A Narrow Squeak to Great Ocean Road & Twelve Apostle


— Sunday Morning 8.00 AM, 25th October 2015, Tullamarine Airport Melbourne —

“Hello. This is Anita speaking, as instruction from your office yesterday that I must make a phone call immediately after I am arrived in Melbourne airport.”

Aku mencerocos berbicara di gagang telepon umum di dalam bandara udara sambil menggenggam beberapa sisa uang koin yang kami punya, takut kalau kehabisan persediaan koin untuk pembicaraan penting ini.

“Yesterday I was inform to  your office for change the One Day Great Ocean Road (GOR) tour become Sunset GOR tour due to I have to change my flight and just arrived in Melbourne this morning. Mmmm..and someone from your office said will give further information and decision by this morning.”

Kutelan ludah dan mengambil nafas dalam-dalam begitu selesai menyampaikan pesan karena sepertinya customer service di seberang sana berbeda dengan yang ku telepon tadi malam dan belum mengerti benar duduk permasalahan yang aku bicarakan.

“Ok. I will check your email first and invoice number for your booking confirmation.” Suara di seberang begitu sabar dan tenang.

Jeda tak lebih dari 1 menit dan terdengar kembali suara lembut customer service,

“Ok Anita, your request already informed and noted in our system and we will contact you in 20 minutes later, soon after this phone call end.”

“Ok. Thanks” Pluk. kutaruh gagang telepon dan refleks menengok cepat ke arah Ade dan Bu Alin yang sudah tidak sabar mendengar update berita dariku.

“Mau ditelpon lagi dalam 20 menit”

“Bisa gak Ta, diubah jam jadi siangan?” Ade bertanya agak pasrah.

Aku berusaha tidak membuat kecewa kedua travelmates “Mudah-mudahan bisa. Request gue pindah ke sunset tour sudah ada di system mereka”

— Behind The Scene. Departure Area of Domestic Flight, Sydney Airport 22.00 PM, Saturday 24th, October 2015 —

“Sister this is for you”, seorang pemuda keturunan India memberikan 2 botol jus buah segar dalam kemasan kepadaku.

“Oh..thank you”, ucapku sedikit bingung setelah keluar dari nursing room selepas sholat Isya karena tidak menemukan ruang lain yang pas untuk sholat.

“But the expired will be today”, sambung pemuda ramah itu sambil berlalu.

Mataku melotot mencari tanggal expired date pada kemasan botol. Expired date akan berakhir hari ini 24 Oktober!

“Iya Ta, gw barusan juga dikasi sama Bu Alin. Nih banyak!” Tunjuk Ade pada jajaran 5 botol jus buah kemasan dengan berbagai rasa.

“Elo minum De?” tanyaku mengernyit.

“Gue minum” Ujar Ade dengan tampang yakin kalau jus buah itu enak.

“Ya udah, gue juga”. Melihat Ade tidak mules, lumayan jus buah segar kemasan itu menyegarkan dahaga.

Untuk kesekian kalinya kami ketinggalan pesawat :-D. Kali ini karena surat pemberitahuan maskapai tentang perubahan jadwal flight dengan kalimat pembuka yang super meminta maaf dan posisi pengetikan jam keberangkatan yang seperti ditransfer dari format excel ke word dan kami berdua salah presepsi sejak 2 bulan sebelum keberangkatan. Travelbandit macam aku dan Ade hanya tersenyum getir dan bete sebentar menghadapi ‘destiny’ macam ini. Kami langsung booking next flight yang ternyata hanya ada pada penerbangan paling pagi pukul 6.00 AM. Hanya kami berdua sedikit dipusingkan oleh Bu Alin yang agak ‘bertegangan tinggi’ pasca ketinggalan pesawat 😀 tapi kami bisa maklum. Karena tidak punya penginapan di Sydney untuk malam itu kami berencana tidur di terminal domestik di Sydney aiport malam itu. Kami telah bersiap mengambil tempat yang puewe alias nyaman dekat dengan baggage storage yang bersebelahan dengan nursing room, lokasi ini berada di bagian belakang departure terminal. Di ‘markas’ sementara ini kami sudah menemukan banyak stop contact di nursing room untuk meng-charge aneka peralatan elektronik dan gadget, bahkan penjaga baggage storage mempersilahkan untuk nge-charge di belakang timbangan untuk tas besar pakai acara menggeser timbangan besar tersebut.

Menjelang tengah malam suasana makin sepi, beberapa petugas kebersihan sudah selesai mengepel lantai di dalam bandara. Tinggal kami bertiga yang berjaga di jejeran kursi tunggu depan baggage storage tidak ada penumpang lain yang bermalam. Mendadak datanglah sosok itu. Pria tinggi tegap menggunakan setelan jas rapi dan memperkenalkan dirinya dari otoritas keamanan bandara. Menyuruh kami pergi untuk tidak bermalam di dalam bandara.

“We are totally closed. Please you can bring your bag and goods out of this building”, ujarnya tega.

Aku meminta pengertiannya bahwa sebelumnya kami sudah berusaha bertanya pada seorang pertugas di meja rental mobil, karena tidak menemukan meja informasi dan mendapat jawaban tidak tahu dimana hotel terdekat. Akhirnya si petugas mengantarkan kami ke stop bus dan menurut infonya akan ada bus gratis Blu Emu yang bisa membawa keluar dari bandara dan melewati Mc Donald atau Krispy Cream Donut yang buka 24 jam untuk tempat menginap. Tapi apa yang terjadi selepas si Bapak Keamanan itu pergi dari shuttle bus terdekat, sejumlah bus Blu Emu yang lewat tidak mau berhenti! hanya berbekal petunjuk dari seorang supir bus yang menunjuk-nunjuk ke arah seberang gedung di depan yang nampaknya halte resmi untuk penumpang naik, kami pun berjalan di tengah dinginnya malam yang semakin menggigit. Sampai akhirnya ada bus Blu Emu yang mau berhenti, didalamnya kami bersamaan dengan beberapa petugas bandara yang baru pulang kerja.

Kami diturunkan dekat dengan hotel Ibis Budget di bandara dan Krispy Creme juga berada di dekatnya. Ade yang sudah lelah memutuskan menginap di hotel Ibis Budget. Aku langsung setuju, kami memang belum pernah sekalipun bermalam di bandara atau fast food resto 24 jam :-D. Dalam keadaan yang luar biasa capek, kami tertidur hanya dalam hitungan jam yang singkat, sekitar 3 jam saja!

Masalah datang pada pukul 4.00 pagi ini, kami berusaha untuk menyetop bus Blu Emu yang lewat depan hotel, tetapi sampai 5 bus yang lewat tidak ada yang mau berhenti. Kami mencoba bertanya lagi pada resepsionis hotel dan menjawab jawaban yang tidak jelas, infonya kadang beberapa supir bus yang baik mau berhenti untuk mengambil penumpang di depan hotel. Aneh! Option naik taxi waktu itu menjadi ketakutan terbesar gara-gara di majalah pesawat yang kami baca waktu penerbangan bahwa rata-rata ongkos taxi di Sydney adalah 50-60 AUD. Wadow..kami jadi beneran jiper (scary) dengan ongkos itu yang ternyata tidak benar (di perjalanan berikutnya kami dengan enak naik taxi dari Opera house Sydney ke hotel daerah KingCross hanya menghabiskan 11 AUD). Ya sudahh..kami berjalan ke halte yang di maksud resepsionis sekitar 500 meter berjalan kaki dari hotel. Sampai di halte Aku berhenti menunggu Ade dan Bu Alin yang masih jauh di belakang dan bertemu 2 orang pria kulit putih seperti bapak dan Anak yang berjalan membawa ransel.

“Excuse me, do you know where is the way to domestic terminal?”, sapaku ramah.

“Yeahh we gonna to the same place with you domestic terminal. We will walking”, ujar si bapak bersemangat.

Ternyata jarak hotel ke domestk terminal hanya sekitar 1.5 Km, buat kami orang Jakarta jalan kaki jarak seperti itu terlihat jauh sekali. Hahaha beda dengan dua orang ini yang akan terbang ke Tasmania. Tapi senang ada teman jalan yang juga tidak bisa naik Blu Emu 😀

Akhirnya penerbangan paling pagi membawa kami ke Tullamarine Airport Melbourne.

Tullamarine Airport Melbourne, Sunday Morning 8.20 AM, 25th October 2015

‘Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars I’m gonna give you my heart”

Nada dering Coldplay berbunyi dari smart phoneku.

“Yes, this is Anita speaking”

“Anita, your booking of tour package for 3 persons already approved to move become Sunset GOR tour and will start at 12.00 PM. We already send the update package by email. The pick up point will be in front of Holliday inn”

Informasi dari seorang staf kantor Sightseeing tour Austalia akhirnya datang juga.

“Tour kita berhasil dipindah ke Sunset tour!” Aku berseru gembira pada travelmates karena artinya package One Day tour tidak hangus dan pindah waktu tanpa membayar lagi.

Segera kami membeli tiket Sky Bus yang biayanya 18 AUD sekali jalan untuk menuju ke pusat kota dan kami berencana rebahan dulu di tempat kami menginap Georgian Court B&B guesthouse. Perjalanan dari Tullamarine airport ke pusat kota kurang lebih hampir 40 menit. Ketika kami sudah sampai di terminal Sky Bus yang dekat dengan stasiun kereta Melbourne, mendadak Ade dan Bu Alin memberikan info.

“Ta, Holiday inn tadi gue lihat ada di dekat airport loh. Tapi gw baru lihatnya dari atas Sky Bus”

“Hahh..balik lagi donk kita ke Tullamarine kalau begitu”, Aku mendadak pusing karena rute yang diambil tidak sekali jalan.

“Kalau begitu kita check in dulu deh di guesthouse” ucapku berupaya tenang.

Down town of Melbourne

Ada pelipur lara yang datang waktu kami akan bertanya mencari alamat guest house kami, ternyata Sky Bus menyediakan jasa Hotel Transfer, jadi pasca turun dari bus bandara kami akan di antar langsung ke depan pintu hotel dengan bus transfer bersama penumpang lainnya. Yeayy..tidak perlu buang waktu lagi mencari alamat hotel.

This slideshow requires JavaScript.

Bus transfer mulai mengantarkan satu persatu penumpang ke hotel dan penginapan di sekitar kota Melbourne. Perlu di catat, dalam radius 3 KM dari stasiun central suasana kota sepi sekali! Apalagi guesthouse kami mengarah ke daerah pemukiman penduduk yang sepi. Populasinya seakan menguap entah kemana di tengah bangunan yang tertata rapi dan kuperhatikan tidak ada kendaraan umum berlalu lalang baik tram apalagi bus kota. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 10.00 AM. Otakku berpikir keras, sampai guesthouse dan check in bisa memakan waktu sampai 10.30 AM, kemudian harus naik taxi sepertinya untuk ke terminal Sky Bus di pusat kota Melbourne. Dan kemudian butuh waktu sekitar 40 menit menuju Holiday inn dekat Tullamarine airport. Tapi Arghhh…semakin mendekati guesthouse aku tidak melihat taxi yang berseliweran, hanya beberapa mobil pribadi yang melintas, untuk sekedar mencari taxi harus berjalan kaki bisa 700-800 mtr dari guesthouse nih pikirku (tanpa terpikir bisa memesan taxi via guesthouse karena panik). Tiba-tiba muncul ide itu, aku berjalan sempoyongan ke arah depan di tengah Sky bus transfer hotel yang sedang melaju.

“Hello, could you please help me..bla..bla..bla”, aku menceritakan kegundahan hati akan mengejar pick up time GOR tour pada jam 12.00 AM di Holiday inn pada driver yang kuketahui belakangan bernama Michael itu.

“Is there any suggestion from you?”, aku berharap pertanyaanku tidak merepotkan Michael dan hanya meminta saran untuk jalan keluar tercepat karena aku mengingat ketika mencari tempat bermalam di domestic terminal Sydney Airport orang-orang yang kutemui dengan ringan dan teganya hanya menjawab, Sorry saya gak tahu, Sorry saya bukan bermukim tetap di sini 😦

Kata yang keluar dari bibir Michael sungguh membuatku terperangah.

“OK. Don’t worry. I will drop you near  guesthouse and I will make round route of this bus and will comeback to pick you up in the same point as I drop you in 10 minutes. Remember only 10 minutes!”

“Oh thank you!” Kurasa pipiku memerah dialiri darah yang terpompa kencang dari dadaku, senang sekali ketemu orang yang peduli akan keperluan kita!

Tak membuang waktu kami segera berlari dari drop off point yang harus dilakukan sekitar 300 meter dari guesthouse karena lokasi guesthouse benar-benar perumahan yang jalan depannya terlalu kecil untuk bus berhenti dan jika bukan area stop bus mana mungkin bus di Melbourne mau berhenti. Tergesa berlari dan ngos-ngosan berbicara dengan resepsionis kami hanya bertanya bagaimana cara masuk ke guesthouse nanti malam karena akan datang pada pukul 12.00 AM tengah malam. Begitu beres urusan check in dan menaruh ransel di kamar yang aku rasa telah memakan waktu 10 menit, kami bertiga berjalan tergesa ke tempat bus Michael. Benar saja kulihat bus merah itu sudah berada di tempatnya. Takut sekali akan orang di negara maju yang sangat tepat waktu, aku berlari sekuat tenaga menuju ke arah bus yang mungkin saja tega meninggalkan kami dalam ketelatan waktu kurang dari 5 menit.

Hosh..hosh…hoshh..aku berhasil menggapai pintu dan masuk bus, maksudku memberitahu Michael supaya jangan jalan dulu, karena Bu Alin masih jauh berjalan di belakang. Tetapi kulihat beberapa ibu-ibu penumpang lokal sudah berada di dalam bus dan asyik bercengkerama, mungkin mereka juga memanfaatkan Sky bus untuk  menuju kota karena saking susahnya mendapatkan kendaraan umum. Detak jantung sudah normal ketika kami sampai di terminal Sky bus, jam sudah menujukkan 10.50 AM . Aku segera bersiap masuk ke dalam Sky Bus arah airport sampai kulihat Michael sang supir bus mendekat dan bertanya.

“Which one Holiday inn you’ll be picked up? There are 2 Holiday inn. One near airport and the other only few blocks from here”, tanya Michael penuh peduli.

Aku dan Ade mendadak gelagapan, “Oh I do not know it clearly, I should re-check and ask to the office tour”

Setelah celingukan aku mendapati ada telepon umum di dekat pintu keluar, dengan tergesa menuju kesana dan heboh mencari koin serta memencet nomor HP yang baru menelponku tadi pagi di bandara. Sial! susah sekali memencet nomor yang benar.

“Hey..hey What are you doing?” Michael mengejar ke arah kotak telpon umum.

“Ummm. I do not have any internet connection and phone for international call”, aku menunduk malu. “Can I use the wifi from your office? The wifi inside Sky Bus cannot use. I already try it before”, Masa bodoh aku menodong Michael.

“Hemmm.. lets we try this! I hope still have credit point on my number” Michael mengeluarkan handphone nya  dan mulai menghubungi orang dari tour.

“Your pick up point is on Holiday inn located a few blocks from here”, Aku melihat tampang Michael tetiba mirip Agen 007 James Bond setelah berhasil mendapat kata sandi untuk meledakkan reaktor nuklir milik  sang tokoh antagonis di film. Ganteng!

 “Thank you Michael”

Setelah lega punya waktu banyak sebelum pick up time. Aku bertanya ke loket Sky Bus transfer untuk meminta apakah kami bisa memesan bus untuk menjemput dari guesthouse besok pagi untuk menuju bandara. Ya memang kami hanya punya waktu singkat di Melbourne :(. Petugas loket Sky Bus transfer bersikeras bahwa pihak hotel atau guesthouse yang harus memesan dan bukan kami. Wahh birokrasi kompleks ada juga di sini. Dengan lunglai kami berjalan menuju kota telepon umum dan mulai mengangkat gagangnya.

“Hei! you still there! What for?,” Aakkk..setengah takjub aku melihat, kami kepergok Abang Michael lagi! Segera saja aku mengadu dapat birokrasi aneh dari loket.

Michael menyeret kami dengan penuh kasih sayang dengan merangkul pundak aku dan Ade, dibawanya kami ke depan loket hotel transfer.

“They are my customers! They will visit Great Ocean Road by today and I will give you a task to make bus pick up reservation for tomorrow morning from their guesthouse”

Ahahahaha..sang penjaga loket hanya mesem-mesem tersenyum “Ok valuable customer you makes me have a very important and special job”.

Hari yang indah di Melbourne.

“Thank you once again Michael”. God must be send to us this Agent 007  today.

Advertisements

8 thoughts on “A Narrow Squeak to Great Ocean Road & Twelve Apostle

      1. 4 bulan lagi ke Melbourne, mudah2an ketemu abang Michael haha.
        Aku dulu naik taksi dari Tullamarine ke pusat kota Melbourne, padahal udah jalan sama org Melbourne, tetep aja ditepu sama sopir taksi, malah dibawa muter2 sampe argo membengkak

        Liked by 1 person

      2. Makanya takut naik taxi karena salah info juga dari majalah, tapi pas pulang malem naik taxi jarak 4 km hanya 10AUD, dapet abang taxi baek ganteng juga hehehe..rejeki anak soleh..Gud luck yah buat next trip Melbourne-nya

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s