Langit Biru di Hiroshima dan Pulau Miyajima Hari Ini


Begitu keluar dari stasiun Hiroshima angin dingin di bulan Februari menyambut kami datang di kota ini. Ada sedikit perasaan haru yang membuncah di dalam dadaku, kota ini, Hiroshima, yang sejak aku duduk di bangku sekolah dasar sudah dikenalkan melalui buku sejarah. Peristiwa yang terjadi pada 6 Agustus 1945 yaitu jatuhnya Little Boy dari pesawat B-29 Enola Gay. Nama julukannya saja yang ‘Anak Kecil’ tapi Little Boy adalah bom atom berbobot 4400 KG yang berisikan Uranium-235 sebanyak 64 KG dengan daya ledak setara dengan 15 Kilotons Trinitrotoluene (TNT) meluluhlantakkan bumi Hiroshima dalam sekejap ditandai dengan awan jamur raksasa yang membumbung tinggi di langit Hiroshima. Merupakan tanda kedukaan akan tragedi kemanusiaan yang terjadi pada hari itu. Sekelebat bayangan tragedi itu hadir dalam pikiranku pagi ini.

Hari ini aku datang ke Hiroshima! Menapakkan kaki di bumi yang pernah hampir luluh lantak akan pengaruh kejamnya radiasi dari Uranium-235, sebelum melangkah lebih jauh keluar dari stasiun aku berpikir apakah nanti akan melihat warna tanah yang sedikit berbeda karena pengaruh radiasi? Ahh.. segera kulangkahkan kaki menuju halaman luar stasiun.

Genbaku Domu

Matahari bersembunyi untuk tampil pagi itu, ketidakhadirannya menciptakan suasana awan kelabu dan dingin begitu kami mencapai luar bangunan stasiun. Trem yang kami tumpangi akan mengantarkan ke ke areal terdekat dengan Hiroshima Peace Memorial Museum tujuan kami.

Trem di Hiroshima

Perjalanan ke Hiroshima dimulai dengan agak emosional bagiku, begitu kami berjalan kaki selepas turun dari trem dan menemukan reruntuhan bangunan berlantai lima lengkap dengan kerangka kubahnya yang kekar seakan menolak untuk runtuh. Reruntuhan bangunan ini sengaja tidak dipugar atau dihancurkan, dia adalah Hiroshima Peace Memorial atau lebih banyak dijuluki Atomic Bomb Dome atau Genbaku Domu. Di luar pagar Genbaku Domu terdapat altar persembahan doa yang pagi itu sudah terdapat dua buket bunga segar dan kertas doa dan dupa yang dibakar. Suasana begitu sunyi ditelan awan kelabu pagi itu. Para turis yang datang dari berbagai negara untuk pertama kalinya ke tempat ini kurasa memiliki perasaan emosional yang mendalam, semua hanya melihat dan terdiam, meresapi duka yang pernah terjadi di tempat ini.

Genbaku Domu
Genbaku Domu

Di depan Genbaku Domu mengalir sungai Motoyasu yang pada saat kejadian bom atom banyak korban-korban bom berlarian mendinginkan diri terjun ke dalam sungai dan setiap 6 Agustus warga Hiroshima mengadakan peringatan dengan berdoa dan melarung ribuan lentera lampion di sungai Motoyasu untuk mengenang dan mengirimkan doa untuk para korban tragedi bom Atom Hiroshima.

Hiroshima Peace Memorial Park & Thousand Origami Cranes

Langit perlahan menjadi bertambah terang, matahari mulai menyapu udara Hiroshima memberikan kehangatan. Kami terus berjalan dan aku menyadari udara begitu segar, kulirik tanah tempat tumbuhnya pohonan cemara hias yang subur berada di pinggir kolam Pond of Peace yang berada di area Hiroshima Peace Memorial Park. Tanahnya berwarna coklat kemerahan sama dengan tanah subur di kebanyakan tempat. Kulihat ke sekeliling area taman luas dengan kolam yang begitu rapi dan pandanganku berakhir di sebuah bangunan unik menyerupai atap, The Memorial Cenotaph yang terletak di ujung kolam. Taman monumen perdamaian ini didedikasikan untuk kota Hiroshima sebagai kota pertama yang mampu bertahan dari serangan bom nuklir dan untuk mengenang 140.000 jiwa korban serangan bom atom.

Cenotaph and Hiroshima Peace Memorial Park
Cenotaph and Hiroshima Peace Memorial Park

Bayangan adanya sebagian kecil sisa kota berpenampakan seperti Chernobyl sirna sama sekali. Chernobyl sebuah kota di Pripyat, Ukraina yang mengalami kerusakan fatal karena kecelakaan kebocoran reaktor nuklir ditahun 1986 dan menjadikannya sebagai kota mati terbengkalai yang terseram di dunia dengan banyak mutasi gen yang terjadi akibat radiasi zat nuklir. Hiroshima begitu bersih, rapi dan teratur sama dengan kebanyakan kota di Jepang. Oh ya tentu saja air di sungai Motoyasu begitu jernih, waduh sampai malu dengan kondisi sungai Ciliwung kita sendiri yang begitu pekat hitam tak kuasa menampung kucuran yang dihasilkan setiap hari dari  limbah domestik rumah tangga dan industri kota Jakarta dan sekitarnya.

Langkah kami semakin tergesa untuk menuju Hiroshima Peace Memorial Museum karena hari sudah semakin siang, tapi ada yang menarik sekelibat kami berjalan, ada monumen dengan bentuk lonceng perunggu besar dengan ketiga kaki yang menopangnya, di puncak bel terdapat patung seorang gadis kecil dengan kedua tangan terbuka ke atas menopang kerangka besi dari origami bangau. Gadis kecil itu adalah sosok Sadako Sasaki seorang warga Hiroshima yang baru berusia 2 tahun ketika tragedi itu terjadi, Sadako kecil dapat selamat dari hari dimana serangan bom atom terjadi tetapi di kemudian hari ketika usianya menginjak 12 tahun dirinya didiagnosa menderita Leukemia sebagai akibat racun radiasi nuklir. Divonis oleh dokter tidak akan berumur lebih dari setahun lagi, Sadako dan anak-anak penderita kanker akibat radiasi bom atom Little Boy di rawat di rumah sakit dan disana Sadako bertemu dengan teman sekamarnya sesama pasien penderita kanker yang berkisah dan memberitahu bahwa dalam kepercayaan orang Jepang jika seseorang melihat 1000 burung bangau terbang, maka doa dan permintaannya dapat dikabulkan. Maka Sadako kecil yang berharap akan kesembuhannya bertekad untuk melipat 1000 origami bangau. Sadako akhirnya dapat menyelesaikan 1300 origami bangau kertas. Nyawa Sadako tidak tertolong Pada usia 12 tahun di bulan Oktober 1955 Sadako beristirahat untuk selamanya. Semangat dan harapan Sadako terus berhembus hingga saat ini untuk meniupkan kedamaian, keluarganya menyumbangkan sebagian origami bangau buatan Sadako untuk ditempatkan di New York City 9-11 memorial dan Pearl Harbour di Hawai.

Children Peace Monument
Children’s Peace Monument (Source of picture: from here)

Marmer hitam di bawah Children’s Peace Monumen itu bertuliskan:

(Kore wa bokura no sakebi desu. Kore wa watashitachi no inori desu. Sekai ni heiwa o kizuku tame no).

“Ini adalah tangisan kami, ini adalah doa kami: untuk membangun kedamaian di dunia”

Hiroshima Peace Memorial Museum

Aku pikir Hiroshima museum akan berbentuk seperti bangunan tua klasik dengan undakan banyak anak tangga di bagian depannya dan pilar-pilar portico besar sebagai penyangganya, khas bangunan Romawi kuno dan gambaran umum tentang museum dan perpustakaan. Ternyata Hiroshima Peace Memorial Museum memiliki bangunan super edgy, modern berkesan futuristik. Bangunan museum membujur panjang, tampilannya di dominasi oleh banyaknya kaca jendela persegi dengan bingkai berwarna perunggu dan aluminium khas gedung perkantoran di kota metropolitan. Lebih uniknya lagi bangunan ini seakan dibuat dengan konsep mengapung di topang kaki-kaki beton sebagai penyangganya. Kesan futuristik sangat kuat dengan terdapatnya sky bridge yang menghubungkan dengan bagian bangunan lainnya.

Hiroshima Memorial Peace Museum
Hiroshima Memorial Peace Museum

Suasana hening dan khidmat menyambut kami begitu memasuki ruang eksibisi didukung oleh tata lampu yang redup dan hanya berfokus pada etalase di ruang eksibisi museum. Di dekat pintu masuk terdapat etalase diorama kota Hiroshima dan kulihat bola merah mengapung di udara, itulah titik altitude Little Boy yang berjarak sekitar 600 meter dari permukaan tanah ketika jatuh di Hiroshima.

Titik altitude jatuhnya bom atom di hiroshima pada 600 meter dari permukaan tanah
Titik altitude jatuhnya bom atom di hiroshima pada 600 meter dari permukaan tanah

Banyak benda-benda peninggalan sisa dari keganasan bom atom yang bentuknya menunjukkan kerusakan destruktif yang parah mulai dari pakaian yang compang camping, alat makan minum dan perabot rumah tangga yang panas meleyot, sisa bangunan pecahan beton dan marmer, sepeda anak kecil yang nampak hangus berkarat, tergerus dalam sekejap oleh serpihan ledakan bom atom. Foto-foto para korban yang diambil sesaat setelah kejadian ketika di rumah sakit begitu memilukan, mereka adalah warga sipil yang tidak ikut langsung dalam peperangan.

Semua pengunjung mengamati benda-benda sejarah itu dalam diam, terhening dan kuyakin perasaan terharu, sedih dan marah akan tragedi kemanusiaan yang tidak dapat membela alasan apapun untuk balas dendam antar umat manusia yang dipisah-pisahkan oleh negara. Aku melihat para pengunjung yang datang dari berbagai negara ini lebih merasa kami adalah warga negara dalam kesatuan dunia.

Di luar museum kutemui serombongan anak-anak sekolah dasar Jepang dari kota setempat, mereka sedang melakukan kunjungan tur ke museum layaknya pelajar di sini. Anak-anak itu kelihatan ceria dan sehat. Senang dan lega rasanya efek radiasi sudah tidak ada lagi di Hiroshima dan Nagasaki.

Anak-anak kota Hiroshima
Anak-anak kota Hiroshima

Karena penasaran aku mencari artikel tentang level radiasi nuklir di Hiroshima pada saat sekarang ini adalah sama dengan rata-rata radiasi di berbagai tempat di dunia yaitu 0,87 mSv/a dimana Komisi Internasional untuk Perlindungan Radiologi (ICRP) menetapkan batas paparan kerja dengan radiasi nuklir adalah 50 mSv dalam satu tahun dengan maksimum 100 mSv dalam waktu lima tahun berturut-turut. Amannya level radiasi di Hiroshima juga dipengaruhi oleh titik altitude Little Boy ketika jatuh dan meledak yaitu 600 meter di udara ini meyebabkan partikel radioaktif banyak yang tertiup angin dan tersapu hujan dan terbawa hingga ke samudra.

Pulau Miyajima 

Suatu waktu ketika kecil aku pernah melihat kalender di rumah mbah Kakung yang bernuansa meditasi Zen yang berefek memberi ketenangan ada gambar kuil khas Jepang dan taman Zen yang rapi dengan susunan batuan teratur juga salah satu bulan dalam kalender menampilkan gambar gerbang kuil berwarna merah yang seakan mengapung di pinggir laut. Torii gate adalah gerbang kuil Itsukushima di pulau Miyajima yang hanya berjarak waktu kurang lebih satu jam dari kota Hiroshima. Kami naik kereta untuk menuju stasiun kereta terdekat dengan pelabuhan kapal fery menuju Miyajima. Brrrrr.. udara bulan Februari begitu dingin ketika aku mencoba menikmati pemandangan dari dek kapal fery yang menyeberangkan kami menuju Miyajima. Begitu turun dari kapal fery kami belum melihat Torii gate merah itu dan segera saja kami membaur berjalan kaki dengan pengunjung lainnya. Kami menemui beberapa ekor rusa yang asyik berjalan dan berbaur dengan pengunjung, mereka nampak lucu dan jinak. Di pulau Miyajima terdapat kuil beraliran Shinto yaitu Itsukushima yang terkenal dengan Torii gate terbesarnya berwarna merah dan nampak seperti mengapung di pinggir laut, Daisho-in temple, dan kuil besar dengan rekor tatami terbanyak yaitu Senjokaku yang artinya adalah paviliun dengan 1000 tikar.

Benar saja ketika kami sampai di Torii gate suasana hening dan tenang seakan mengajak kita untuk bermeditasi dengan alam yang energinya seakan masuk melalui pintu gerbang Torii. Menikmati matahari terbenam di Torii gate sangat indah dan menenangkan jiwa.

Torii Gate at Itsukushima Shrine
Torii Gate at Itsukushima Shrine

Di pulau Miyajima ini kita dapat bermalam untuk kemudian menikmati alam sekitar dan sedikit treking mendaki ke gunung Misen, di kaki gunung Misen terdapat kuil Budha Daisho-in. Di gunung Misen yang terletak di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut kita bisa naik kereta gantung untuk menikmati pemandangan pulau Miyajima dari ketinggian.

Source pictures of Miyajima tourism spot: from here

Menghabiskan hari di pulau Miyajima memberikan pengaruh ketenangan dan menyegarkan badan juga pikiran menurutku, karena kesederhanaan dan ritme suasana yang jauh dari hingar bingar kesibukan kota.

Hello from Miyajima

Makan, Jajan Khas Hiroshima dan Miyajima

Di Hiroshima kami menyempatkan mencicipi ramen, karena cuaca yang dingin di bulan Februari pastinya pingin makan yang berkuah, gurih dan sedikit pedas. Sengaja kami pilih warung lokal yang tidak banyak turisnya, pingin tahu gimana suasana rumah makan orang-orang Jepang di dalam kegiatan sehari-hari. Mereka bekerja dengan cepat, tangkas dan bersih. Salut deh makanya program 5S (seiri seiton seiso seiketsu and shitsuke/Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) sebagai budaya orang Jepang banyak diterapkan dalam dunia kerja terutama industri di negara manapun. Miyajima punya makanan khas yang kebetulan aku suka banget, Tiram! wah tiramnya gendut besar-besar, rasanya manis di bakar dan dibumbui saus barbeque khas setempat, mengingat tumpukan cangkangnya jadi pingin lagi!

Di Jepang ternyata banyak camilan yang menyehatkan, bagaimana tidak di setiap bungkus kemasan itu ada informasi nilai gizi dan kalori dan mereka benar-benar menghitung asupan kalori perhari, panduannya banyak terdapat di iklan yang berseliweran di tivi maupun majalah. Pantes orang Jepang jarang sekali ada yang gemuk atau obesitas. Di Jepang banyak isian roti pastry menggunakan bahan-bahan segar alami seperti ubi jalar dan yang paling populer seantero Jepang kurasa isian kacang merah dengan kadar gula yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan kalori. Kami semua sampai ketagihan makan moci isi kacang merah kalau ke Jepang.

Perjalanan Menuju Hiroshima

Pertama kali ketika ke Jepang, daerah luar Tokyo yang aku singgahi adalah Kansai area dengan pilihan kota Kyoto dan Osaka. Perjalanan waktu itu kutempuh dengan bus malam dari Tokyo dan menghabiskan waktu 8 jam, memang sih dari segi biaya irit dan bermalam di hotel dapat digantikan dengan tidur di bus. Tapi apa yang terjadi? Di pagi hari turun dari bus malam kakiku bengkak karena posisi tidur di bangku bus malam walau sudah ada sandaran kaki tetapi sedikit masih menggantung. Dua orang travelmate waktu itu malah memilih melanjutkan tidur setelah kami check in di guesthouse di Kyoto. Aku dan seorang travelmate dengan kepala sedikit pusing masih nekad mengeksplor kota Kyoto :-D.

Kesempatan kedua pergi ke Jepang aku dan travelmate semakin melebarkan area yang ingin disinggahi, Hiroshima menjadi pilihan. Beberapa alternative rencana yang disiapkan:

  • Karena masih ingin irit walau kaki bengkak seperti pengalaman sebelumnya sempat pula check lama perjalanan menggunakan bus malam. Ternyata lamanya bukan main-main 13 jam perjalanan bus dari Tokyo ke Hiroshima dan biayanya mencapai 18000 Yen untuk bolak-balik ke Tokyo lagi.
  • Pilihan berikutnya jika menggunakan Shinkansen memang waktunya tereduksi sampai menjadi 4 jam sekali jalan tapi alamak harga tiket Shinkansen Tokyo-Hiroshima pulang pergi bisa mencapai 24.000 Yen belum lagi biaya penginapan.
  • Waktu itu akhirnya aku memutuskan menggunakan Japan Rail Pass untuk bepergian dengan Shinkansen selama 7 hari di jepang, dengan catatan tiket Japan Rail Pass dipakai ke banyak destinasi kota dalam 7 hari sehingga harga JR Pass terasa menjadi efisien. Pertama kali tercetus ingin menggunakan Japan Rail Pass membuatku mencari tahu dimana yang menjual tiket JR Pass Di Jakarta, ternyata mudah sekali aku membelinya di H.I.S Travel Jakarta. Di H.I.S Travel juga aku menyewa modem wifi yang sangat memuaskan kerjanya sinyal kencang seluruh Jepang dan baterainya bertahan lama dari pagi beraktivitas sampai tengah malam masih ON!

Metode Baru Eksplor Jepang!

Ada terobosan metode produk trip yang ditunggu, murah meriah dan efisien. Paket trip yang Big Deal banget, dari hasil pemantauanku karena sebelumnya merasa puas banget pakai produk dari H.I.S Travel dan perbandingan dengan beberapa metode tripku sebelumnya, sekarang ada produk baru Hanavi yang merupakan kerjasama H.I.S Travel dengan maskapai penerbangan ANA (All Nipon Airways).

Yuk kita buktikan hasil riset ini benar-benar bikin happy  🙂 karena efisien dan murmer dengan langkah kepo sebagai berikut:

  1. Buka link Hanavi untuk melihat berbagai macam pilihan paket yang mencapai 51 kota di Jepang atau link H.I. S Travel untuk memilih jadwal penerbangan dan paket hotel.

2. Tekan tombol search sampai masuk ke halaman pemesanan dan pencarian jadwal penerbangan dan hotel yang sudah terintegrasi.

3.Masukkan pilihan kota keberangkatan dan kedatangan dan daerah pilihan menginap.

  

4. Jreng..jreng..  keluar hasil pilihan yang fantastis. Naik pesawat ANA pulang pergi Tokyo-Hiroshima dan sudah keluar harga total dengan beberapa pilihan hotel menginap. Pilihanku dengan menginap di Hiroshima Kokusai Hotel untuk lama perjalanan 2D1N total harganya hanya 2.656.233 IDR

5. Juga ikuti update berita dari H.I.S Travel melalui media sosial Facebook, dengan mengikuti time line dari H.I.S Travel langsung update untuk info paket atau produk trip yang bikin happy dan memudahkan untuk perjalanan ke Jepang.

Kabar gembira lagi H.I.S Travel dan Kawaii Beauty Japan sedang mengadakan lomba blog untuk memenangkan hadiah liburan musim dingin ke Jepang. Menjadikan Jepang sebagai destinasi untuk liburan musim dingin adalah salah satu pilihan dan keputusan terbaik. Merasakan berguling di bukit salju, main ski dan kuliner makanan sehat Jepang juga mengenal kebudayaan dan tradisi Jepang.

Ikuti Present Campaign HIS Winter Tour Blogging Competition

Banyak filosofi dan kebudayaan Jepang yang mempunyai ciri khas kedisiplinan tinggi, efisiensi kerja dan kebiasaan tentang keteraturan metode kerja diterapkan sebagai metode standar kerja terutama di bidang industri dan diterapkan oleh banyak negara di dunia karena terbukti Jepang menjadi pemimpin di industri teknologi seperti otomotif dan elektronik.

“Nihon no Bunka ya Kankouchi no Jiman Shitteru yo!”

 

Advertisements

9 thoughts on “Langit Biru di Hiroshima dan Pulau Miyajima Hari Ini

  1. Waaaw… terima kasih sudah berbagi cerita ttg Hiroshima. Saya belum berani kesana walaupun pengeeeen bgt. Baca ceritamu saja sdh berkaca2 apalagi disana. Perlu nguatin batin dulu hehe.
    Dan Miyajima emang keren ya, emang bener ya kl udah ke Hiroshima hrs sekalian ke miyajima.
    Omong2 soal origami bangau itu, kadang kalo lg galau ato sedih hehehe saya bikin lho sampai banyak hehehe… iseng banget ya…

    Liked by 1 person

    1. Memang suasananya terutama winter jadi lebih bikin emosional mengunjungi Hiroshima, mau nangis pas di Genbaku Domu tapi bingung ngumpet dimana dulu..hikss..
      Bikin origami itu juga terapi psikologis loh, semacam meditasi memberi ketenangan, latihan kesabaran, tidak mudah cepat lupa, buat semua range umur ada manfaatnya masing-masing 🙂 katanya.

      Liked by 1 person

    1. Iyahh mayan jauh secara ngetrip ke LN waktu terbatas jadi pengennya pas pindah kota pilih moda transportasi tercepat..btw aku pernah naek kereta matarmaja jaman belom AC Jakarta-Malang itu sampe 20 jam..warbiyasak cape hehehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s