
Breakfast dengan sangat banyak pilihan di Hotel Alpha Lucerne

Berbekal peta dari hotel kami menelusuri jalan sekitar hotel. Teratur sekali kota ini, rapi dengan bangunan-bangunan klasik dan tidak terlalu banyak bangunan modern seperti sky scrapper. Kami mengikuti orang menyeberang jalan menuju sebuah jembatan kayu.. Pasti ini chapel bridge karena jembatan itu dari kayu berwarna coklat dan desainnya seperti atap lorong rumah sakit. Aku dan Ade bergantian foto di jembatan itu. Di sisian tepi jembatan ada pasar kaget  dan di bagian ujung ada semacam bendungan air sungai kecil. Puas berfoto kami akan bergegas pulang. “De, kok chapel di jembatannya kecil banget ya? Dan gak terbuat dari susunan batu kayak menara Rapunzel” tanyaku pada Ade sambil meneliti peta. “Hwaa..ampun ini ada jembatan satu lagi dekat stasiun dengan gambar chapel yang lebih besar. Ini sih bukan chapel bridge yang barusan kita foto-foto”, dahiku berkernyit menyadari kekeliruan. “Hmm..klo gtu kita balik hotel, mandi nanti sebelum ke Engelberg kita ke Chapel Bridge”Ade mengambil keputusan.

View from our room in Hotel Alpha Lucerne
Jalan di depan hotel

Kami kira ini Chapel Bridge

20140531_084708

20140531_080200 ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Chapel Bridge ternyata cantik dan besar sekali dan bagian depan chapelnya ternyata ada toko kecil tempat penjualan cindera mata. Karena takut tidak sempat belanja sepulang dari Engelberg. Aku dan Ade kembali kalap di toko cindera mata depan chapel di atas jembatan ini. Semua Lucukkkk..

???????????????????????????????
Bunga musim semi di Chapel Bridge
Pemandangan kota Lucerne dari Chapel Bridge
Chapel Bridge di Pagi hari

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Dengan menggembol tas belanjaan besar duo travelbandit ini akan pergi ke Mountain Titlis..

Advertisements

3 thoughts on “Mencari Chapel Bridge di Lucerne

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s