Terlarut Dalam Denyut Kyoto


Pengalaman menginap di sebuah guesthouse dan rumah pribadi di Kyoto begitu melekat di memoriku. Perjalanan ini aku lakukan di tahun 2013. Banyak orang Indonesia yang bilang kalau Kyoto yang merupakan bagian dari Kansai area itu seperti “Yogyakarta-nya Jepang”. Nuansa budaya tradisionalnya yang masih melekat dalam kehidupan sehari-hari, ritme aktivitas sehari-hari yang berjalan tidak secepat kota metropolitan, boleh dibilang “atmosfer terasa lebih santai” hal inilah yang menjadi daya magnet dan alasan paling kuat untuk merasakan menginap di rumah bergaya tradisional Jepang.

Lingkungan tempat tinggal di Kyoto
Lingkungan tempat tinggal di Kyoto

Menginap di Guesthouse Sanjojuku

Pilihan menginap di guesthouse yang dikelola perorangan dengan aset rumah tinggal milik pribadi dan mengambil lokasi di lingkungan perumahan merupakan pilihan yang paling pas untuk bisa merasakan atmosfer kehidupan masyarakat lokal. Sanjojuku guest house yang terletak hanya beberapa blok saja dari Nijo Castle memberikan pengalaman menginap di rumah tradisional Jepang dimana material rumah banyak di dominasi bahan kayu, alas lantai dari kayu dan di alasi tatami.

Kami tidur di atas futon tebal dan selimut tebal yang hangat dan kalau selesai tidur futon di lipat dimasukkan ke dalam lemari geser besar di sudut ruangan, mirip dengan kamar tidur Nobita dan Doraemon. Ciri khas lainnya adalah banyak pintu geser atau panel antar ruangan yang disebut Fusuma dan partisi berupa pintu berjendela yang disebut Shoji yang berfungsi sebagai pembatas ruangan terbuat dari kertas tembus pandang dan kerangka kayu. Ruangan bergaya tradisional Jepang yang disebut Washitsu ini berfungsi ganda, bisa digunakan untuk ruang makan dan berkumpul dan dilengkapi dengan Kotatsu, meja berkaki pendek yang ditutupi selimut seperti bed cover ini di bagian bawah tepatnya di tengah meja terdapat heater listrik untuk Kotatsu modern. Pas banget buat ngariung bareng-bareng keluarga atau teman di kala musim dingin.

Bagian depan Sanjojuku guesthouse
Bagian depan Sanjojuku guesthouse
Ruang tamu dan lobby di Sanjojuku
Ruang tamu dan lobby di Sanjojuku

Menginap di Sanjojuku berasa menginap di rumah Bude di Jawa Tengah yang rumahnya masih terbuat dari kayu jati, toiletnya pun masih ada yang menggunakan toilet jongkok. Guesthouse ini mempunyai halaman belakang berumput hijau yang membuat udara di rumah menjadi segar.

Halaman belakang rumah
Halaman belakang rumah

Keuntungan menginap di Sanjojuku selain dekat dengan Nijo Castle juga dekat dengan pasar lokal di Kyoto. Pasar yang berupa jejeran toko dan beratap Canopi yang tinggi mengingatkanku pada Pasar Baru Jakarta. Kami menghabiskan pagi hari untuk jalan melihat-lihat pasar yang toko-tokonya bersih tertata apik itu dan banyak sekali bertemu dengan warga sekitar yang sedang beraktivitas sehari-hari.

Di tahun 2013 waktu aku menginap di Sanjojuku, rate harga kamarnya masih sangat murah sekali 200rb IDR untuk per orang semalam menginap, harga terbaru saat ini lumayan jadi bikin berpikir dulu :-D. Masih banyak pilihan menginap di guesthouse atau hostel dengan unsur gaya mengadopsi rumah tradisional Jepang. Ada website yang bernama Foot Print-note yang memberikan daftar guesthouse apik dan menyenangkan karena harganya terjangkau di semua area di Jepang mulai daftar guesthosue dari Hokkaido, Kansai area seperti Kyoto dan Osaka yang terkenal akan rumah bergaya tradisional Jepang sampai di Hiroshima yang termasuk di Chugoku area.

Veada Rumah Bergaya Machiya yang Berumur 100 tahun

Setelah menyusun itinerary yang ‘melelahkan’ kami memutuskan untuk satu hari leyeh-leyeh di rumah bergaya tradisional Jepang sebagai tempat menginap setelah mengeksplor kuil di Kyoto, Osaka dan Nara dalam waktu yang singkat. Pilihan jatuh pada Veada sebuah rumah tradisional yang bergaya Machiya atau lazim disebut Kyomachiyatownhouse-nya Kyoto.

Veada house tampak depan
Veada house tampak depan

Melihat gambarnya di situs booking hotel langsung membuat kami jatuh cinta dan gak sabar untuk segera menginap di Veada. Benar saja ketika taksi kami berhenti di jalan besar tak jauh dari lokasi rumah, kami dijemput sendiri oleh Mr. Haruhisa sang pemilik Veada dan kami langsung ceria kegirangan begitu masuk ke dalam rumah yang terdiri dari 2 ruangan kyoshitsubu berukuran lumayan besar. Kyoshitsubu berfungsi sebagai ruangan serba guna mulai dari ruang tamu dan ruang tidur, cirinya adalah ruangan beralaskan tatami yaitu tikar Jepang dan ada Fusuma panel penyekat ruangan dan Shoji si pintu geser dari kertas berkerangka kayu. Pintu geser ini berfungsi mengatur udara yang masuk ke ruangan jika musim dingin ditutup biar hangat dan musim panas untuk menghindari panas dan kelembaban tinggi dalam ruangan.

Ruang tamu di Veada

Fusama atau panel pintu antar ruangan
Fusama atau panel pintu antar ruangan

Ciri khas rumah bergaya Machiya juga terletak pada taman di tengah rumah yang disebut Tsubo-niwa yang berumput hijau halus dan dilengkapi dengan lampu taman terbuat dari batu juga kolam air kecil. Ada jalan batu setapak di Tsubo-niwa milik Mr. Haruhisa untuk menuju ke bagian rumah yang terpisah, ternyata untuk menuju ruang makan dengan furniture yang gak kalah antik dengan rumah berusia 100 tahun tersebut.

Ruang makan terletak di bangunan yang terpisah
Ruang makan terletak di bangunan yang terpisah

Meja makan kayu bundar dan 6 kursi yang terbuat dari kayu, designnya antik. Di sudut ruangan terdapat lemari yang tersusun dari laci-laci yang bertingkat, Tansu lemari antik dari jaman Edo Period (1688-1704) menambah kesan vintage klasik dengan Sumikanagu yakni hiasan logam berukir pada ujung-ujung laci. Lantai ruang makan ini terbuat dari kayu yang jika kita berjalan ternyata sedikit membuat Hikite, tarikan laci dari bahan logam berayun-ayun dan berbunyi karena benturan dengan badan laci, lumayan memberikan efek yang agak ‘horor’ ketika malam-malam berada di ruangan ini sendiri.

Mr. Haruhisa lelaki yang masih melajang di usia paruh bayanya itu adalah seorang designer grafis dan pemegang sertifikat Samurai untuk keahliannya berolahraga pedang itu bercerita bahwa Veada adalah rumah peninggalan orang tuanya yang sudaha tiada dan dia adalah seorang anak tunggal. Bagian rumah yang utama dia sewakan melalui beberapa website booking hotel dan sudah banyak tamunya dari manca negara, kebanyakan adalah keluarga.

Ruang tidur kami jika Shoji di geser maka akan terlihat Tsubo-niwa
Ruang tidur kami jika Shoji di geser maka akan terlihat Tsubo-niwa

Walaupun Veada adalah rumah bergaya Machiya antik, tetapi fasilitasnya sudah modern seperti tersedianya air conditioner untuk panas dan dingin, LCD TV, kulkas, bath up dengan water heater dan toilet duduk.

Tsubo-niwa atau taman di tengah rumah
Tsubo-niwa atau taman di tengah rumah

Veada cocok untuk beristirahat dan leyeh-leyeh di Kyoto, ketika malam tiba atau pagi hari dengan udara segar duduk di Genkan pelataran pintu masuk bagian rumah sambil melihat pemandangan Tsubo-niwa sangat menenangkan hati.

Sungai Kamogawa yang menurutku super romantis itu terletak tak jauh dari Veada. Sebenarnya waktu itu aku dan travelmate sedang kesasar sepulang dari Gion, tapi pemandangan sungai Kamogawa di sore hari menjelang matahari terbenam membuat rasa gusar hilang, malah kami begitu menikmati suasana di sepanjang pinggiran Kamogawa.

Menghabiskan sore di sungai Kamogawa
Menghabiskan sore di sungai Kamogawa
Resto Jepang di pinggiran sungai Kamogawa
Resto Jepang di pinggiran sungai Kamogawa

Romantic Kamogawa river

Senja di sungai Kamogawa
Senja di sungai Kamogawa
Advertisements

18 thoughts on “Terlarut Dalam Denyut Kyoto

  1. Kyoto keren banget ya, nuansa tradisionalnya masih terasa, dan anehnya tetap match aja digabung dengan modernitas Jepang saat ini. Menarik nih, jadi makin pengen jalan-jalan ke negeri Sakura ini 🙂

    Liked by 1 person

    1. Hi Rosa..thanks juga dah main ke sini.. Ada quotes yang bilang travel is not about destination but about a journey. Selalu senang baca tulisan tentang trip walau ke tempat yang sama tapi pengalaman tiap orang pasti berbeda2, nah itu serunya 🙂

      Like

      1. Ada banyak, pas malem mereka banyak menuju restoran atau club eksekutif buat perform, lihatnya hanya di jalan saja, club2 eksekutif itu di jaga oleh beberapa bodyguard di pintu masuknya, mau ambil foto jadi agak takut apalagi perlu pake blitz

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s