Menyelusup ke Balik Danau Lau Kawar di Kaki Gunung Sinabung


Sore itu sembari berbincang kami sibuk menyeruput perlahan kopi hitam di rumah makan Singgalang sambil ditemani sepiring pisang goreng hangat dan kacang kulit, sungguh perpaduan yang pas untuk menghabiskan sore yang cerah. Tetapi sore itu kami bertiga tak hanya hendak mengopi dan bercengkerama sekedar untuk melewatkan sore di Parapat, kami sedang menunggu rombongan kawan yang akan datang dari Tarutung untuk bersua di tempat ini. Kami sendiri bertiga sebelumnya seharian tadi menghabiskan waktu menjelajah pulau kecil cantik di tengah Danau Toba, Samosir dan mengakhiri perjalanan sore hari untuk menyeberang dari Tomok sampai ke pelabuhan Ajibata di Parapat.

Dering telpon yang kutunggu akhirnya tiba juga, Ester salah satu kawan dari rombongan Tarutung mengabarkan posisi sudah di dalam kota Parapat dan segera kuarahkan untuk menuju rumah makan Singgalang tempat kami berada sekarang. Ternyata 5 orang kawan yang datang dari Tarutung, kami segera berbagi tempat yang sangat ngepas untuk 8 orang di mobil Toyota Kijang. Tujuan kami selanjutnya adalah ke Brastagi yang berjarak 113 km dari Parapat dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam. Senja telah turun ketika kami menyusuri jalan raya beraspal di Parapat pinggiran Danau Toba, salah satu sore paling indah dalam hidupku karena tak habisnya terpesona oleh keindahan Danau Toba yang dikelilingi pegunungan hijau bukit barisan yang berjajar tinggi kokoh membendung danau berair kebiruan.

Sudah waktunya makan malam begitu kami tiba di Berastagi, kota kecil berhawa sejuk ini membuat selera makan menjadi enak. Memasuki wilayah tengah kota banyak berjejer warung makan kaki lima dengan aneka kuliner yang menggugah selera. Diantaranya pilihan makanan ikan air tawar yang segar yang kami jadikan menu santap malam kali itu.  Kawasan Berastagi serupa dengan Puncak di Jawa Barat, banyak terdapat villa keluarga yang juga disewakan. Tempat kami menginap memiliki bangunan villa utama yang di depan beranda teras bagian atasnya bertuliskan “Anno 1922” (Anno adalah Anno Domini atau sering disingkat  A.D.) Kesan jaman Belanda sangat terasa dari model bangunan villa juga kayu jati sebagai bahan materialnya.  Kami merasa sedang dalam syuting film Little House on the Prairie 🙂

Note:

Banyak yang menanyakan nama hotel tempat kami menginap di Berastagi via email. Hotel di Berastagi itu bernama Hotel City Holiday StoomVaart dengan link FB sbb dan ada nomer telpon yag bisa dihubungi.

Kami belum mempunyai itinerary yang pasti untuk di Berastagi ini. Pagi hari sehabis sarapan kami dipertemukan dengan Herman sepupu Dewi yang bekerja di salah satu hotel besar di Berastagi. Herman akan mengantarkan kami ke daerah wisata di sekitar Berastagi. Sebagian dari kami ingin tempat yang lebih menantang dari sekedar kebun buah dan sayur di Berastagi :-D, akhirnya disepakati kami akan ke Danau Lau Kawar yang terletak di kaki Gunung Sinabung. Jarak dari kota Berastagi ke Danau Lau Kawar hanya sekitar 12 km dan dapat ditempuh dalam waktu 30 menit saja. Tetapi di tengah jalan rombongan kami yang terdiri dari 9 orang ini tertarik dan terpesona melihat barisan perkebunan sayur mayur yang nampak segar di Gung Negeri, Kabanjahe Tanah Karo ini dan latar belakang dari kebun sayur mayur di desa itu adalah Gunung Sinabung. Tanpa buang waktu lagi kami segera turun dari mobil dan berfoto di tengah jalan kampung yang sepi itu. Sampai berpose ala model duduk di tengah jalan segala :-D. Gunung Sinabung yang dalam kurun waktu dari tahun 2010-2015 sering diberitakan mengalami erupsi letusan sebenarnya adalah gunung yang sudah tertidur selama 400 tahun. Letusan terakhirnya adalah di tahun 1600. Ketika kami kesana di tahun 2012, Sinabung sedang anteng-anteng saja. Pesonanya sungguh memikat ketika bersanding dengan Danau Lau Kawar di kelurahan Gung Negeri , Kabanjahe Tanah Karo yang hanya berjarak kurang lebih 36 KM.

Di kawasan wisata Danau Lau Kawar juga terdapat area perkemahan dan sudah tersedia fasilitas kamar mandi umum. Atraksi di danau itu adalah naik perahu motor tempel keliling danau. Ada hal yang sedikit mengganggu, pengelola kawasan itu menyetel musik dangdut keras-keras sekali dan corong speaker pengeras di pasang di tiang-tiang tinggi di ujung kanan dan kiri tepi danau. Kebisingan yang sangat memekakkan. Tidak mungkin meminta musik bising itu dimatikan begitu saja. Yeni memberanikan diri mendatangi rumah pengelola dan meminta musik tradisional Batak saja yang di putar, karena alasannya kami datang dari Jakarta pengen dengar lagu-lagu Gondang Batak. Ahaaa..solusi yang lumayan. Walaupun sama keras suara musiknya tetapi kami lebih menikmati Gondang Batak untuk menemani keindahan Lau Kawar dan Gunung Sinabung.

Danau Lau Kawar tidak begitu besar, sedari kami mengantri giliran naik perahu, kami sudah penasaran dengan rerimbunan pohon serupa hutan kecil di balik danau. Kalau cuma keliling danau naik motor memang masih kurang menantang untuk para Bolang ini hahaha :-D. Gayung rupanya bersambut, bapak perahu kita kali ini melihat bakat para “Travelbandits” ini. Perahu boat sebelumnya tidak ada yang merapat ke hutan, tetapi perahu kami semakin bergerak menepi ke arah rimbunan pohon dan kami diminta turun dari perahu. Si bapak Perahu tidak memberi tahu petunjuk apapun apa yang akan kita liat di dalam hutan. Kami yang berjalan berbaris di jalan setapak dalam hutan kecil dan semua mulai sibuk bertanya kepada orang yang berjalan di depannya.

“Kita mau kemana sih? Duh ini jalannya setapak buat satu orang dan basah ada sungai kecilnya” Aku mulai reseh.

“Yeni kita mau kemana?” Charlie mulai bingung

“Tommy, kita mau ngapain yah?” Yang ditanya asyik sekali memotret rombongan yang susah payah berjalan. Sampai ketika giliranku difoto, aku sukses terjatuh karena mencoba melompat di batu besar yang licin..Byuuurrr..basah deh di aliran sungai kecil itu.

Ternyata tujuan kita adalah sebuah air tejun mini di dalam hutan, airnya segar sekali, masih bening, diminum pun rasanya segar sekali. Kami bersembilan orang tertawa-tawa senang seakan menemukan harta karun. Gantian berfoto di atas air terjun yang licin. Rasanya kami seperti terbawa mesin waktu, terbawa kembali ke masa kecil. Lupa rutinitas kantor, tugas, tagihan 😀 hahaha..sejenak kami bermain dan tertawa, ciprat-cipratan air dan berfoto dengan tampang konyol. Terima kasih untuk Bapak Perahu yang membawa kita sejenak berpetualang dengan mesin waktunya.

Baru ketika di perahu kembali aku sadar kakiku berdarah di tempeli pacet, susah sekali diambil. Herman mengeluarkan tembakau dari rokok filternya untuk dibubuhkan ke pacet yang makin gendut itu 🙂 dan menghentikan pendarahan kecil di kakiku.

Bapak Perahu membawa kami kembali berkeliling setengah dari danau dan kami kembali terhanyut melihat tepian Lau kawar dengan beberapa cottage bungalow di tepi Lau Kawar dengan Gunung Sinabung berdiri mempesona di belakangnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s