Mendadak Jadi Guide


Untuk nge-trip di Nusantara kadang gue mendadak jadi manja perlu guide, perlu porter (kalau lagi kumat kepengen cobain naik gunung) dan ikut group tour dari travel agent, alasannya lebih banyak disebabkan publik transport yang belum memadai jika tempatnya lumayan terpencil atau gak punya group trip sendiri yang jumlah pesertanya mencukupi untuk urunan sewa perahu atau mobil untuk menjelajah tempat-tempat tersebut.

Karimunjawa1

Sejauh ini kriteria ‘idaman’ untuk memilih guide atau agent travel group tour ada di beberapa point penting berikut:

Tour leader yang tepat waktu

Terakhiran ini lagi hitz banget ngetrip ala backpacker dengan destinasi wisata alam sekitar Jakarta-Jawa-Lampung-Belitung dengan biaya trip sangat terjangkau terutama buat para mahasiswa karena dari banyak trip yang gue ikutin pesertanya bahkan tour leadernya banyak yang masih berstatus mahasiswa (info gak penting: Gue masih dipanggil Kakak sama mereka. Amin). Nah dari beberapa adek Tour Leader (TL) ini banyak yang masih belum tepat waktu soal itinerary. Pernah dong di salah satu trip, gue yang cerewet bangunin tidur siang dan bangun pagi sang TL untuk meminta memenuhi itinerary yang sudah di share di awal. Apalagi klo naik gunung, TL atau guide gak boleh ulur-ulur waktu karena kita bisa terjebak dalam rintangan medan yang berat kalau kemalaman di hutan atau ketemu bahaya gas beracun yang mulai turun pada jam tertentu. Seperti pengalaman gak enak gue kemalaman nyasar di jalur Ayek-ayek Semeru itu karena start point yang telat baru dimulai ba’da Ashar dari Ranu Pane, TL nungguin temannya yang telat kereta..hadehh.

Guide yang Sabar

Ini perlu banget terutama dalam kegiatan trip yang ada trekkingnya. Kecepatan dan stamina setiap peserta tidak sama. Trekking sederhana ke bukit seperti Baduy Dalam buat beberapa orang cukup menguras energi. Idealnya harus ada istilahnya guide/ranger bagian menjaga rombongan dari depan, tengah dan akhir bagian ‘penyapuan’ memastikan seluruh peserta dalam keadaan aman. Kesabaran guide bukan hanya diperlukan di trip alam aja sih, guide harus sabar nungguin para peserta cewe yang memerlukan 1GB memori untuk berfoto di satu spot…Alamakk dan juga di spot belanja oleh-oleh.

Pagi berkabut di Ranu Kumbolo
Kabut turun di Ranu Kumbolo

Guide yang Punya Keahlian Fotografi

Ikut nge-trip sama host/guide yang jago foto itu aseli bikin nagih. Gak peserta cowo or cewe sama narsisnya berfoto dengan background tempat wisata. Apalagi kalau wisata bawah air, sekarang ini  guide seperti ‘diharuskan’ punya senjata fotografi dalam air, karena adegan-adegan selfie bin narsis sudah merambah ketika snorkeling dan diving..yukk marii.

Snorkeling Karimun

Point-point yang lainnya sih standar, guidenya harus supel, ramah baik hati, rajin menabung dan tidak sombong. Tapi asli, gue pernah memilih travel agent trip ala backpacker dan pilihan jatuh didasarkan pada penampilan guide-nya yang kece, hensom bikin simpatik (Ayook ladies traveler ngakuu :-D)

 Menjadi Guide Dadakan

Kadang tanpa diduga dan berniat kita bisa menjadi guide trip juga, seperti misalnya kedatangan teman yang berdomisili jauh dari habitat kita. Pastinya asyik klo ngetrip ke daerah baru dan jauh ehh..ternyata punya teman yang menetap di sana, pasti tuh teman otomatis jadi guide klo nemenin kita jalan seharian karena dah tahu ‘medan tempur’.

Jadi keinget asal mula mulai sering jadi guide dadakan.

Dering telpon di meja kerja gue sore itu berbunyi terlihat nomer ektensi Bos, dah mau jam pulang nih, ada apa yak?

“Dinner nanti malem, Lara Djonggrang. Nemenin si Mr. A kolega dari China. Elo pasti bisa, kan elo single.”

Hanjer gak dikasi kesempatan nolak cuman bilang, “iyak”.

Begitulah berawal dari tugas kantor gue menjadi guide dadakan dimulai dari acara makan malam dan sekedar menikmati live music sekitaran Jakarta, nemenin ke Taman Safari, Ancol, Taman Mini sampai nemenin shopping ke galery batik.

Ada juga kolega yang tahu dari bisik-bisik tetangga klo gue demen banget jalan-jalan :-D, maka tak jarang di tengah rehat miting atau di tengah kerja ada kejadian:

“Anita, where is it Pangandaran?” Seorang kolega hensom dari Manchester tiba-tiba bertanya dari balik laptopnya di tengah ruang miting.

Nah sekarang giliran bagaimana sudut pandang dari seorang guide tentang peserta trip (dari pengalaman yang gue rasain aja sik)

Paham akan Kemauan Peserta Trip

Lanjut dari pertanyaan kolega hensom dari Manchester, ternyata itu basa-basinya aja tanya tentang berbagai tempat wisata yang dekat dengan Jakarta, padahal sik kayaknya ngajak gue jalan (eciehhh) gak lama kemudian Abang G sebut saja begitu namanya sudah mengirimkan email berisi ringkasan itinerary Pangandaran, hasil survei harga makanan dan transportasi, pilihan harga penginepan yang berkisar 200-250rb IDR/malam. Pokoknya Abang siyap backpakeran sama eneng!

Waktu itu gue masih newbie dalam backpakeran sebenernya dan bodohnya gue pikir semua anak muda bule itu adalah backpacker seperti yang banyak gue temui di kawasan Asia Tenggara, mereka bahkan bisa jauh lebih survive seperti yang gue inget waktu menginap di Rambutri Khaosan Road (gue pikir ini hotel dah murah banget 250rb IDR/malam waktu itu) ternyata ada bule muda backpacker balik badan waktu habis tanya harga hotel di resepsionis.  Atau ketika belanja di pasar malam Bangkok, dua orang cowo Jerman malah ngajarin gw cara menawar yang dahsyat.

Maka berangkatlah kita satu rombongan dan di trip ini secara gak langsung mereka menunjuk gw jadi TL. Kolega gue ini udah sering business trip ke berbagai negara (nah point ini yang gue lupa business trip biasanya fasilitasnya jauh lebih nyaman dari backpackeran :-D)

Karena Abang G sudah sangat antusias dengan itineray yang lengkap, maka pilihan hotel Abang G pun di realisasikan. Reaksi pagi itu ketika kami sampai di Pangandaran, 2 bule lainnya Abang M dan D nampak meringis (mungkin pengen memenuhi panggilan alam di pagi hari pikir gue)

Bukan hanya panggilan alam yang terjadi di pagi itu ternyata nama gue juga di panggil 3 kali. Abang D yang paling kiyut baby face yang paling banyak manggil.

Paging #1

“Anita where is the towel?”

Bentar yak  sahutku bergegas dan masih di tambah rikuwes,

“Also the toilet paper please” Muka Abang dah kliatan tambah mules.

Penginapan yang kami pilih memang minim fasilitas, tidak ada handuk dan tissue yang langsung tersedia. Kupikir sudah aman dan gue lega berlenggang menuju kamar lain.

Paging #2

“Anitaaaa..Come here pleaseee!” Ini asli nadanya terdengar kayak emak-emak teriakan liat monster kolor ijo.

Ada apa? Abang D menunjuk ke lantai dimana ada seekor hewan berkulit coklat mengkilap walau diduga hewan ini gak pernah mandi. Muka Abang D sudah memerah, kulitnya yang putih jadi merah bikin kasian. “Ituuu, hiiiii..” Ujarnya.

Kupikir Abang M yang bergaya anak BritPop dan gue kagumi (diam2 haeshh) nampaknya juga tidak bisa diandalkan dalam menghadapi situasi ini dan sebenernya gue nunggu tindakan heroik Abang M dulu, etapi gak kejadian juga dengan masygul kulepas sendal jepit dan sekali tepok kecoak itu tewas seketika.

“Tissue”, tunjuk gue pada toilet paper yang masih di pegang Abang D dan segera ‘mengkafani’ sang kecoak.

“Klo ada apa-apa panggil gue lagi yak. Jangan khawatir”, Tiba-tiba gue merasa perawakan gue mirip Abang Jampang dari selat Marunda, lengkap pakai kopiah, kumis baplang dan golok.

Paging #3

Akan ada kejadian apa lagi yak? Pertama kali jadi guide ini bikin hati was-was dan merasa gagal. Kucoba menarik nafas dalam dan menenangkan diri sambil mulai rebahan di kamar yang isinya cewe 3 orang ini.

“Anitaaa…The water is so cold! I can not take a shower!” Wroahhhh..

Ms. L kolega dari China berteriak  berlari dari kamar mandi dan misuh-misuh. Sumpah gue merasa menjadi orang paling bersalah di hari itu. Setelah makan siang kami pindah dan susah payah dadakan mencari hotel dengan keyword “Western Style”

Dan ketika keesokannya kami hampir berhasil ikut body rafting di Green Canyon Pangandaran, para tetamu ini membatalkannya sepihak dan berpindah haluan ke Bandung untuk dugem ke beberapa club terkenal di sana. Yahilahh..gue baru sadar kami berasal dari dunia yang berbeda eh..maksudnya berbeda visi dan misi dalam trip.

Persiapan yang Lebih Terencana

Berbekal pengalaman pertama jadi guide dadakan, pada trip berikutnya dengan kolega baru lainnya, benar-benar gue tanya dulu minat dan keinginan trip, mulai dari destinasi, jenis penginapan, sampai kenyamanan transportasi. Jadi pernah si para bule dan ladies yang merasa ingin lebih nyaman menginap di suatu resort dan kami yang berjiwa backpacker cukup menginap di guesthouse yang letaknya tak jauh dari resort. Hiksss..Bhineka Tunggal Ika juga judulnya, karena pas waktunya eksplor tempat wisata yaa bareng-bareng juga.

Jangan Minder dengan Wisata Lokal

“Can I take a seat here?” Suara berat nan hensom itu menyapa siang itu di kantin kantor. Walau sosoknya gak sehensom suaranya, tapi berwibawa dan ramah banget. Sebut aja namanya Abang S, kami bertukar tanya setelah dia gue persilahkan duduk di bangku depan gue yang memang kosong. dalam waktu kurang dari 15 menit kami telah akrab mengobrol, Abang S asal dari Jerman dan hobby traveling juga 😀 memperlihatkan beberapa foto dari smartphone-nya, setelah gue minta menunjukkan barbuk cerita trip Abang S yang sudah menjelajah sebagian Amerika. Jembatan merah San Fransisco dan Grand Canyon.

“Anita, kabarnya kamu mau adain trip ke Green Canyon. Gue mau ikut”, Abang S berkata antusias.

“Yatapi elo udah ke Grand Canyon yang benerannya”. Tiba-tiba gue berasa mules banget dan pengen nyelupin muka ke panci prasmanan.

Pada hari H kami body rafting di Green Canyon, Abang S mengucapkan terima kasih telah diajak ke tempat itu yang kayanya seperti secuil surga untuk bermain jeram, air Green Canyon sedang berwarna hijau tosca segar di musim panas itu, tebing-tebing goanya serupa langit-langit terbelah, kami berenang, pasrah terbawa jeram, mengapung sambil mendongak ke langit-langit beratap goa belah, merangkak, mendaki batu-batu besar, terjun bebas persis seperti setting film petualangan para Hobbit. Seru!

Selintas aku jadi ingat komentar Abang S, “Ketika gue ke Grand Canyon, hanya naik pesawat baling-baling berpenumpang 2 orang untuk melihat Tebing dan Canyon (ngarai), tapi gak bisa menjamahnya seperti di Green Canyon ini”. Ahahaha, sekarang gue agak paham kenapa di beri nama julukan Green Canyon.

Hal Baru Sederhana tapi Menarik

Ketika membawa serombongan kolega dari China yang berasal dari China bagian tengah, kami melewati serumpun pohon pisang dan ada yang sedang bertandan buahnya.

“Hey, is it banana tree? Is it really banana tree?” Tanya para ladies and gents kolega gue.

“Iya itu pohon pisang. Kenapa?”, Tanya gue.

“It is the first time for me to see banana tree!”

“WOW!!!”, Serombongan orang dewasa pekerja profesional itu sedetik kemudian sibuk memfoto si pohon pisang lengkap dari style zoom in, zoom out, pake jongkok, selfie. Sampe gue malu sendiri kalo ada turis lokal orang kita yang lewat. Para kolega China bener-bener happy warbiyasak melihat pohon pisang yang info dari mereka tidak ada di China bagian tengah itu.

Gak hanya pohon pisang yang fenomenal hari itu mulai dari gue sholat pun difoto-foto setiap gerakan. Kejadian yang gak kalah mengharukan waktu malam-malam gue bawa naik perahu di Ancol, banyak di antara kolega itu yang bilang baru pertama kali juga lihat laut. Yah, begitulah gue jadi bersyukur dengan hobby JJS nekad seenggaknya kita bisa jadi tahu ada apa di bagian bumi yang lain selain tempat tinggal kita.

Hal baru sederhana lainnya yang menyenangkan buat dikenalin seperti makanan Indonesia yang kaya akan bumbu, rempah, pokoknya bikin nagih! Ngajarin makan pake tangan, wahahaha bisa nahan ketawa abis klo lihat bule yurop maupun asia yang belum pernah makan pake tangan, buliran nasinya gak bisa banyak sampe mulut. Walo cape nasinya gak bisa disuap, tapi teman-teman baru ini tetep semangat berusaha makan pake tangan. Ganbatte!

Gimana dengan kamu, pernah  ngerasain jagi guide dadakan juga?

Advertisements

30 thoughts on “Mendadak Jadi Guide

      1. Pasti panas yaa sama polusi itu bikin gakuatt..Tapi temen gw cowo Jerman malah seneng ngajak jalan kaki klo di Jakarta dari Thamrin sampe belanja ngubek2 Tanah Abang, walo gw dah bilang siap2 polusi udara 🙂

        Like

      2. Iya, kebetulan waktu itu diajak jalan kaki di seputaran kota tua di daerah kota.. keringat ngucur, cape pastinya dan hampir jam 12 siang.. ga berani protes, tapi ga tahu dia stress.. hehehe..

        Like

  1. beberapa kali pernah jd tour guide dadakan, tp private sih, teman-teman sendiri, bukan yg rombongan gt. waktu kuliah aku pernah ikut training guiding di prambanan sebulan, jd lumayan ada bekal dikiiiit. ada matakuliah ttg pariwisata jg. jd lumayan ngerti dikit ttg tempat2 wisata yg mainstream. yang bingung tuh kalo ditanya ttg makanan. secara aku ga jarang jajan dan ga tahu resto mana yg bisa direkomendasikan. ya kan aku jajannya di warung penyetan hehehe.

    Liked by 1 person

    1. Wahh malah punya skill yang bersertifikat inih ibu Guide..hehe..pastinya lebih jago dalam hal mengguide turis. Klo soal ngajak makan malahan aku ajak makan seperti apa yang biasa kita makan, pastinya seru tuh klo bawa turis yang suka hal2 baru nyobain makanan lokal.

      Like

      1. ah sertifikatnya ga laku, wong cuma magang sebentar. ada yg kuajak makan pempek di warung tenda, kasian kepedesan, pdhal udah minta yg ga pedes. ada yg kuajak makan soto di dalam pasar, warung pecel. kalo suami kuajak naik bajaj di jakarta. habis itu mual krn jalannya anjrut2an hehehe. dia nyebutnya “different taxi” hihi.

        Liked by 1 person

      2. Hahaha seru ituhh lihat yang kepedesan, kyk teman org Jepang kepedesan rendang ahahah..jiwa usil iseng kumat 😀 jangan ditiru. keren ituhh namanya Different Taxi..gemeter2 asik loh aku sengaja pilih yang bukan BBG biar tmn dri Jerman lebih gemeter disko..ehehehe..untungnya yang diajak berjiwa petualang 🙂 liat2 juga karakternya dulu sih 🙂

        Like

  2. Waha..nggak nyangka si bule takjub sama gedebok pohon pisang yak. Abang Jampang dari selat Marunda, lengkap pakai kopiah, kumis baplang dan golok. kalau yang ini aku kok jadi bayangin kau jadi porter ya kak. haha 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s