Membuka Album Kenangan di Zaanse Schans dan Volendam


Pagi yang cukup dingin di Paris bulan Mei itu menyambut langkah kami bergegas keluar dari hotel untuk menuju Stasiun Gare du Nord yang berjarak hanya 300 meter dari hotel tempat kami menginap. Kota Paris masih lengang di pukul 6.40 pagi itu, hanya beberapa orang yang tergesa seperti akan berangkat ke kantor dan beberapa traveler dengan jadwal kereta pagi seperti kami yang memasuki stasiun. Ini pertama kali buat kami bertiga, aku dan kedua travelmate Yeni dan Ade untuk melakukan perjalanan kereta api antar negara di Eropa. Yaap.. kami akan mengunjungi Wulan teman SMAku dan yeni yang tinggal di Almere, Holland.

Karena masih bingung dan belum tahu peron yang mana yang harus kami hampiri, Aku segera mendekati box kecil transparant yang terletak di tengah stasiun tak jauh dari jajaran peron. Aku bertanya di box pusat informasi untuk kereta Thalys yang berisi seorang petugas wanita di balik kaca. Setelah memeriksa tanggal tiketku sekilas petugas memberi jawaban.

“Ohh, your train is not coming yet. Please waiting until the train come.”

Itu sih yang aku dengar karena antrian yang mau bertanya lumayan banyak dan suasana bertambah ramai jadi sebenarnya kurang fokus.

“Belum datang nih keretanya disuruh tunggu. Sarapan dulu yuk,” Ajakku pada travelmate.

Kami bertiga melewati papan besar menggantung di tengah stasiun dan kotak-kotak balok kayu yang menempel pada papan bergemuruh ketika berbalik posisi pada suatu waktu tertentu. Balok-balok kayu itu berisikan tulisan huruf dan angka.

“Papan apaan sih itu?”.

“Iya aneh bener suaranya, dari tulisan yang ada itu jadwal kereta yang mau berangkat.”

“Tapi kan nanti pas kereta kita datang ada pengumuman dari pengeras suara”

Ketiga traveler ini berceloteh tanpa mau memperhatikan lebih jauh papan hitam besar berisi jadwal kereta dan malah asyik memilih cafe roti dan kopi yang ada di dalam stasiun. Jam masih menunjukkan pukul 6.50 dan waktu kereta kami berangkat ke Amsterdam adalah 7.25. Kami menemukan sarapan roti dan kopi yang enak sekali, aneka pastry lembut dengan rasa yang fresh dan tidak terlalu manis. Penjaga cafe nya seorang pemuda Asia jelmaan Lee Min Ho pula, jadi betah ngopi dan sarapan pagi itu!

Hampir 20 menit kami disitu dan berharap sembari sarapan kami mendengar suara pengumuman dari pengeras suara kereta Thalys jurusan Amsterdam akan diumumkan. Ketika waktu semakin mendekati 7.25 baru kami kembali bertanya ke box informasi dan kami harus bergegas ke peron yang di sebutkan petugas! Lari-lari tak keruan dan ketika kami mendapati peron, tidak ada kereta yang dimaksud!

Keadaan semakin membingungkan , sampai kami melihat 2 pramugari kereta turun dari kereta yang kami yakini bukan Thalys tetapi dari provider kereta lainnya dan dengan nafas tersengal-sengal sehabis berlari kami tanyakan juga perihal tiket dan peron kereta kami sembari menunjukkan tiket pada kedua orang itu.

“Your train is gone!” Si Pramugari pirang berkata dengan marah, penampilannya yang mirip Emma Baby Spice Girl menjadi tak enak lagi untuk dilihat.

 “You should pay attention to the big board! Where is your platform! The board will inform your the platform number in 15-10 minutes before your train arrived!” Cerocos omelnya bertambah parah sembari meninggalkan kami tanpa senyum, hanya temannya yang mengangguk tersenyum ketika kami ucapkan terima kasih dengan lemas.

“Ooooo…. begitu caranyaaa” Ketiga orang ini ternganga dengan lega.

Kami para travelbandit mencoba menghadapi tragedi ini dengan kepala dingin dalam menghadapi masalah dan jangan panik karena kami percaya kesempatan dan rejeki untuk traveling akan ada lagi jika kita berusaha 🙂 dan cara ini selalu memberikan hasil yang positif.

Kami tiba di Amsterdam Centraal lebih lambat 3 jam dari rencana semula. Setelah membeli tiket kereta lagi (yang ahh.. gak usah diingat kelipatan harganya dibanding booking online). Mendarat di Belanda Aku terserang rasa haru, antara mau ketemu teman lama jaman SMA , merasa punya keluarga di Eropa yang datang menjemput kedatangan kita dan yahh.. sedikit pengaruh dari buku sejarah yang menulis bahwa bangsa Indonesia dijajah selama hapir 350 tahun oleh Belanda dan bahwa kemajuan pembangunan di negeri Belanda sebagian adalah sumbangsih kekayaan alam dan tenaga bangsa Indonesia. Semua rasa itu terbungkus jadi satu, campur aduk.

Wahh..Wulan sampai menunggu di peron dan tepat di depan gerbong kereta begitu kami bertiga turun, tak ayal lagi ajang peluk memeluk dengan haru dan air mata bahagia, rindu, kangen ketemu teman masa abg remaja :). Tak lama setelah diperkenalkan dengan Japp suami Wulan kami bergegas menuju Amsterdam untuk mengubek-ngubek tempat yang paling favorit buat para turis. Japp memarkir mobil di seberang pulau dari stasiun Amsterdam Centraal. Haha.. ini semacam kanal kecil yang memisahkan dua daratan dan kami akan menuju ke bagian utara Amsterdam, jadi dari bagian belakang stasiun kami harus sebentar naik fery selama 10 menit untuk menyeberanginya.

Tujuan pertama kami adalah Zaanse Schans. Yaaa..dari awal menyusun itinerary kami ingin sekali melihat desa kincir angin. Aku kira Zaanse Schans merupakan daerah nelayan asli, ternyata ini merupakan semacam open air museum. Sekitar 35 kincir angin dan bangunan bersejarah di Zaanse Schans di pindahkan sedikit demi sedikit sejak tahun 1961 dari Zaan region, sebuah daerah di sepanjang Sungai Zaan di Utara Belanda. Museum Zaanse Schans ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1994.

Bangunan pertama yang kami masuki adalah rumah penjual aneka kue dan camilan khas tradisional Belanda. Beneran rasanya itu seperti pulang ke rumah Nenek Kakek, Oma Opa kita di Indonesia. Yaa secara pengaruh kultur Belanda selama ratusan tahun yang melekat di Indonesia. Aku tertawa-tawa gembira ples kangen jaman masa kecil ketika membantu bude membuat kue ketika melihat cetakan kue dari kayu dan loyang yang super tebal dan berat. Beberapa permen jaman dulu juga masih eksis dijual di sini.

Melanjutkan langkah disambut angin sepoi di tepi sungai Zaan, terlihat pemandangan yang terkenal selama ini di postcard dan poster wisata Belanda. Deretan rumah kincir angin warna-warni di tepi sungai Zaan. Terdapat kurang lebih 7 rumah kincir angin, yang ternyata pada jaman dulu berfungsi sebagai pabrik tempat pembuatan kebutuhan industri seperti cat, bahan kimia, pembuatan kayu, penggilingan gandum atau pengolahan minyak.

Beberapa kincir angin yang ada di Zaanse schans itu adalah:

  • De Huisman (The Houseman), dibuat pada tahun 1786 di Zaandam dan berfungsi sebagai pabrik penggilingan mustard.
  • De Gekroonde Poelenburg (The Crowned Poelenburg), yang merupakan tempat penggergajian kayu.
  • De Kat (The Cat), pabrik pembuatan pewarna dan cat.
  • Het Jonge Schaap (The Young Sheep), pabrik penggergajian kayu yang dibangun pada tahun 1680 dan saat ini merupakan replika yang berada di museum Zaanse Schans.
  • De Zoeker (The Seeker), dibangun pada 1672  memproduksi minyak nabati dari hasil penggilingan biji tanaman penghasil minyak.
  • Het Klaverblad (The Cloverleaf), juga merupakan tempat penggergajian dan pembuatan kayu untuk kebutuhan bangunan.
  • De Bonte Hen (The Spotted Hen), penggilingan minyak.
  • Beberapa kincir angin lokal lainnya yang lokasinya dekat dengan museum seperti De Os, De Twiskemolen, Het Klaverblad, Het Pink dan lainnya.

Tidak semua kincir angin dapat dikunjungi setiap hari, perlu diperhatikan jadwal kunjungan dan bisa di cek melalui website Zaanse Schans yang sangat informatif untuk harga tiket dan kendaraan umum untuk menuju ke museum ini.

Adapula rumah penghasil industri keju di Zaanse Schans ini dan masih aktif memproduksi aneka keju lezat yang di jual di dalam rumah itu sendiri. Pssstt..ketika makan siang tiba Japp mengajak kami mencicipi aneka sample keju di sini sampai super kenyang 😀 rasanya lezat sekali dengan berbagai kombinasi rasa, ada keju dengan rasa herb yang berwarna hijau, beda proses fermentasi beda pula rasanya..semuanya yummy!

Yang khas dari pakaian tradisional Belanda apalagi kalau bukan clog alias sepatu klomp, yang di Indonesia sering kita sebut sandal klompen..Aihh menir banget. Di Zaanse Schans juga terdapat museum dan workshop pembuatan klompen. Pengunjung museum dapat melihat demo pembuatan clog di workshop gallery. Klompen ini telah diakui sebagai safety shoes loh karena mampu bertahan dari berbagai macam penetrasi mulai dari benda tajam sampai serangan cairan asam. Masih banyak orang Belanda yang bergiat di bidang pertanian, taman, kebun dan pasar menggunakan klompen ini karena faktor kenyamanan dan keselamatan itu. Klompen dapat dibuat dari kayu pohon willow atau poplar.

Karena jarak berkendara yang dekat antara Zaanse schans dan Volendam sekitar 24.5 km, maka tujuan berikutnya buat kami yang ngidam penasaran makan ikan Haring mentah akhirnya kesampaian juga mencicipinya di desa nelayan Volendaam. Ternyata segar juga ikan haring mentah dimakan bersama acar timun dan bawang serta perasan jeruk lemon. Aku yang memang penyuka daging ikan mentah sangat puas dan menambah berkali-kali :-D. Di Volendam ini banyak berjajar toko souvenir dan studio foto untuk berfoto dengan pakaian tradisional Belanda ala nelayan dan keluarganya dengan gaya abad 17-18, dengan latar belakang perapian yang hangat. Banyak sekali studio foto yang memajang foto para tokoh politik, pemerintah dan selebriti Indonesia, sebut saja kami tersenyum-senyum waktu menemukan etalse yang memajang foto Gus Dur, Ibu Megawati Soekarnoputri, Pak Habibi dan sederet artis kawakan terkenal Indonesia, membuat kami langsung masuk ke studio foto.

Menghabiskan sore hari di Volendam nampaknya menjadi favorit bagi banyak orang, banyak resto dan cafe berjejer di sepanjang pinggiran kanal dengan pemandangan barisan kapal-kapal kecil yang sedang bertambat di dermaga dan tingkah burung-burung bangau yang sibuk mengepakkan sayap putihnya yang lebar berterbangan di pinggir dermaga Volendam.

Advertisements

8 thoughts on “Membuka Album Kenangan di Zaanse Schans dan Volendam

    1. Amsterdam, Holland itu kayak punya daya magic tersendiri menyerap orang Indonesia, yah pasti karena kultur warisan mereka tertinggal pada warisan kakek nenek kita minimal dan sejarah penjajahan 350 tahun jaman sekolah itu loh..hehe itu sih yang membuat aku pengen mengunjungi Belanda ditambah ada beberapa teman bermukim di sana. Klo spending time di Amsterdam buat yang penasaran sama red district mangga atuh hehe, canal cruisenya, Zaanse Schans sama Volendam juga manis buat nostalgia. Klo datang di spring pas ada festival tulip itu yang paling dicari..Ams Centraal-Keukenhof lamanya 1,5 jam one way. Eniwei met jalan-jalan 🙂 spending time buat buat traveling ke tempat baru selalu menarik 🙂

      Like

  1. entah kenapa aku kok juga ngerasa nyaman ya di amsterdam, trus sedih-sedih gimana gitu waktu mau pergi. sekarang pun kalo diajak kesana lagi, mau banget. Tapi lebih diprioritaskan yang belum pernah aja deh 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s