Kehangatan di Pahawang


Kulirik jam tangan dan angka digitalnya menunjukkan sudah pukul 23.30 malam. Refleks ku menengok ke arah jendela kaca di dalam bus AC antar kota antar propinsi ini, fiuhh…suasana masih belum berganti sejak aku terjaga sebelumnya satu jam yang lalu. Bus masih berada di sekitaran kota Serang. Kulirik travelmate yang nampak nyenyak tertidur di seat sebelahku. Rasa jemu makin mendera karena travelmateku Ami tidak sedikitpun membuka matanya lelap tertidur, mau mengajaknya ngobrol untuk menghilangkan kepenatan karena kami telah menempuh perjalanan lebih dari 4 jam dari kota Bekasi. Begitu kulihat Ami mulai bergeliat terbangun, tak menunggu lama segera kubuka percakapan.

“Banyak ngetem nih bus dari sejak di kota tangerang, udah mau jam 12 malam kita masih di Serang”, keluhku dengan segala penat dan bosan.

“Ohh..ohh..dimana nih?” Ami tampak tergelagap bangun dan mata minus 6 nya perlu beradaptasi beberapa saat melihat ke sekeliling.

“Hendri sama teman-temannya dah sampai Merak nih, padahal bus mereka start lebih lambat dari bus kita”, infoku setelah mendapat wasap dari travelmate lain yang berangkat terpisah untuk menuju Merak.

“Temen gue, Wini malah posisinya masi di belakang kita”, info Ami tak kalah lemas.

Pasrah kami mengikuti alur rute bus super keong kebanyakan ngetem ini dan akhirnya menjelang pukul 12 malam baru bus memasuki wilayah pelabuhan Merak. Rekor yang menyebalkan, seharusnya Bekasi Merak dapat ditempuh dalam 3 jam saja, kali ini dengan bus yang hobby ngetem kami menempuhnya selama hampir 5 jam! Kernet bus sibuk berteriak-teriak bahwa ini pemberhentian terakhir bagi yang akan menyeberang ke Bakauheni menggunakan Kapal Motor Penyeberangan (KMP) dari Pelabuhan. Rombongan yang terpisah-pisah segera menyatukan diri dan Wini datang sekitar 20 menit kemudian.

Pertemuan teknikal singkat dilakukan operator open trip sebelum kami memasuki gate karcis menuju KMP bersandar. Total rombongan mencapai sekitar 60 orang. Ya..kali ini Aku dan beberapa travel mate mengikuti opentrip yang sedang hits dan berbiaya sangat murah untuk 3 hari 2 malam seharga 495rb ke Pulau Pahawang di Lampung sudah termasuk transportasi, akomodasi dan makan. Penyeberangan ke Bakauheni berjalan pada pukul 2.00 dini hari. Ini pertama kali buatku ke Lampung dan pertama kali pula menaiki kapal laut besar, kami berjalan di sepanjang lorong besi dan beratap, bertingkat menuju ke bagian atas kapal. Tinggi juga lorong-lorong besi tempat kami berjalan kurang lebih setara dengan ketinggian lantai 2 dan 3 bangunan bertingkat, sampai ketika pandanganku terantuk pada bagian lambung kapal..wahh gede banget nih kapal (terkagum di dalam hati takut dibilang katro baru pertama kali naik KMP besar :-D). Pantas saja besar karena KMP yang melayani penyeberangan Merak-Bakauheni seperti KMP Batu Mandi, Sebuku dan Legundi mempunyai tonase mencapai 5000 GT, panjang badan kapal mencapai 109 mtr. Daya tampungnya mencapai 142 unit kendaraan dan 182 penumpang. Cocok banget untuk memfasilitasi arus wisata ke Pulau Lampung yang semakin meingkat belakangan ini. Sesampai di atas KMP, beberapa orang penumpang nampak tergesa memasuki pintu kaca tebal yang dijaga petugas, rupanya itu ruangan VIP yang ber-AC. Karena merasa lelah dan tidak sanggup duduk di teras kapal, kami semua memasuki pintu tersebut dan membayar retribusi tambahan sekitar 10rb untuk upgrade ke ruang vip. Penyeberangan Merak-Bakauheni hanya berlangsung selama 2 jam, maka di jam 4.00 pagi itu sudah terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa kapal akan segera menepi ke Bakauheni.

Dalam keadaan di landa kantuk dan kami yang sibuk menguap sambil memanggul keril kami berjalan mengikuti instruksi dari operator open trip, rombongan besar kami berkumpul di satu titik dekat pintu keluar pelabuhan Bakauheni. Setelah mendapat briefing dan penjelasan singkat kami dibagi menjadi group kecil berjumlah 7-8 orang untuk menaiki mobil jenis family car yang sudah disediakan. Sekitar 2,5 jam perjalanan dengan mobil untuk menempuh Pelabuhan Bakauheni sampai dermaga Ketapang yang berjarak 89 km. Dari dermaga Ketapang inilah kami menaiki perahu kecil berkapasitas 20 orang untuk menuju Pulau Pahawang Besar selama 1 jam dan disana kami akan bermalam di homestay rumah penduduk setempat.

Pulau Pahawang Besar berada di kecamatan Punduh Pedada, kabupaten Pesawaran, Lampung. Luas pulau Pahawang besar ini sekitar 1084 Ha. Ada 6 dusun di Pulau Pahawang Besar, yakni Suakbuah, Penggetahan, Jeralangan, Kelompok, Pahawang dan Cukuhnyai dengan penghuni sebanyak  sekitar 1. 533 jiwa. Penutur bahasa di Pulau Pahawang Besar ini adalah orang Sunda dan masih menggunakan bahasa Sunda untuk komunikasi keseharian mereka. Namun kesan pertama yang aku dapati ketika perahu mulai menepi di dermaga Pahawang Besar ini  kurang mengenakkan, sampah domestik rumah tangga tampak beberapa mengapung di bibir batas dermaga. Pantas saja trip ini berbiaya sangat murah, dalam satu rumah homestay diinapi oleh 14 traveler dengan tidur hanya beralaskan tikar dan kamar mandi hanya tersedia satu saja dengan sebuah sumur timba. Sungguh sebuah perjuangan untuk melakukan aktivitas bersih-bersih. Pilihan lain adalah menyewa kamar mandi di luar rumah yang terletak dekat dermaga, otomatis kalau mau mandi di luar harus membawa buntelan berisis peralatan mandi dan baju ganti. Belum lagi nyala listrik hanya tersedia dari jam 18.00 sampai jam 22.00 malam saja. Terbayang betapa kami 14 orang itu harus bergantian meng-charge aneka peralatan elektronik dan gadget dalam waktu yang terbatas. Haha..mungkin jika traveler yang sudah siap akan kondisi yang akan di hadapi seperti ini tidak akan terlalu grumpy :-D.

Aktivitas yang kami lakukan selama di Pahawang ini menjelajahi beberapa pulau terdekat dari Pahawang Besar seperti Kelagian Kecil, Kelagian Besar, Pulau Gosong untuk snorkeling atau sekedar bermain di pantai yang berpasir putih bersih selama 2 hari. Pasir putihnya menggoda sekali untuk berlama-lama bermain, begitu halus dan bersih.

Penduduk sekitar yang mulai sadar pariwisata Pahawang kian digemari membuat budi daya terumbu karang dan mempunyai nama beken spot Nemo, disana penduduk melakukan ternak karang dan budidaya anemon laut yang merupakan tempat favorit bagi si Nemo, clown fish yang imut. Di Spot Nemo terdapat tulisan dari budidaya terumbu karang Pulau Pahawang Wisataku.

Ada yang spesial pada acara malam di pulau Pahawang Besar tempat homestay kami berada dan membuat suasana menjadi hangat! Pertama makan malam diadakan secara prasmanan di teras rumah penduduk yang terletak dekat dengan lapangan besar menyerupai alun-alun kecil di dusun itu. Masakan penduduk di Pahawang yang keturunan orang Sunda ini lezat dan sungguh pedas. Aku suka! Sayur tumis ikan dan ayamnya tumpah ruah diramaikan kehadiran irisan cabai. Makan malam yang enak bagi penggila rasa pedas :-D. Setelah makan malam ternyata warga sekitar menyuguhkan acara di alun-alun kecilitu. Beberapa lampu untuk keperluan tata panggung mini tengah dipersiapkan. Beberapa audio sound dan pengecheckan kesiapannya dilakukan bersamaan. Secara otomatis para traveler yang jumlahnya mencapai ratusan orang berkumpul di alun-alun membentuk formasi lingkaran menghadap ke area berkarpet merah di tengah sebagai porosnya.

“Mau ada apaan nih Hen?” Tanyaku pada travelmate.

“Dangdutan kali” yang ditanya juga tidak kalah bingung.

Tak lama acara dibuka dengan suara MC yang berbicara dengan suara empuk dan lembut melalui pengeras suara, mengucapkan selamat datang buat para traveler di Pulau Pahawang. Rupanya dalam rangka persiapan mengikuti perlombaan kebudayaan antar Kabupaten di Lampung, kecamatan Punduh Pedada ini mengadakan persiapan atau reherseal lomba budaya tersebut, sekalian tampil menghibur para traveler ini :-D. Kami terpukau ketika menyaksikan pertunjukan tari tradisional Lampung yang dibawakan dengan gemulai oleh adik-adik pelajar SMP di dusun itu. Grumpy feeling 😀 karena homestay gak berasa lagi setelah kemeriahan acara perhelatan kebudayaan setempat malam itu, rasanya seperti bernostalgia ke jaman sekolah dan jaman perayaan 17 Agustus-an masih marak di lingkungan perumahan ketika aku masih kecil.

Penyeberangan pulang dari Merak ke Bakauheni dilakukan sore hari dan kami semua sibuk berfoto di depan geladak KMP. It was so cool! Dapat memandang ke lautan lepas dan berdiri di bagian geladak kapal yang besar seakan memuaskan dahaga petualangan.

Advertisements

6 thoughts on “Kehangatan di Pahawang

    1. Iya nih trip backpacker lgi nge hitz banget sekitaran Jakarta. Banyak bgt operatornya sekitaran Jabodetabek yang sediain jasa nge-guide trip. Perpaduan pantai pasir putih, cerah mentari, laut dan deretan pegunungan hijau jadi ramuan yang pass banget ketika berperahu mendatangi pulau2 kecil sekitar Pahawang.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s