Lezatnya Samgyetang Buatan Ajumma 아줌마


Setelah 2 malam menginap di daerah Hongik pada musim dingin Seoul waktu itu, kami memutuskan untuk pindah ke sebuah hostel di daerah Hyehwa, yang menurut review di trip advisor dan promo mereka di hostelbookers, lokasinya berada di daerah strategis dekat dengan subway, shopping area, resto dan bus menuju airport di Incheon. Untuk proses pindahan ini, kami menggunakan taxi karena luggage kami lumayan besar dan banyak, agak report klo pakai subway. Biayanya pake taxi juga gak terlalu mahal, gak sampai 30.000 KRW, lumayan ringan dibagi berempat.

DSC08312 DSC08310 DSC08316

Begitu datang kami langsung disambut penjaga hostel Backpacker Mr.Sea, yang sepertinya freelance seumuran mahasiswa. Kalau sebelumnya Aku lebih banyak menjumpai kebanyakan pengurus hostel adalah staff karyawan seperti di Singapore, Bangkok, KL, Ho Chi Minh dan Cambodia. Di Seoul ini kebanyakan pengurus hostel dan resepsionisnya adalah freelance mahasiswa, di pilih mereka dengan kemampuan bahasa inggris yang memadai, karena banyak kami temui di Seoul anak muda yang kelihatan modis tapi terbatas banget bahasa inggrisnya, mereka tambah grogi, waktu kasi info pakai inggris, tapi tambah kiyutt deh…hehe..Balik ke resepsionist hostel yang lagi bertugas siang itu, kami disambut cowo modis rambut berkuncir, brewok tipis, minta di panggil Rain.. donk! Penampilan Rain siang itu seperti mahasiswa yang chic; kacamata frame tebal berukuran ouval lebar tpi upss ternyata kacamatanya cuman framenya doang yang dipakai, jadi inget Om Joni Iskandar di tanah air 😀

Setelah dapat kamar, kami taruh barang, dan gak berapa lama, pintu kamar di ketuk lagi. Kayanya cakep nih, secara Dedew and Ade bereaksi kayak cacing kepanasan :-D. Ade dengan semangat 45′ cerita yang barusan  datang ke kamar kita kasih info hostel itu cowo Korea unyu kayak personel boys band..Ahaa..memperkenalkan diri sebagai TJ, penjaga hostel shift berikut setelah Rain, dia tanya apakah kami mau extend untuk malam ke tiga, kami bilang 2 malam saja kita disini mau ke Incheon setelahnya.

Setelah siap menjelang cari makan siang dan jalan-jalan waktunya Aku beraksi, karena dari Indonesia sudah kepengen sekali makan Samgyetang, itu tuh sup kaldu ayam asli Korea yang bumbunya pake ginseng segala, pernah makan di Korean resto Jakarta, tapi kata temen, klo aseli makan di Korea rasanya lebih lezato dan maknyuss. Karena misi ini lah Aku pake sebagai bahan obrolan sama TJ yang lagi masak mie instan di dapur. Pantas si Ade kayak cacing kepanasan, makhluk ini unyu bangett 🙂 sepertinya masih mahasiswa tingkat II deh. Kutanya resto yang Ok buat direkomendasikan buat Samgyetang dimana, dia bilang mau browsingin info resto yang enak and dekat dari situ, tapi gak penting karena kita bisa browsing sendiri, yang penting ada bahan buat ngobrol sama kamu..ya Kamu 😀

Siang itu akhirnya kita makan Bokkeumbap alias nasi goreng yang dimasak langsung di meja kita, jalan-jalan shopping sampe malam, karena dah kecapean dan suhu setiap malamnya bisa mencapai -8 and -10 derajat Celciuss (alasan biar dinner murah di hostel), kita memutuskan makan malam mie instan dan pulang ke hostel. Begitu sampe di hostel kita disambut sapa oleh TJ nan unyu, heppii. Kita niat makan mie sambil nonton TV layar besar di komunal room. Cari bahan obrolan lagi donk sama TJ secara remote TV pake huruf Hangeul kami sibuk tanya ke TJ cara nyalain TV dan pindahin channel.  Tapi begitu siap seduh mie langsung check posisi TJ lagi di ruangan mana. Malu donk sama TJ! Katanya tadi mau makan Samgyetang di resto pula, kok ini turun derajat nyeduh mie instan buat dinner, untung TJ lagi sibuk telepon jadi gak liat kami makan mie instan, gengsi to the Max :-D. Besok harus makan Samgyetang!

Menu dan harga Bokkeumbap

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Keesokan paginya, kami pergi ke Insa-dong, area tourism yang berupa pedestrian dan terdiri dari jejeran toko-toko souvenir, galery art dan beberapa resto makanan Korea. Begitu melihat seorang wanita berkaos biru cerah dengan selempang bahu bertuliskan “Tourist Information guide”  yang ramah menyapa kami dan langsung menanyakan apa yang bisa dibantu, Aku langsung tanya dimana letak resto terdekat di Insa-dong untuk menu Samgyetang ini. Mba guide keluarin peta, bicara pake Inggris tapi nulis Hangeul, karena peta daerah Insa-dong berupa jejeran petaan toko, maka jadi mudah aja. Si Mba tourist information guide ini berpenampilan ramah, lebih manusiawi dengan rambut hitam lurus di kuncir kuda gak mainstream seperti kebanyakan gadis Korea di kota besar yang berpenampilan seperti boneka dengan rambut pirang dan super flawless..Dia menyarankan kami untuk mencoba sebuah restaurant Samgyetang yang authentic karena restonya sendiri sudah lama berdiri dan seakan melegenda kelezatannya di Insadong.

Peta menuju Ajumma's Authentic Samgyetang
Peta menuju Ajumma’s Authentic Samgyetang
Harus berfoto disini titah Dedew. Kuil jumpa fans Boys band kabarnya >.<
Harus berfoto disini titah Dedew. Kuil jumpa fans Boys band kabarnya >.<

Berbekal peta dari Tourist guide, kami nyangkut di gedung pertokoan yang agak besar, Ssamziegil, menurut info dari Dedew yang merupakan fans of Korean boys band, tempat ini adalah tempat ajang promo album buat para kelompok boysband itu, tempat penjualan aneka souvenir mereka, jumpa fans dan perform. Ok satu foto di depan ”kuil” boys band Korea ini !! Dari gedung Ssamziegil, kami harus temukan Sudo Pharmacy, trus belok kiri masuk ke dalam buat ketemu si resto Samgyetang, begitu masuk gang, kami temukan beberapa resto kecil ala rumahan di belakang jalan utama pedestrian Insa-dong ini. Di depan resto ini sudah ada gambar Samgyetang dan menu lainnya, biar yakin kami mencoba mencocokan tulisan Hangeul di peta dengan nama resto, susahh..akhirnya kami tanya tetangga resto yang lagi lewat, apakah resto ini buka atau tidak, karena sepi dari luar. Buka katanya, masuk saja ke dalam.

Resto Samgyetang yang authentic masuk ke dalam gang kecil
Resto Samgyetang yang authentic masuk ke dalam gang kecil

Kami buka sepatu dan taruh di rak sepatu depan pintu, kebanyakan resto bergaya tradisional Korea harus buka sepatu di luar, ditaruh di rak dan untuk mobilitas di dalam kadang disediakan sandal ruangan. Begitu masuk, kami disambut 2 nenek (Ajumma 아줌마) nan cekatan dan lincah. Annyeong Haseo!! Banyak resto di Korea hanya dikelola satu atau dua orang, walau sudah separuh baya mereka cekatan dan didukung dengan peralatan masak dan resto yang sangat modern. Nuansa restonya aku suka sekalii…bergaya tradisional Korea, duduk lesehan menghadap meja dengan alas bantal, sebuah rak kayu tebal berisi peralatan jadul mendominasi design ruangan khas tradisional rakyat Korea ini.

Interior resto Samgyetang
Interior resto Samgyetang
Duduk lesehan
Duduk lesehan

Begitu duduk ahjuma, memberi kami penghangat ruangan kecil seukuran kipas angin duduk, resto ini tidak memakai penghangat lantai seperti hostel tempat kami menginap. Kami pun langsung ganas begitu pegang buku menu, pesan Samgyetang incaran, kelihatannya porsinya besar sekali, tapi sang Ajumma bilang porsinya kecil, kami pesan 2 hot bowl Samgyetang ayam dan 2 jenis Galbi tang dengan kuah kaldu putih dan kaldu kuning. Setelah pilih main course, buku menu dibuka sampai belakang, kok gak ketemu pilihan minuman seperti jus alpukat atau sekedar teh manis, sepertinya resto authentic di Korea pada umumnya hanya menyediakan air putih atau teh untuk minum. Pertama diantarkan oleh Ajumma adalah 4 cup cangkir air panas dan kemudian dua teko besar air panas dan air dingin untuk refill.

Tak lama berselang datanglah aneka condiments lezat nan sehat, kimchi, bayam, labu manis, kacang, tauge segar dingin, ples dua butir telur mentah, semua di buat asinan, ada yang manis maupun asin pedas bercabai seperti kimchi. Disusul dengan satu mangkuk panas sup iga sapi, karena Dedew gak suka telur mentah dalam sup putih, maka Bubun bilang telur itu dipecahkan ke sup iga sapi kaldu kuning saja tanpa diaduk, dua mangkuk panas Samgyetang ayam dan sapi pun menyusul. Tiba-tiba Ajumma senior datang mengecheck meja kami, ketika menemui telur sudah dipecahkan ke dalam sup iga sapi kaldu kuning, tanpa berbicara kepada kami di meja lesehan Ajumma senior berteriak ke belakang arah dapur dan (sepertinya) Ajumma senior berkata ke juniornya, “Seharusnya kamu temani mereka waktu pecahin telur!! Haiyyahh..supaya anak-anak ini gak salah mana yang harus pakai telur di dalam supnya!”. Ajumma senior berkata mengomel kepada kami dalam bahasa Korea bahwa telur seharusnya dimasukkan dan diaduk ke dalam Samgyetang ayam dan sapi kaldu pake diaduk. Maka telur yang satu lagi masih utuh dipecahkan Ajumma senior ke dalam Galbi tang kaldu putih. Kami dimarahi Ajumma seperti nenek yang mengomeli cucunya sepulang dari bermain dari lapangan tanah lumpur yang kotor :-D. Sepertinya ini kesalahan fatal kalau salah lagi sepertinya Ajumma senior harus melakukan ritual mandi air kembang (mungkin), secara winter daun aja rontok, apalagi cari kembang..susahhh.. Kami setengah kaku dan terpaku sehabis di omeli berpandangan bingung tetapi berhubung sudah lapar tingkat Dewa kami pun mulai makan aneka soup Korea ini.

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Telurnya kami pecahkan disini Ajumma!
Telurnya kami pecahkan disini Ajumma!

Rasa Samgyetang dan Galbi tang Ajumma Juara!!! Di tengah cuaca dingin Korea Selatan di musim dingin nan keji. Soup ini menjadi sumber kehangatan yang kami idamkan! Ginseng di dalam Samgyetang seakana memberikan energi Chi yang mengalir sampai ke ubun memberikan kehangatan.

Satu porsi Samgyetang ini hanya 7000 Won dengan ukuran ayam utuh yang besar dan berdaging, harga masih lebih mahal di resto Korea yang ada di Jakarta dengan ukuran ayam yang lebih kecil. Hummmm Samgyetang begitu lezatt, paduan kaldu ayam nan lembut dengan bumbu rempah dan gingseng, gurih tidak berlebihan, daging ayam dan sapinya tebal lembut. Badan rasanya segar, sehat begitu habis menyantap sup Samgyetang ini.

Buatku kuliner di Korea Selatan ini sangat cocok dengan lidah orang Indonesia yang terbiasa dengan rasa yang cenderung tajam dari rasa pedas, gurih dan bumbu rempah. Harganya pun bersahabat, kalau ada yang bertanya padaku berapa budget makan di Seoul? mirip jakarta secara umum. Belum lagi ukuran porsi makanan yang selalu besar, satu porsi bisa untuk 2 orang dan bahkan Jeongol sup celup di kompor langsung di meja makan kita satu posrsinya bisa untuk 4-6 orang. Sampai seorang teman pernah memberikan informasi kalau Korean food is world’s healthiest food!

Restaurant dengan interior yang bagus. Tidak ada menu minuman hanya air putih atau teh yang gratis!
Restaurant dengan interior yang bagus. Tidak ada menu minuman hanya air putih atau teh yang gratis!
Bahan seafood segar dipajang di depan resto
Bahan seafood segar dipajang di depan resto
Harga yang murah!
Harga yang murah!
Jeongol dengan porsi yang besar dan sambal yang pedas!
Jeongol dengan porsi yang besar dan sambal yang pedas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s