Nabana No Sato Sparkling Winter Illumination


Hujan salju sore itu makin memburuk di Tokai Hokuriku Expressway selepas Takayama, Gifu Prefecture. Ditingkahi hembusan angin musim dingin yang kuat di sepanjang jalan tol, menciptakan badai salju yang cukup membuat kami berempat merasa tidak nyaman di dalam mobil, takut kalau jalan tol menjadi begitu licin dan tyre snow pun menjadi slip, atau bayangan meresahkan lainnya seperti tidak terlihatnya kendaraan lain di depan kami karena jarak pandang yang begitu pendek tertutup badai salju.

Sore itu kami berencana menuju Nabana No Sato yang terletak di Kuwana City, Mie Prefecture. Menurut map perjalanan sepanjang 174 km dari Takayama Old City itu akan ditempuh dalam waktu 2.5 jam. Tetapi badai salju membuat waktu estimasi tempuh menjadi berubah. Beberapa kali kami mengalami antrian kendaraan di jalan tol yang dilalui, entah ada peristiwa apa laju kendaraan tersendat di saat badai salju itu sehingga di tengah perjalanan selepas Mino dan karena takut kemalaman sampai Nabana No Sato, Akihiro mengambil keputusan untuk mencari jalan pintas keluar dari jalan tol dan memasuki jalan perumahan tempat tinggal di luar jalan tol.

Sampai akhirnya mobil kami berjalan semakin jauh menyusuri jalan kecil perumahan tempat tinggal dekat tebing-tebing bukit yang berjalan sempit dan berliku, tertutup tebalnya salju. Mobil kami hanya berada sendirian di jalan gelap dan hujan salju belum juga mau berhenti. Senja itu begitu kelabu di tempat “Middle of nowhere” ini, tidak ada penerangan lampu jalan yang memadai. Tumpukan dan bongkahan salju di kiri kanan jalan hampir tumpah ke lintasan jalan mobil. Hanya ada dua lajur bekas ban mobil yang hampir tertutup salju lagi yang mampu meyakinkan kami jalan ini siang tadi pernah ditempuh mobil lain.

“hey look, there is a light from another car in front of us!” Ujarku menunjuk ke arah depan dimana sebuah cahaya mobil mampu sedikit menenteramkan hatiku.

“But they want to come here with opposite direction with us” Akihiro menyadari jalan dua arah yang begitu sempit karena tumpukan salju.

Akhirnya mobil kami hanya berdiam dulu mempersilahkan truck ranger tua itu melintas. Pengemudinya mengucapkan terma kasih dan senyum selepas mobil kami berselisipan di jalan kecil itu. Kembali mobil kami melintas sendiri di area perbukitan kecil yang naik turun itu.

“Anita, I am worried with this condition” Aki berucap di dalam hening.

Jreng..Jrengg…seakan terdengar nada minor dari tuts piano serupa musik pengiring film bergenre horor. Ade dan bu Alin di seat belakang sibuk mengajukan option putar balik dan tidak usah menuju Nabana no Sato. Tentu saja tidak bisa. Aku meneguhkan hati bahwa badai pasti berlalu (Taelahhh) sambil sembari sesekali memberi support kepada Akihiro.

“Ahhh..akhirnya itu jalan aspal semakin terlihat dan menipis saljunya di depan sana!” Mobil mulai keluar dari area “middle of nowhere” dan mulai memasuki jejeran gate masuk tol di jalur jalan yang lebih lebar. Anehnya lagi bagiku yang baru kali ini ke daerah curah salju tinggi di Jepang, begitu kami tiba di dekat Nagoya daerah sama sekali tidak bersalju, jalan tol bersih, kontur perbukitan tidak tampak lagi, hanya jalan layang tol yang seakan bertumpang tindih bersimpangan. Melewati Nagoya hati kami semua merasa lega sekali, desa bunga atau Nabana No Sato sudah dekat dari sini.

Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 malam ketika kami sampai di Nabana no Sato. Tidak ada salju di Kuwana City  ini, tetapi Bbrrrr…betapa angin dingin berhembus hingga terasa menampar pipi dan membekukan telapak tangan. Kami berempat bergegas menuju gate tiket untuk masuk ke dalam area Winter Illumination. Tiket Nabana no Sato telah kami beli di convenience store di Takayama Old City seharga 2000 yen dan sudah termasuk 1000 yen store voucher yang dapat digunakan untuk membeli makanan siap saji atau oleh-oleh dan cindera mata di toko dalam area Nabana no Sato.

Begitu selesai urusan tiket masuk, mata kami langsung disambut pemandangan yang spektakuler dimana jutaan lampu LED lam berpendar menghiasi taman di musim dingin ini. Dimulai dari landscape taman berbalut lampu, bangunan dan semua pohon di kebun bunga ini di balut lampu LED warna-warni sampai terowongan panjang berbalut lampu serasa berjalan di antara gugusan bintang.

Sempat pula kami merasakan naik UFO flyer, sebuah piringan terbang yang membawa kita ke ketinggian tertentu untuk menyaksikan semua area Nabana no sato. Piringan yang akan naik ke atas pada satu tiang poros itu akan berputar 360 derajat begitu mencapai ketinggian maksimal. Dikenakan biaya tambahan 500 yen untuk naik atraksi UFO flyer ini. Karena tersedia serambi di luar ruangan silinder UFO itu, kami penasaran berdiri di pagar serambi dan ternyata dinginnya luarrr..binasa ketika piringan UFO sampai di atas :-D. Tidak hanya pemandangan seluruh kebun bunga Nabana no Sato yang terlihat tapi bagian desa yang lain sampai ke dermaga di tepi laut. Desa ini mempunyai pelabuhan kapal kecil yang indah dihiasi lampu-lampu di malam hari.

Atraksi yang paling spektakuler malam ini adalah replika Niagara Falls yang disusun dari jutaan LED lamp yang bergerak dan berubah layaknya layar plasma yang besar dan membentuk figur 3 dimensi yang sangat besar. Kami berempat harus naik ke bangunan berlantai 3 untuk menyaksikan Niagara Falls ini.

“So, do you happy with all of these tonight?” Akihiro bertanya kepadaku

“Yeaaa. I am very happy! Thank you! Arigatou gozaimasu!” Refleks aku dan Ade meloncat dan berpegangan pada bahunya, persis seperti Froddo Baggins ketika bergelayut canda dengan Gandalf 😀

Advertisements

5 thoughts on “Nabana No Sato Sparkling Winter Illumination

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s