A Walk to Remember: Osaka dan Nara Perjalanan di Antara Gerimis


“You will see a beautiful sight on a rainy day, please enjoy a rainy day. A look at the Kyoto and Nara of rain, you are lucky person of the day when rain from a small Japanese”.

Rasa kecewa sedikit mewarnai permulaan hari itu, ketika hujan gerimis terus menerus diselimuti udara kencang yang cukup dingin menyambut kami di Osaka Castle. Payung yang baru kubeli di stasiun Osaka tertiup angin kencang dan membuatnya ‘megrok‘ terkembang ke arah luar karena deraan angin kencang, belum lagi ujung sepatu dan celana panjang yang mulai basah menambah semangat untuk jalan kaki menjadi kurang.

Sejak sangat pagi perjalanan sudah kami mulai dari stasiun Kyoto menuju Osaka. Kami hanya ingin melihat Osaka Castle karena waktu yang terbatas. Selepas dari Osaka kami akan menuju Nara, tujuan utamanya mengunjungi kuil yang mempunyai banyak rusa di halamannya. Satu yang kami belum tahu benar, mesin tiket kereta di Kyoto dan daerah sekitar Nara banyak yang belum di lengkapi dengan bahasa Inggris, dari bentuk mesinnya saja kutaksir ini mesin tiket buatan era 70- 80an, sangat vintage desainnya. Alhasil di setiap stasiun bermesin tiket vintage, kami selalu meminta bantuan warga setempat yang kelihatannya bisa bahasa Inggris. Repotnya agak jarang juga warga setempat di Kyoto dan stasiun kecil lainnya menuju Nara yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Ada yang lucu bila mengingat cara kami mencari calon volunteer translater pembelian tiket kereta, yang kami curigai bisa berbahasa Inggris adalah kawula muda yang berdandan modern seperti yang memakai setelan jas kantoran, mbak bercat rambut pirang dengan dandanan modis, atau yang bertampang mahasiswa. 😀

Mesin tiket kereta berhuruf Jepang saja

Kurang tahu itu tulisan artinya apa, kurang lebih: Anak-anak ini nyasar, beli tiket kemurahan hanya 200Yen. Mohon di bantu. :-D
Kurang tahu itu tulisan artinya apa, kurang lebih: Anak-anak ini nyasar, beli tiket kemurahan hanya 200Yen. Mohon di bantu. 😀

Setiba di Osaka kastil, gerimis tetap setia menemani, terus terang kami jadi kurang menikmati perjalanan karena badan jadi terasa tidak fit harus berjalan kaki di udara dingin dan basah. Segera kami menuju Nara untuk melihat Budhist dan Sinto Temple peninggalan ribuan tahun yang lalu. Dengan menggunakan kereta JR Osaka Loop Line melalui Kamo dalam 50 menit kami akan sampai ke kota Nara.

Sekilas kota Osaka
Sekilas kota Osaka
Gerbang masuk Osaka Castle
Gerbang masuk Osaka Castle
Osaka Castle
Osaka Castle

Keluar dari stasiun Nara kami bergegas mengikuti gelombang besar para pejalan kaki yang nampaknya juga akan menuju Todaiji temple sebuah Budhist temple yang besar dan  berada berdekatan dengan beberapa temple lainnya di dalam kawasan itu.  Kami sudah bertanya ke meja tourist information, bahwa tidak ada bus umum untuk menuju ke kawasan tempe tersebut, jadi kurang lebih kami akan berjalan kaki kurang lebih 8 KM pulang pergi dari kawasan temple. Ganbatte!

Nara merupakan ibukota permanen Jepang pertama kali pada periode tahun 710-794 M, karena itu banyak peninggalan bersejarah di kota Nara termasuk kawasan temple terbesar dan tertua di Jepang. Atmosfer kota Nara sangat bersahaja dengan beberapa bangunan bergaya klasik barat dan gaya tradisional Jepang. Banyak tempat tinggal dan rumah yang masih menggunakan material kayu berwarna coklat tua dan warna bangunan di dominasi warna krem, coklat. Hujan gerimis turun juga menyambut kedatangan kami di kota Nara, ditambah dinginnya udara yang sedikit membuat perjalanan kurang bersemangat.

Tapi, “Hey! Ada sekumpulan rusa lucu yang sedang asyik merumput di pinggir jalan setapak”. Muka si herbivora ini memang selalu membuat luluh siapa saja yang melihatnya. Mereka nampak jinak di elus-elus oleh beberapa pejalan kaki yang melintas, banyak yang menyempatkan diri foto bersama kawanan rusa.

Kawanan rusa sudah banyak bisa dijumpai mulai dari keluar stasiun Nara

Setelah melewati jalan setapak sepanjang kota Nara, kami mulai memasuki kawasan temple area depannya merupakan lapangan hijau luas seperti botanical garden dan banyak ditumbuhi pohon besar yang berusia tua. Perjalanan yang melelahkan tapi melihat banyak orang dengan payung warna-warni terus berjalan membuat kami merasa banyak teman seperjuangan yang akan menuju tempat yang sama. Todaiji Temple.

“Hey! Rusa-rusa itu makin banyak berkeliaran di sekitar para pejalan kaki”, ditingkahi tawa manja dan taku anak-anak sekolah yang sibuk bercanda dengan teman-temannya memberi makan rusa-rusa lucu itu. Kami sudah sampai di Todaiji Temple!

Besar sekali bangunan Todaiji temple. Setelah memasuki halaman temple yang luas, nampak bangunan kayu yang besar dan tinggi, segera saja kami memasuki Daibutsuden (Big Buddha Hall) yang merupakan bangunan kayu terbesar di dunia, padahal ukurannya saat ini tinngal 2/3 nya saja dari ukuran asli semula karena telah mengalami rekonstruksi pada tahun 1692.

20130424_140502

Banyak rombongan anak sekolah Jepang
Banyak rombongan anak sekolah Jepang
Bangunan Todaiji Temple yang sangat besar
Bangunan Todaiji Temple yang sangat besar
Skala bangunan dan manusia
Skala bangunan dan manusia
Todaiji Temple
Todaiji Temple

Di Todaiji temple juga akan kita jumpai patung perunggu Daibutsu Buddha terbesar dengan tinggi 15 meter dan beratnya mencapai 500 Ton. Kebayang yah orang jaman dulu sudah bisa membuat patung sebesar dan seberat ini. Sang Daibutsu diapit oleh dua Bodhisatva di dalam Todaiji temple.

Large bronze statue Daibutsu (Buddha)
Large bronze statue Daibutsu (Buddha) Source from here

Perjalanan kami lanjutkan dari Todaiji temple menuju Kasuga Taisha. Temple yang berdiri sejak 768 M ini di dominasi cat warna merah pada tiang-tiang bangunannya memberikan nuansa yang segar berpadu dengan pohon hias bonsai yang sedang berwarna hijau di penghujung musim semi itu. Di pintu masuknya kami disambut oleh penjaga loket tiket yang menggunakan baju tradisional putri Jepang. Dengan membayar tiket masuk maka kita dapat melihat dan  merasakan bagian dalam kuil, sampai kami mencoba untuk duduk di ruang belajar Kasuga Taisha temple. Temple ini juga terkenal dengan lampu lentera perunggunya yang indah dan banyak, lentera ini merupkan sumbangan dari para jemaat kuil.

Kasuga Taisha temple
Lentera Perunggu Kasuga Taisha

Temple cantik Kasuga Taisha

Ada kejadian yang sulit aku lupakan setelah berniat meninggalkan Kasuga Taisha. Di belakang Kasuga Taisha kami menemukan banyak jejeran lentera batu yang nampak berusia tua dilihat dari lumut yang menyelimuti bagian atas lentera batu yang berjejer tersebut. Aku dan Yeni seorang travelmate asyik mengobrol melewati sepanjang deretan lentaera batu yang mengarah ke jalan yang semakin redup dan gelap dengan kiri kanan semakin ditumbuhi jejeran pohon hijau yang rapat dan rimbun.

Tahukah kamu…

Dua travelmate lainnya di belakang kami, Ade dan Bubun sibuk berteriak sekuat tenaga memanggil nama kami berdua, sampai mereka kehabisan suara dan hanya nampak aku dan Yeni berjalan semakin menjauh menuju hutan yang gelap. Hutan itu adalah Kasuga Primavel Forest, sebuah hutan sakral dan tua milik kuil dan meliputi gunung di belakang Kasuga Taisha, bagaimanapun tempat itu ditutup untuk umum. Di tengah hujan dan ketika aku bersama Yeni melangkah semakin jauh menuju hutan sakral, terasa peluh mengaliri dahiku, sayup-sayup aku merasa ada suara yang akan masuk jauh dari belakang tapi seakan tertutup lapisan benteng kedap suara tetapi transparan.

Sampai ketika ku elap peluh yang hampir menetes ke kelpak mata dengan punggung tanganku, melintas wajah Ade dan Bubun. Sedetik kemudian aku melihat jauh sekali di belakang, mereka berdua terjongkok duduk kelelahan. Tanpa rasa kuatir dan sedikit akan mengingatkan mereka agar jangan berjalan lambat karena hari sudah sangat sore dan kami harus kembali ke Kyoto, aku melihat dengan sisa tenanganya Ade memanggil aku dan Yeni supaya mendekat ke arah mereka.

“Kalian mau kemana? Kok malah menuju hutan?” Hoss..Hosshh Ade kelihatan lelah berbicara.

“Yaa, kita berdua teriakan sekuat tenaga memanggil kalian yang malah menuju hutan gelap itu”, Bubun menunjuk barisan lentera batu dan hutan gelapnya.

“Jalan pulang ke arah sana!”, Bubun menunjuk pada ruas jalan yang jauh lebih lebar dan banyak orang yang sedang berjalan pulang.

Walahhh..untung di dalam pikiranku masih memikirkan kemana Ade dan Bubun? Kok belum bergabung jalan bersama. Thanks God.

Hampir kesasar ke tengah hutan yang gelap dimulai dari sini

Advertisements

14 thoughts on “A Walk to Remember: Osaka dan Nara Perjalanan di Antara Gerimis

    1. Aku suka mengunjungi Jepang karena masih dalam kawasan Asia, kita bisa ngerasain negara atmosfere negara maju,leader di bidang teknologi otomotif dan electronic dan yang penting kultur budayanya masi sangat erat dilestarikan 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s