Bandung Trip in Diversity


Pagi ini dengan “Orange ransel si rumah kedua” Aku akan melancong ke Bandung bersama teman-teman Urban Traveler dengan tema Diversity trip karena peserta trip kali ini terdiri dari 4 kawan dari Jepang, 2 kawan dari China dan 3 orang dara asli Indonesia ūüôā

Cerita punya cerita pagi itu ternyata kereta Argo Parahyangan Jakarta-Bandung harus delay selama kurang lebih 1.5 jam. Kereta mengalami kerusakan dan sedang diperbaiki di stasiun Manggarai. Peserta trip yang lain sudah menunggu di Gambir tinggal Aku yang menunggu dalam kesendirian..disini di stasiun kecil dekat rumahku *Balada galau..(yang penting bukan Balada Kera Dufan)

Setelah sebelumnya Aku dan teman-teman Urban Traveler diundang ke Pizza Party di Apartemen Hiro, seorang teman expat yang kerja di Jakarta. Hiro memasak sendiri semua pizzanya malam itu dimulai dari adonan dasarnya! Buatku itu adalah suatu keahlian super¬†dimana ketika aku¬†memasak sepertinya kenyamanan berada di daerah grafik minus daripada ketika sedang¬†bekerja¬†di laboratorium kimia :-D.¬†Sampai akhirnya pada ajang pizza party itu virus-virus backpacker mulai disebarkan ūüėÄ dan kami semua sepakat akan mengukir memori di Bandung trip kali ini.

Akhirnya kereta yang di nanti tiba juga setelah telat 1.5 jam. Aku bergegas masuk ke gerbong 1 dan menemui teman-teman sudah duduk manis di seatnya masing-masing. Dalam trip kali ini seperti biasa Aku yang mengatur semua pembelian tiket dan reservasi penginapan¬†juga susunan itinerary. Semoga mereka suka dan berkenan :). Sesampainya di stasiun Bandung Aku mengecheck kelengkapan rombongan dan bertemu dengan driver pembawa mobil elf untuk membawa kami makan siang terlebih dahulu. Aku adalah type traveler yang selalu menepati setiap detail itinerary tapi dengan dimulainya delay kereta Argo parahyangan pada pagi itu sedikit mengacaukan acara di hari hari pertama. Mobil Elf yang kami sewa segera melaju ke arah Tahura untuk menuju Curug Omas. ¬†Sekiranya ada hampir satu jam dari stasiun bandung menuju Tahura dan kami dihadapkan pada hal yang mengecewakan ketika sampai di dekat pintu IV tempat masuk Curug Omas ¬†ada tulisan “CURUG OMAS DITUTUP KARENA ADA RENOVASI (Sejak Oktober 2013 kalau tidak salah)” dengan tulisan dari cat merah seadanya di atas papan triplek ¬†besar yang digunakan untuk menutupi pintu masuk Curug. Nampak dari kejauhan seperti ada kegiatan renovasi dan tumpukan pasir serta adukan semen seadanya. Gagal sudah mau merasakan sensasi melihat air terjun dari ketinggian di atas jembatan. Padahal sebelumnya sudah sempat blog walking dan tanya teman kantor yang pernah observasi kesana untuk acara kantor di tahun 2013 masih bisa dikunjungi. Tak ketinggalan study literatur ke¬†¬†official web Curug Omas¬† tapi web yang di update terakhir 01 Juni 2010 juga tidak memberikan informasi terupdate untuk kegiatan renovasi tersebut. Memang sih kalau dibuka webnya ada tulisan:

“A PHP Error was encountered”¬†PHP: (Bukan) Hypertext Preprocessor; tetapi “Pemberi Harapan Palsu” nihh ūüėÄ

Satu hal lagi yang bisa menurunkan mood saat berwisata domestik adalah masalah tarif tiket wisata untuk wisatawan asing dan biaya kamera profesional (pokoknya selain kamera HP dan pocket sebagai¬†batasannya akan dikenai biaya ratusan ribu sampai jutaan rupiah). Bukan sekali aku membaca di social media tentang keberatan masyarakat umum tentang tarif masuk tempat wisata khususnya saat ini yang kubahas di daerah bandung. Ketika¬†rombongan kami akhirnya memutuskan pindah haluan ke Tangkuban Perahu, seorang kawan expat yang tidak mempunyai kitas karena hanya business trip untuk beberapa saat saja di Jakarta harus merogoh kocek sebesar 300.000 IDR di hari Sabtu itu, sedangkan turis asing pemegang kitas cukup membayar 30.000 IDR sama dengan turis domestik. Untung saja di Tangkuban Perahu pengambilan foto tidak dibatasi untuk penggunaan kamera profesional. Uhh, please deh Menara Eiffel, Colosseum, Menara Pisa, Piramida L’ouvre dan tempat lain di Eropa yang¬†tersohor saja tidak dikenakan retirbusi untuk mengambil foto. Padahal dengan berpikiran sempit membebankan¬†retribusi yang berat buat para turis membuat wisata domestik kita terancam ditinggalkan karena terlalu komersil dan memberatkan wisatawan (tidak semua wisatawan asing bermata uang dolar atau euro loh). Wuehehe memang cape hati membahas kebijakan yang “tidak bijak” tentang retribusi tempat wisata yang terlalu besar. Lebih baik aku nikmati saja Bandung trip in Diversity ini bersama kawan-kawan dengan latar belakang multicultural ini.

Berfoto dengan formasi unik ala anak muda Jepang

Begitu sampai di Tangkuban Perahu kulihat Hiro, Sato, Shota, Minato tengah berfoto dengan formasi yang unik dengan merentangkan kaki lebar-lebar dan tangan kiri dan kanan ke atas membentuk sudut 45 derajat.

“Ehh..ehh ikutan foto ksatria baja hitam donk!” Ucapku seraya berlari kecil ke arah mereka.

Sejenak mereka berempat berpandangan bingung. “Ooo..free style foto!” Hiro menjelaskan.

“Iyah, gaya yang kayak kalian tadi di formasi, ikutan donk” Ternyata namanya gaya free style foto¬† taukk… Aku merutuki kesalahan ucapku dalam hati.

Anak muda Jepang yang modis doyan berbelanja ūüôā

Kawan-kawan expat Jepang di Jakarta modis sekali fashion and hair do stylenya. Sepertinya untuk urusan fashion mereka masih mengandalkan produk asli Jepang dan memang keren banget. Di Lawangwangi yang mempunyai Art Space Gallery dan fashion shop, Shota seorang kawan yang paling modis semangat sekali berbelanja ūüôā

Girls Talk and Selfie

Waktu ke Angkorwat dulu di tahun 2011, Aku baru menyadari bahwa turis Asia kalau berfoto memang lebih ekspresif , gaya berfoto dengan mengacungkan dua jari aka peace sign waktu itu belum begitu populer di Indonesia, Aku dan team waktu itu jadi ikut-ikutan bergaya ala turis Jepang, China dan Korea. Tapi hari sekarang, dimana gaya kekinian melanda semua umur dan fenomena selfie begitu mendunia, tak peduli latar profesi dan usia semua orang di tempat wisata pasti ada yang membawa tongsis. Maka ekspresi duck face para gadis pun tak terelakkan lagi untuk terjadi :-D. Begitu pula dengan teman baru kami FangFang, expat yang bekerja di Bank of China langsung melebur akrab dalam Girls Talk and Selfie dalam liburan kali ini.

Introduce Our Potential Tourism

Dari beberapa kawan expat yang bahkan sudah 1-2 tahun bekerja di Jakarta dan sudah sering juga business trip ke Bandung mengunjungi customer, mereka belum tahu kalau Bandung punya banyak tempat wisata hits yang mampu bikin mereka happy dan feel amazing.  Kebayang waktu lihat ekspresi mereka melongok ke kawah Tangkuban Perahu, joged-joged norak di perahu Danau Situ patenggang dan beraksi layaknya Kate Winslet vs Leonardo Dicaprio di ujung depan perahu diiringi peserta yang lain kompak menyanyikan My Heart Will Go On.

Every night in my dream.. I feel you..I See U

Ekspresi paling happy dan puas ketika melihat kecantikan danau berwarna hijau tosca di Kawah Putih Ciwidey. Hiro salah satu teman setuju kalau tempat ini mirip Pamukkale di Turkey :-D.

“Kamu sudah pernah berkunjung ke sini Anita san?” Tanya Hiro dengan bahasa Indonesia yang sudah lancar. Waktu Aku bilang sudah yang ke-4 kali “Tapi kamu tidak bosan ya?”¬†ekspresi Hiro terheran.

“Karena Aku selalu menikmati trip bersama kawan baru !”

Berburu Tempat Hits di Bandung

Kota Bandung terkenal akan kreatifitas warganya, banyak musisi dan pekerja seni profesional terkenal berasal dari kota ini. Tak heran sebuah tempat yang mungkin dulunya hanya lahan kosong dapat disulap menjadi tempat wisata kreatif, edukatif dan mampu menyedot begitu banyak antusiasme pengunjung. Salah satunya adalah floating market Lembang. Tidak hanya berbagai jenis kuliner tradisional dan kuliner populer yang di tata apik dalam perahu-perahu di pinggir danau, ternyata floating market Lembang juga dipercantik dengan taman-taman tematis mulai dari aneka binatang peliharaan seperti kelinci, angsa, bebek juga ada taman bertema kesenian tradisional Sunda. Cakep dehh sangat edukatif, menghibur dan mengenyangkan :-D.

Ada satu restaurant yang mencuri perhatianku dari pertama melihatnya di media sosial salah satu teman yang dulunya kuliah di Bandung. Lawangwangi Creative Space, karena ada art space gallerynya, kebayang bakalan keren dari foto-foto yang Aku lihat. Malam minggu pukul 19.30 kami sampai di Lawangwangi  dan parkiran mobil sudah terlihat ramai, di depan gerbang beberapa orang seperti sekuriti bilang resto sudah penuh dan mobil kami tidak dapat masuk, tapi karena sudah lapar dan lelah kami nekat turun dari mobil dan berjalan ke arah lobby depan :-D.  Setelah bilang ke sekuriti mau ketemuan janjian sama teman di dalam kami lolos masuk. Sembari mengantri waiting list kami menikmati Space Art Gallery yang menyajikan seni kontemporer dengan ide-ide fresh dan genius! Ahaa.. ada satu menu yang kuingat untuk Spaghetti Tuna dengan irisan cabe rawit..terlalu super pedasss buat lidah orang Jepang :). Live music di resto ini sangat keren dengan perform yang maksimal dari para musisi didukung dengan audio sound dan music yang profesional. Shota Kanemoto teman baru kami yang memnag vokalis band menyumbangkan dua buah lagu diiringi band, Treasure by Bruno Mars menghangatkan dan mencairkan suasana resto malam itu, semua pengunjung ikut bernyanyi menjadi semacam konser mini di penghujung malam itu.

Setelah Bandung trip in Diversity selama 2D1N itu kami kembali ke Jakarta untuk kembali beraktivitas kembali masing-masing. Tetapi segudang rencana sudah kami bicarakan. Hiro mengundang kami untuk next Pizza Party..Yeaaaai..moga cita-cita teman kita yang satu ini untuk membuka kedai pizza di Jakarta dapat terealisasi ūüôā dan FangFang yang hobby traveling sudah menawarkan jika suatu saat Urban Traveler ini ke China, dia dan teman-temannya siap menemani ūüôā

Thank U All…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s