Bittersweet Memories in Incheon


Karena jadwal keberangkatan pesawat yang lumayan pagi dari Incheon untuk kepulangan menuju Jakarta, kami 4 female travelers yang waktu itu cukup rempong ngetrip pakai koper, memutuskan untuk menginap di Incheon pada hari terakhir berada di Korea Selatan setelah puas berkelana selama 8 hari di Seoul.

Cerita ini memang sudah lama berlalu, aku dan 3 orang sahabat pergi ke Korsel tahun 2012. Karena baru setahun terakhir ini suka belajar menulis di blog, ternyata menuliskan memori itu jadi semacam terapi memberi ‘nutrisi’ buat jiwa, maka walaupun waktu terbang tak dapat diputar balik hanya memori yang melekat untuk di tulis kembali. Melihat foto-foto trip lama membangkitkan banyak kenangan, ada tawa bahagia yang untungnya paling banyak mendominasi, berantem sedikit biasanya masalah kesasar dan manajemen waktu :), kelaperan & kenyang bareng, irit berjamaah, saling ngingetin over bagasi ketika kalap belanja, pokoknya susah dan senang di jalanin bareng sama sahabat waktu ngetrip. Travelmate waktu ke Korsel adalah Bubun dan Dedew, 2 temanku dari masa di SMA kimia (teman masa ABG partner trip lab to lab journey everyday :-D) di kota hujan Bogor dan Ade seorang designer grafis di majalah tempat Dedew bekerja, yang kemudian paling sering jadi travelmate dan selfiemate-ku (Terakhiran kami berdua sebenarnya udah bosan! Pengen ganti solmet beneran #eaaa).

Dari hostel tempat  menginap di Seoul kami menggunakan shuttle bus untuk menuju Incheon airport, sebenarnya layanan bus ini sudah ada sejak pagi tetapi jarak tempuh yang hampir satu jam dari Seoul membuat kami tidak mau ambil resiko ketinggalan pesawat yang akan boarding pada jam 8.25 keesokan paginya. Ahh ya siang itu kami dijemput Michael pemilik Lazy Bird, guesthouse di Incheon. Kami pilih Lazy Bird karena menyediakan fasilitas antar jemput dari bandara Incheon, karena lebih praktis daripada harus mencari alamat pakai taksi atau bus, ditambah kami sudah kesasar di tengah malam ketika pertama sampai di Seoul. Michael menelpon aku untuk menanyakan posisi keluar Arrival Gate. Singkat cerita kami bertemu mobil putih Michael dan dia membantu kami menggotong koper-koper besar milikku dan Bubun. Setelah di dalam mobil baru kami menyadari. Michael ganteng! Dedew dan Ade yang merupakan fans dramkor aka drama korea berseri banyak penguras emosi (ancaman penyita waktu produktif manusia..ahahaha..maaph gak hobby dramkor) udah kasi-kasi kode cacing kepanasan..Iyakk sih ganteng (tapi dah ada yang punyak belom??).

“Michael, boleh buka jendela gak?”

Tanyaku karena ingin mengambil foto landscape tebing yang berbatasan langsung dengan laut dimana mobil kami tengah melaju di jalan raya di ketinggian tebing di atas laut.

Michael tersenyum dari balik kemudi mendengar pertanyaanku, nampaknya ia berkata sesuatu tapi aku hanya dengar “Ya..boleh coba saja”

Brurrrrrrbrhrhhh… kamera saku sekalian lenganku seakan mau terbang keluar dari jendela mobil yang baru terbuka separuh itu. Otomatis aku berteriak histeris kaget tapi teriakan itu lenyap di kunyah angin super besar di luar mobil.

“Ahahahaha, sorry Michael. Anginnya gede banget. Maaf baru tahu angin di Korea di tebing dekat laut pas winter lagi”

Tiga orang sahabatku dengan puas gegap gempita gembira ketawaan melihat kebodohan yang baru saja terjadi. Sial! keliatan bodoh di depan cowok ganteng. Kalah satu point :(.

Michael menunjukkan dua restaurant kecil yang lokasinya menurut dia masih terbilang dekat dengan rumahnya. Kami melihat bangunan kecil bertingkat dua yang disusun dari batu bata ekspos merah.

Ini restaurant? kecil banget gak menarik. Tanya kami dalam hati gaya gadis metropolitan. Dan harus naik bus umum yang jarang banget terlihat, dari restaurant ini menuju guesthouse. Skip. Cari makan di warteg dekat rumah Michael ajalah nanti (empat orang female traveler yang selalu kepikiran jam makan ini ternyata membatin hal yang sama).

Setelah melewati daerah yang populasi bangunannya jarang termasuk restaurant tadi, akhirnya kami mulai memasuki wilayah pemukiman yang lumayan mulai banyak dan rapat bangunannya. Tapi.. gak ada orang berlalu lalang di kota kecil ini. Sukses sepi sekali! Kami sebagai angkatan dengan masa kecil dipenuhi bacaan R.L Stine langsung kebayang adegan-adegan horor di semua serial Goosebumps!

Rumah Michael yang dijadikan sebagai Lazy Bird guesthouse terletak di atas bukit. Siang itu walaupun dingin namun ada matahari yang bersinar memberi sedikit ‘kesan’ hangat untuk udara di Februari itu. Seorang wanita bertubuh mungil dengan sedikit tergesa menyambut kami di depan pintu masuk rumah dan dengan senyum manis dan sikap hangatnya menyambut kami.

Dengkul kami bertiga (kecuali Bubun) langsung lemas. Wanita mungil ini istrinya Michael. Yahh udah sold out :(. Perasaan kecewa gak penting. Abaikan.

Sesaat kami merasakan seluruh penat setelah berkelana 8 hari di Seoul sejenak menghilang. Lazy Bird nyaman banget! Serasa sudah pulang sampai rumah kami masing-masing. Satu set sofa dengan cushion warna-warna pastel, Boneka Teddy bear besar yang minta banget dipeluk, susunan dapur dan ruang makan yang homey. Kamar tidur dengan kualitas kasur yang jauh lebih baik dari dormitory hostel kami di Seoul kemarin :-D. Ahh..sarang yang tepat buat beristirahat.

Komunal roon in Lazy Bird

Small Kitchen and dining room
Small Kitchen and dining room

Kamar kami di Lazy Bird

Begitu melihat gantungan beberapa Hanbok di sudut ruangan, kami berempat langsung meminta berfoto karena memang gratis, dibandingkan dengan sewa Hanbok di sekitar insadong ssamziegil yang cukup mahal. Beberapa pose diajarkan kepada kami, seperti pose pengantin wanita Korea dan pose gaya bangsawan. Puas banget sesion foto Hanbok ini.

Nah, mulai kumat rasa penasaran dan kaki gatal para petualang ini, kami berempat memutuskan untuk mencari warteg untuk makan siang dan berjalan-jalan di lingkungan sekitar rumah. Karena memang kami tidak bertujuan untuk mengunjungi tempat wisata terdekat di Incheon ini. Kami harus menuruni bukit di depan rumah untuk menuju ke pusat keramaian, benar saja tak ada orang yang kami temui. Begitu melewati beberapa rumah dengan jendela kaca yang besar, kusempatkan mengintip lihat ke dalam. Nampak seorang ibu muda tengah tertawa melihat bayinya belajar berjalan, mungkin pria-pria di kota kecil ini sedang beraktivitas di tempat kerjanya. Begitu juga ketika kami lewati bangunan sekolah TK dan SD, nampak sepi tidak ada anak-anak pulang sekolah. Pejalan kaki di ruas jalan utama  itu hanya kami.

Di depan Lazy Bird guesthouse
Di depan Lazy Bird guesthouse
Jalan menuruni bukit
Jalan menuruni bukit di depan guesthouse
Tempat tinggal penduduk setempat
Salah satu tempat tinggal penduduk setempat
Ternak kambing dan ayam penduduk
Penasaran bentuk kandang untuk ternak kambing dan ayam milik penduduk

Bangunan Sekolah
Bangunan Sekolah

Sampai ketika kami memutuskan untuk berbelanja oleh-oleh makanan di supermarket, ada seorang bapak yang menyapa kami.

“Assalamualaikum”, dengan logat Koreanya, bapak ini mengira kami turis dari Malaysia. Ternyata sudah mulai banyak traveler yang bertandang ke kota kecil ini.

DSC08568

Tumpukan barang bekas
Tumpukan barang bekas
Sepertinya ini bengkel untuk truk

Menyusuri kota kecil itu

Malam itu akhirnya kami memesan pizza dan ayam bumbu khas Korea seperti Bonchon dari guesthouse karena udara malam yang luar biasa dingin, tak memungkinkan untuk makan malam di luar. Keesokan paginya Michael mengantarkan kami ke bandara Incheon sesuai dengan rencana di awal menghindari kekhawatiran mengejar flight pagi. Gamsahabnida!

Rasa kangen itu kadang mendera..

Incheon airport

Advertisements

21 thoughts on “Bittersweet Memories in Incheon

      1. October pasti bagi para pencinta autumn bakalan bagus, spotnya ada di Mount Sorak sama Nami island, daun2nya jadi berwarna kuning, orange dan merah marun, bikin mupeng deh langsung browsing juga hehe 😀

        Like

    1. Iya suami istri pemiliknya tinggal di rumah itu juga.

      Aku di Istanbul 23 Maret trus 24-26 lanjut ke Selcuk, Pamukkale sama Goreme. Rencana ke Rome sama Santorini (klo visa nya goal) tgl 1-2April di Istanbul lgi. Emine tinggal dmn? Sapatau bisa meet up di Istanbul?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s