Tengah Malam Musim Dingin di Seoul: Lost in Hongik!


Malam bertambah pekat, dingin kian menusuk, jemari tangan berasa kian kebas digigit dinginnya udara musim dingin Kota Seoul. Kusentuh pipiku terasa kaku dan cuping hidungku sudah terasa keras seperti sedang disuntik kebal serasa waktu Aku mau operasi cabut gigi geraham dulu…

Begitulah sepenggal kisah petualanganku pada suatu malam dingin di Seoul.

Punya Kakak, Adek, temen sodara yang keranjingan sama Korean Wave? Kebetulan Aku punya temen yang demen trus jadi demam sama Korean Wave. Mulai dari serial Drama Korea sampai Boysband Korea. Sampai akhirnya Aku terbujuk rayu pergi ke Seoul untuk lebih mengenal negeri cowok-cowok manis di Boys Before Flower, Super Junior sama Rain. Cukup itu saja celebrity terkenal dari negeri Gingseng yang Aku kenal. Jadilah diputuskan kami berempat personil Female Adventure untuk pergi ke Seoul pada musim dingin, lagi-lagi biar dapetin feelnya suasana Winter Sonata (drama Korea fenomenal :-D)

Sebulan sebelum pergi Aku diberi training khusus di kamar kost Dedew salah satu anggota Female Adventure. Materi yang Dedew berikan adalah perkenalan personil Boys Before Flower. Beratus-ratus slide foto dihadirkan silih berganti berisikan pose-pose manis cowok-cowok negeri Gingseng itu. Pertama disebutkan nama satu persatu.

“Lee Min Ho” Tunjuk Dedew menggunakan pointer. “Hapal gue, Tau itu sih poni nya yang risol” Ujarku cepat.

“Kim Bum, my future husband” Tunjuk Dedew sambil mau memeluk laptop. “Okehh muka model, hapal. Kasih next pic!” Seruku siap dengan tantangan selanjutnya.

“Kim Joon. Paling muda” Terang Dedew. “Okelah paling imut” Sahutku

“Kim Hyun Joong” Tunjuk Dedew pada slide berikutnya. Mulai pusing tapi kujawab, “Iyah tau rambut paling berwarna catnya, paling modis lah hair cutnya”.

Memasuki materi tahap kedua Dedew mulai mengacak susunan foto ke empat personil tadi. Lah!! berapa kali tanganku terkena sabet Dedew karena salah..Kim Bum jadi sama mukanya sama Min Ho belum lagi itu Kim Joon juga gak ada bedanya, yang rambutnya merah paling modis juga namanya semacam Kim Joon. Pusing!! #@%$..>@_@<

Duh.. apalagi pas slide girlsband Korea..buatku yang udah mabok bin pusing sepertinya muka mereka sama dengan pakaian yang sama juga. Rambut panjang pirang, sepatu boot, rok mini. Titik.

A homework from Ms. Dedew: Menonton satu drama korea. Setengah episode Aku terlelap. Satu yang Aku inget akting drama Korea lumayan natural dibanding sinetron kita yang sebentar-sebentar melotot zoom out zoom in diiringi suara piring pecah dan gelegar petir sering timbul. Ada satu drama Korea yang baru buat Aku kepincut On Air, yang maen brewokan gak teratur gituh, aktingnya sering ngomel teriak-teriak galak, pas nanya sama temen yang hobby drama Korea, aktornya Park Yong Ha suicide di taun 2010. Telat naksir!!

Persiapan lainnya adalah membeli jaket musim dingin. Tanya sana-sini musim dingin di Korea itu sangat dingin Jendral!! bisa mencapai -15 Derajat Celcius. Walhasil ketemulah toko baju winter Monica di Mangga Dua. Cici yang jual cantik dan modis seperti personil SNSD dan dia bilang emang harus jaket super tebal. Jadilah jaket magenta itu membuatku seperti kepompong endut raksasa..Nasib. Aku mulai membandingkan dengan dinginnya Bromo pada jam 2.00 dini hari di Pananjakan di bulan Juli-Agustus bulan kemarau yang paling dingin. Waktu itu mungkin suhu mencapai 4-8 derajat Celcius dan Aku hanya pakai sweater kaos ala distro seharga 130ribu saja dan hanya pakai sendal ples kaos kaki. Bahkan cadangan lemak masih membuat cukup hangat, sampai beberapa teman cewe yang berbadan kurus dapat memelukku di Bromo pada waktu itu 🙂

Setelah pesawat mendarat di Incheon Airport hati ini mulai deg-degan. Jam menunjukkan pukul 21.45 pm waktu setempat. Pertama kali winter buatku! Ketika melewati passenger boarding bridge suhu udara masih terkendali hangat dan kami harus turun ke subway area di Incheon untuk naik kereta ke Seoul. Aku, Bubun, Dedew dan Ade mulai sibuk mengenakan jacket tebal, topi kupluk dan sarung tangan. Di area subway angin dingin menyelusup di peron ketika kereta mulai bergerak jalan. Perjalanan malam itu selama hampir 1 jam menuju Seoul tepatnya di daerah dekat Hongik University tempat guesthouse kami berada hampir tidak berasa. Nahhh keluar dari stasiun Hongik University Station mulai berasa dingin yang lebih membahana ditambah jam yang sudah menunjukkan jam 23.00 malam. Suhu udara ketika baru keluar stasiun bagiku masih seperti berada di kamar dengan pendingin AC saja buatku. Tapi Bubun sudah nampak kedinginan sekali. Tahun 2012 itu persiapan gadget tempur kami masi sangat terbatas, hanya hp BB tanpa jaringan koneksi internet. Sedih banget!! Peta menuju guesthouse sudah kami print dari hostelbookers website, tapi tetap membaca petunjuk jalan di malam musim dingin itu susah teman *tear* Begitu keluar dari Hongik Stasiun kami langsung bertanya pada segerombolan mahasiswi yang kliatan keren winter coatnya. Dengan ramah mereka mencoba mulai memberi petunjuk arah walau tidak yakin. Kliatannya peta kami kurang meyakinkan dan bahasa Inggris mereka juga terbatas sekali dengan menunjuk ke suatu arah ke jalan arah samping stasiun kami pun melangkah. Angin dingin di Seoul mulai menusuk ke permukaan kulit, juga meremukkan muka rasanya. Tidak ada salju turun, konon teori dari beberapa turis mancanegara yang pernah kami temui dan daerah asalnya adalah negara 4 musim semua bercerita salju akan turun ketika suhu udara antara 5-10 derajat Celsius klo suhu sudah di bawah 2 Celsius bahkan minus maka salju malahan tidak turun. Kami berempat terus berjalan menyusuri jalan dan mulai mengambil keputusan masuk ke gang yang lebih kecil. Udara dingin sekali dan keadaan sudah bertambah sepi hanya beberapa orang yang kami temui tampak dalam perjalanan pulang menuju rumah yang sudah dekat dan berjalan kaki. Tambah masuk ke dalam gang orang yang kami temui semakin tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali hanya senyum ramah dan menggeleng.

Malam bertambah pekat, dingin kian menusuk, jemari tangan berasa kian kebas digigit dinginnya udara musim dingin Kota Seoul. Ku sentuh pipiku tearasa kaku dan cuping hidungku sudah terasa keras seperti sedang disuntik kebal serasa waktu mau operasi cabut gigi geraham dulu itu. Kami memutuskan untuk berhenti dulu di tengah langkah di komplek perumahan daerah Hongik itu. Satu persatu dari kami mengeluarkan syal atau phasmina untuk diikatkan menutupi mulut sampai sebatas mata. Suasana sudah resmi sepi, hanya kami berempat yang masih berjalan mencari tempat menginap kami malam itu. Ketika hampir putus asa karena tidak ada orang lagi yang kami temui, sayup-sayup di kejauhan menuju jalan besar aku mendengar suara derum kendaraan dan sorot lampu. Aku mengajak yang lainnya untuk menuju kesana supaya ada orang yang bisa ditanya. Benar saja ada kesibukan di pinggir jalan mereka adalah petugas pengangkut sampah dengan truk besar. Nampak supirnya seorang bapak paruh baya yang bermuka baik,Aku langsung mendekat dan menunjukkan kertas peta alamat penginapan kami. “Sir, Could you please help us to find this address?”. Si Bapak berusaha membaca di tengah gelapnya malam sambil mendekatkan kertas ke arah lampu sorot depan truknya. Dahinya berkerut, si Bapak menunjuk ke arah belakang kami menjauh dari area pinggir jalan. “The direction is over there, but I didn’t know it exactly”, sebenernya waktu itu si bapak pake bahasa Inggris sedikit lebih banyak Korea tetapi yah gitu deh berusaha mengerti kurang lebih seperti itu dan dia menyarankan kita minta diantar pakai taxi yang masih ada berhenti di pinggir jalan di jam sebelas malam lewat ini. Kami berempat bergegas mendekati taxi yang sedang berhenti, mengajukan pertanyaan yang sama dan supir taxi mulai mengutak-atik gadgetnya menggunakan semacam google map dan berkata, ” Saya bisa mengantarkan kalian ke alamat ini menggunakan panduan GPS, tetapi bla..bla..bla.” Ya getu deh intinya kurang jelas si supir taxi sepertinya kurang paham juga. Dedew mengambil inisiatip tidak usah menggunakan jasa supir taxi itu karena arah kita dari awal sudah benar seperti yang ditunjukkan mahasiswi di depan stasiun Hongik bahwa guesthouse yang kita cari memang sudah dekat berada di belakang stasiun. Sambil mengucapkan terima kasih kami pun berlalu melanjutkan pencarian.

Kami kembali memasuki gang dengan nama jalan dan sign toko sekitar yang sudah mendekati seperti di peta. Rasa dingin kembali menganggu semangat dan konsentrasi. Di ujung jalan kami melihat 2 orang pria bertubuh tinggi tengah berdiri merunduk di depan drum bekas dan membakar sesuatu di dalam drum yang menyerupai tempat sampah sembari menghangatkan diri, langkah kaki mulai ragu karena merasa was-was bahaya akan mengancam. Ketika melewati mereka, kami berusaha tidak mengerlingkan mata berlebihan ke arah mereka karena ketakutan, benar saja kedua pria itu ternyata tunawisma yang tengah sibuk mengusir dingin dan hanya menatap kami yang berjalan. Fuihh..lega klo di Jakarta kondisi tengah malam begini kami sudah memprediksi bahaya yang lebih jauh terjadi. Tak lama berjalan dari tempat 2 pria tadi berdiri di kejauhan kami melihat siluet pria menarik gerobak seperti gerobak sampah petugas kebersihan. Perasaan was-was kembali menghinggapi, kakiku semakin berasa lemas. Dan… benar saja ketika jarak kami semakin dekat berpapasan si lelaki tua penarik gerobak berteriak meracau dalam bahasa Korea yang mungkin artinya kira-kira..”Hayoo..sudah malam kalian para gadis muda hendak kemana?!”. Asli panik dan takut tetapi berusaha berani reaksi kami hanya mengernyitkan dahi dan menyilangkan tangan tanda tak butuh bantuan. Bubun mengambil reaksi yang lebih dramatis dengan menyelamatkan diri masuk gang yang lebih kecil di kanan jalan. Si pria tua sempat menghentikan gerobaknya sembari meracau bicara dan tertawa terkekeh, mimik mukanya menjadi tidak stabil seperti tertawa puas. “HAHAHAHA”… Tawanya membahana di tengah malam itu. Aku berharap ada orang yang terganggu dan membuka jendela atau pintu dan kami bisa minta tolong. Tapi ternyata tidak ada orang lain! Aku mengambil langkah mendekati Bubun masuk ke gang kecil dan bersiap melakukan tindakan perlawanan jika pria tua itu melangkah lebih jauh dari gerobaknya. Dedew nampak lebih berani dengan tersenyum dan berjalan menghindar dan diikuti Ade. Merasa kami tak menaruh minta pada racauannya dan masing-masing berpaling ke arah berbeda akhirnya pria tua itu kembali menarik gerobaknya dan kembali melanjutkan perjalanan.

Whoaaa..capek..dingin..takut..lapar..mau nangis Aku memandang Bubun. Kualihkan pandangan ke sekitar dan pandangku cepat menangkap papan kecil yang di tempel di dinding bata expose merah di bangunan lantai 3 di depanku. Namu Guesthouse! Ini adalah salah satu kandidat guesthouse yang akan kami pilih di sekitar Hongik area tapi tidak jadi kami booked. “Bun, daripada kedinginan di luar tanpa solusi kita pencet bel Namu guesthouse ini yuk. Tolong panggil Ade dan Dedew dulu Bun, mereka masih di jalan besar”, Aku kembali mengingat formasi yang menjadi terpencar pasca bertemu penarik gerobak tadi. Kutekan bel berkali-kali dan berbicara melalui mesin suara di depan dinding gedung. “Hello somebody, We need to stay in this guesthouse. We are lost tonight and need place to stay!”. Tidak ada respon suara dari kotak mesin itu. Aku nekat berjalan menaiki tangga berupa lorong sempit untuk menuju lantai 2 dan mencoba mengetuk pintu sambil mencari-cari penghuni yang mau membukakan pintu. Tidak ada jawab hanya hening yang semakin mencekam. “Gimana Ta? Ada orang?” Tanya Bubun di bawah tangga, disebelahnya Ade bersidekap kedinginan. Aku menggeleng lemah sambil berusaha menelan liur yang terasa mencekat di tenggorokan. “Gak ada yang jawab. Bun, Ade sini naik ke lorong tangga lebih hangat disini. Bisa buat kita duduk dan tertidur sebentar menunggu pagi. Nanti pagi pas udah terang dan banyak orang kita cari lagi Seoul i Guesthouse kita”. Bubun nampak menyetujui ajakanku. kami pun duduk di antara anak tangga dan mulai menelungkupkan kepala di atas koper kami masing-masing. Bubun merapatkan winter coat panjangnya. “Uhhh..dinginnya”. Aku merasa bersalah karena ini pertama kali Bubun backpackeran dan pertama kali buatku keluar dari kawasan  Asia Tenggara yang hangat. Air mataku hampir meleleh menyesali keadaan, tapi aku tahu itu tak berguna. “Ade, kesini De” seruku. “Bentar Ta, Dedew kembali ke jalan besar. Kenapa ya?” Info Ade. “Mau jalan lagi? gw sama Bubun dah gak kuat, dingin dan takut ketemu orang aneh lagi, duduk dulu yuk di tangga”, ajakku pada Ade. “Bentar yah gw check Dedew lagi jalan kemana” Ade mengambil langkah ke jalan besar.

Tak lama Ade kembali ” Ta, Bun, Dedew kayanya disamperin sama penjaga Guesthouse kita” Seru Ade terengah bersemangat. “Yang benar?” Aku pun berbegas menuruni tangga menjemput harapan baru itu. Benar saja di sebelah Dedew berjalan seorang lelaki muda dewasa membawa handphone di tangannya. “Ahh, finally I can meet you. I was very worried about your schedule arrival in guesthouse and already try to call your phone many times!. It is already late night and very danger for women outside!”. Lega tak terperikan dan kehangatan percaya diri mulai mengisi diriku. Biarin deh dicerewetin sama penjaga guesthouse yang kuatir dan ditanya kenapa sih klo tamu dari Malaysia dan Indonesia dateng flightnya larut malam terus. Yaa..karena kami backpacker dengan budget promo flight 😀

Ternyata Seoul i Guesthouse tujuan kami sudah dekat dari Namu Guesthouse tempat dimana kami hampir bermalam di anak tangganya!
Ternyata Seoul i Guesthouse tujuan kami sudah dekat dari Namu Guesthouse tempat dimana kami hampir bermalam di anak tangganya!

Di dalam ruang tamu guesthouse di lantai 2 masi ada beberapa mahasiswa dari berbagai negara di ruang keluarga yang sedang berdiskusi mengerjakan tugas sambil makan pizza bareng di lewat tengah malam itu. Kami berlalu sambil diberi sapa ramah oleh mereka semua. Di dalam kamar kami mendapati alas tempat tidur kami dilapisi perlak yang dalamnya ada pemanas listrik yang bikin hangat. Lantai kayunya pun berpenghangat. Akkk tidur malam ini sukses dengan kehangatan! 🙂 Seoul i Guesthouse pada waktu kami datang di awal tahun 2012 masih berupa rumah dengan interior design rumah tinggal keluarga. Klo sekarang ngecheck lagi di website booking hostel bentuknya lebih diperuntukkan untuk hostel guesthouse dan interiornya untuk hostel kurang hommy tapi memang rapi. Keesokan hari kami berempat bangun agak siang untuk sarapan di dapur guesthouse dan ngobrol dengan beberapa mahasiswa manca negara yang sedang menginap disitu juga sebelum explore Seoul City..

Perlak selimut dengan penghangat listrik
Perlak selimut dengan penghangat listrik
Di depan Seoul i Guesthouse 561-61,Yeonnam-dong,Mapo-Gu Seoul
Di depan Seoul i Guesthouse 561-61,Yeonnam-dong,Mapo-Gu
Seoul
Untuk masuk pintu rumah pakai kartu dengan no kode
Untuk masuk pintu rumah pakai kartu dengan no kode
Bangku teras di Seoul i Guesthouse (sebenernya ini lagi lupa kode pintu dan nunggu dibukain dari dalem >.<)
Bangku teras di Seoul i Guesthouse (sebenernya ini lagi lupa kode pintu dan nunggu dibukain dari dalem >.<)
Lingkungan sekitar Hongik. Di depan toko laundry.
Lingkungan sekitar Hongik. Di depan toko laundry.
Winter in Seoul
Winter in Seoul
Kantor Polisi dengan tembok pink jadi pengen foto :)
Kantor Polisi dengan tembok pink jadi pengen foto 🙂
Pinky Police Post Office
Pinky Police Post Office
Di sekitar Hongik banyak asrama dan apartemen mahasiswa
Di sekitar Hongik banyak asrama dan apartemen mahasiswa
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s