Lost in Translation on Night Busses Istanbul to Efes


Gerimis kecil  mendadak jadi hujan lebat di malam itu ketika taksi yang kami tumpangi mulai beranjak meninggalkan Amagrandi Spina hotel di Istanbul, hotel kecil yang terletak tepat di belakang bangunan Hamam di komplek Hagia Sophia. Aku dan travelmate merasa beruntung mengambil keputusan untuk memesan taksi daripada menggunakan tram untuk menuju terminal bus besar Istanbul Ottogar seperti saran staf hotel yang akhirnya juga membantu memesankan taksi langganan tamu hotel. Walaupun harus mengeluarkan biaya 50 TL untuk ke terminal, pak supir taksi yang bahasa Inggrisnya sangat terbatas itu sangat membantu dengan memilihkan travel bus malam sesuai permintaan kami untuk naik Metro Bus. Di kegelapan malam dan lebatnya hujan malam itu aku melihat terminal bus Istanbul Ottogar sangat luas dan taksi langsung masuk menuju area khusus kumpulan kantor travel yang membentuk formasi persegi empat dengan lapangan square yang luas di bagian tengahnya tempat mobil-mobil calon penumpang dan travel hilir mudik dan parkir. Setelah masuk ke dalam kantor bus travel segera kami memesan 2 tiket untuk menuju Selcuk, tepatnya kami akan turun di terminal bus Efes. Perasaan kami yang was-was ketinggalan jadwal bus malam menjadi lega begitu mengetahui bus kami akan berangkat dalam 40 menit ke depan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalan di depan hotel kami di Istanbul

Bingung di Dalam Bus Menuju Selcuk

Di ruang tunggu kantor travel itu banyak kujumpai serombongan keluarga dari warga Turki yang akan bepergian. Sebagian besar calon penumpang adalah keluarga besar lengkap mulai ayah, ibu, anak-anak dari balita hingga remaja dan kakek nenek yang duduk berkumpul dalam kelompok keluarga dengan bawaan tas-tas baju yang cukup banyak serta besar, seperti pemandangan terminal bus untuk pulang kampung di Jakarta. Aku yang penasaran akan lokasi parkir bus, berjalan ke arah pintu di bagian belakang meja tiket, di balik pintu belakang ternyata jajaran bus sudah berjejer rapi siap untuk berangkat dari berbagai kantor travel. Sampai akhirnya nomor tiket kami dipanggil untuk tujuan Selcuk, kami berdua bergegas menaikkan ransel ke bagasi di bantu oleh kondektur berusia muda yang berpakaian kemeja dibalut sweater rapi dan klimis. Kondektur bus aja udah mirip anggota boysband Eropa. OMG..kuatkan hatiku..

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kantor Bus Metro di Istanbul Bayrampasa

Bus menuju Selcuk ini sangat nyaman, dilengkapi dengan layar LCD untuk menonton film, lagu dan informasi perjalanan lainnya. Tetapi sayang masih dalam bahasa Turki semua, belum ada bahasa Inggrisnya. Kondektur boysband ternyata berkeliling membagikan makanan kecil dan minuman ringan. Aku dan Martha travelmateku berniat menanyakan fasilitas wifi di dalam bus, malah jadi sama-sama grogi dengan kondektur kiyut yang tidak mengerti bahasa Inggris, walau kami sudah berusaha menggunakan bahasa paling simple Aku Suka Kamu password for wifi please, berulang-ulang. Sampai akhirnya abang supir cadangan yang lebih senior (dan lebih matang gantengnya :-D) memberitahu password wifi dengan langsung meminta gadget kami dan mengetikkannya langsung. Si Abang senior pun sangat terbatas bahasa Inggrisnya, mengerti tapi tidak bisa berbicara *Jadi ikhlas lahir batin mau niat ngajarin bahasa Inggris :-D.

Bus Malam dari IStanbul ke Selcuk
Bus Malam dari IStanbul ke Selcuk

Bermula dari masalah bahasa Inggris yang ternyata satu bus ini tidak ada penuturnya selain kami berdua, kami mulai pasrah. Sedari awal kami kurang jelas akan turun di terminal mana. Bus ini dari tiketnya menunjukkan tujuan Istanbul Bayrampasa-Selcuk. Teringat kembali informasi dari resepsonis hotel yang membuat kami ragu, apakah benar jika kami akan ke Efes, tetapi membeli tiket bus tujuan Selcuk.

“Efes is different from Selcuk”, mbak resepsionis yang terlihat pintar karena bahasa Inggris yang sangat lancar itu cukup membuatku bingung. Dari hasil studi literatur kalau mau ke Efes yah naik bus ke Selcuk. Tapi berhubung warga Turki ini yakin ngotot bahwa Efes dan Selcuk berbeda, jadi agak kuatir juga. “Gue baca nanti dari Selcuk naik angkot lagi yang disebut dolmus buat ke Efes”, ujarku menenangkan Martha sebelum kami berangkat ke terminal bus.

Jadilah aku dan Martha pasrah dan kemudian tertidur lelap di bus malam ini. Sampai tengah malam ketika bus berhenti Martha membangunkanku dan menawarkan apakah ingin ke toilet untuk buang air kecil. Karena kantuk yang sangat aku menjawab tidak mau, lebih pilih lanjutkan tidur. Kulihat sekeliling selepas Martha beranjak turun dari bus, seisi bus kosong dan gelap, lampu dan mesin dimatikan kurasa wajar untuk bus jarak jauh yang sedang beristirahat berhenti di sebuah warung makan atau area peristirahatan yang beroperasi 24 jam. Tak lama ketika sudah terlelap kembali seseorang menyentuh pundakku membangunkanku dari tidur.

“Nit, bangun. Kita lagi di atas laut” Di atas laut..di atas laut ucapan itu terdengar berulang-ulang dan terasa tidak wajar.

“Apa,Ta?? Di atas laut? Maksud lo kita di atas kapal tengah malam begini?”

Dengan perasaan kaget dan mencoba mengambil kesimpulan singkat otakku yang sedang mengantuk mencoba menyimpulkan kami seperti sedang berada di atas kapal karena bus terkena razia atau kami terjebak human trafficking, perjalanan di atas kapal ini sedang membawa kami ke pasar gelap budak di benua aneh tak dikenal.

“Coba gue lihat cek keluar bus!”, dengan panik aku berjalan sempoyongan dan turun bus. Bus diparkir rapat-rapat dengan truck lain, keadaan amat gelap, aku berjalan mencari sumber cahaya. Ouwhh..dingin sekali anginnya. Pikiranku yang mulai jernih mulai bisa melihat bagian kapal dan mulai berasa wajar seperti sedang menyeberang dari Merak ke Bakauheni. Yah, mengapa tidak? Ini hanya penyeberangan biasa dari satu port ke port lain yang berjarak dekat. Orang-orang kujumpai sedang berjalan untuk sekedar melepas penat dan merokok di atas dek kapal.

Setelah lega dan kembali pasrah kami berdua tertawa, menertawakan kenekatan kita bepergian seolah tanpa tahu rute, ya benar-benar tidak tahu rute juga sih :-D. Kami berdua bersiap pasrah akan kejutan apa yang akan kami hadapi kemudian.

Sebentuk telapak tangan yang berukuran besar dan berasa dingin mengguncang-guncangkan pundakku di jam 4.30 pagi itu. Responku lebih kaget lagi setelah membuka mata karena kulihat yang membangunkanku bukan Martha, tetapi seorang Ibu bertubuh tinggi besar dan bermata ramah. Dengan tersenyum dan mengucapkan beberapa kalimat yang aku tidak mengerti si Ibu terlihat memberikan instruksi dan menunjuk ke luar jendela. Karena gagal paham aku melihat ke sekeliling isi bus dan lebih terkaget lagi,

“Martha, gilak inihh tinggal kita berdua di dalam bus. Ya ampun ada apa lagi ini?”

Martha mencoba tetap tenang dan melanjutkan berkomunikasi dengan si Ibu yang terus ramah berbicara dan tangannya sibuk memberikan isyarat keluar jendela bus. Setelah di cecar dengan pertanyaan what, why, where dari Martha si Ibu nampak berpikir keras untuk menemukan sebuah kata dalam bahasa Inggris dan akhirnya keluar kata “Change” sambil membolak-balikkan telapak tangannya.

Ahh..yaaaa..semua orang di dalam bus telah berpindah ke bus di sebelah, tinggal kami berdua yang masih tertidur lelap dan ditemani si Ibu yang baik ini. Kami bergegas turun dan menuju bus sebelah. Sebelum naik Martha berteriak “Nit, tas kita belum dipindahin”, refleks kami berdua akan menuju ke arah bus pertama, namun tiba-tiba dengan sigap, sekan mengerti apa yang kami bicarakan, kondektur muda boysband berkata sesuatu kepada kami dalam bahasa Turki tapi seakan kami memahaminya pula, “Tas kalian sudah dipindahkan ke bagasi bus baru”, The Power of Love 😀 bang kondektur, kami jadi saling mengerti bahasa yang berbeda.

Tinggal lagi satu masalah yang bikin perut agak mules, karena kami berencana hanya singgah di Ephesus dan House of Virgin Mary sambil membawa ransel yang lumayan berat, kami masih bingung harus turun di Selcuk sesuai tiket bus atau Efes tempat lokasi situs Ephesus itu punya terminal sendiri atau sekedar berhenti di suatu halte bus? Mau tak mau kami harus bertanya pada seseorang, setelah menebar pandang ke seluruh bus, kandidat yang paling layak di tanya adalah Ibu baik hati yang memberitahu info pindah bis tadi.

Kujulurkan kepala ke kursi depan sambil memanggil ” Mam, Mam, excuse me”, sejenak dengan ramah dan senyum hangatnya si Ibu pun menoleh. Butuh waktu agak lama menjelaskan maksud dan pertanyaan kami tentunya, sampai akhirnya dengan menggunakan ke lima jari si Ibu mulai mengurutkan nama-nama kota yang akan kami lewati, “Izmir, Efes, Selcuk, Kusadase, Soke and Didim” terang si Ibu dengan sabar dan ternyata beliau bisa sedikit bahasa Inggris, “You must get off from the bus on Efes. I am living in Kusadase many seafood, coming to my house please”, tawaran si Ibu hangat, kalau saja tidak terburu-buru sudah sangat ingin rasanya ikut makan ke Kusadasi hehehe.

Jadi setelah dapat info dari Ibu nanti benar turun di Efes sebelum Selcuk yang tidak tertera di rute jadwal bus di websitenya sekalipun. Maka begitu mendekati terminal kecil di Efes si Ibu kembali memberitahu kami untuk bersiap. Dengan takzim kucium tangan Ibu yang baik itu, senang banget bertemu orang yang baik dalam perjalanan lost in translation ini :). Ditambah ketika turun dari bus dan sambil memanggul keril yang berat ini, kami disapa seorang bapak separuh baya yang ternyata adalah supir bus Metro yang akan pulang ke rumahnya, nampaknya si bapak ikut dari mulai pergantian mobil dekat subuh tadi. Dan ternyata si bapak ini sangat fasih bahasa Inggrisnya, yah dari tadi dong Pak kita bisa tanya-tanya :-D. Tapi kami tetap menanyakan arah terminal dan beliau info dari terminal kecil itu ada pilihan dolmus, paket tour dan taksi untuk mengunjungi situs Ephesus.

Suasana terminal bus Efes
Suasana terminal bus Efes

Aku dan Martha sepakat menyewa taksi untuk mengantarkan kami mengunjungi Ephesus dan House of Virgin Mary dalam waktu 1.5 jam saja! Yah, kami memang punya waktu sangat terbatas. Perjalanan yang menurut tiket bus kami akan sampai di Efes sebelum jam 7 pagi ternyata molor sampai jam 8 lewat dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Denizli dan Pamukkale siang itu dengan menggunakan bus Kamilkoc yang kantornya berada di terminal kecil Efes dengan jadwal keberangkatan 10.15 pagi! Benar-benar kami langsung kebut ke atas bukit dimana chapel tempat House of Virgin Mary berada.

House of Virgin Mary

Taksi melaju dengan cepat untuk mengejar waktu yang sempit, perjalanan ke House Virgin Mary harus melaui daerah perbukitan yang berkelok, tapi jangan kuatir jalan aspalnya begitu bagus dan halus. Pagi itu dimana kami yang belum mandi ini langsung berasa segar dengan membuka jendela dan mendapat hembusan angin bukit dan disuguhi pemandangan indah rumah dan lahan pertanian hijau yang terhampar di bawah kaki bukit.

Taksi kuning naik ke atas bukit
Taksi kuning naik ke atas bukit

Ephesus adalah salah satu kota di bawah koloni Romawi dan merupakan pusat penting dalam awal agama Kristen di tahun 50-an Masehi. Berdasarkan visi dan stigmata yang dialami oleh Suster Anne Chaterine Emmerich pada abad ke-19 (Pada 1818 fenomena stigmata dan visi suster Anne dimulai), bahwa Ephesus adalah merupakan rumah terakhir Maria, Ibunda Yesus dalam tradisi Katolik Roma.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
House of Virgin Mary
House of Virgin Mary di jaga oleh tentara
House of Virgin Mary di jaga oleh tentara

Capel of House of Virgin Mary

Pada hari kami mengujungi House of Virgin Mary bertepatan dengan Hari Raya Paskah yang dirayakan oleh Martha sebagai seorang Katolik, maka dengan khusyuk Martha berdoa di dalam chapel kecil di dalam House of Virgin Mary. Aku diperbolehkan duduk di bagian dalam di belakang chapel kecil sederhana namun bersahaja itu. Suasana damai dan hening terasa begitu kuat di dalam House of Virgin Mary.

Ephesus dan Library of Celsus yang terkenal

Ephesus adalah kota Yunani kuno yang berumur sudah sangat tua, kalau di baca dari beberapa literatur, kota kuno ini berdiri sejak abad 10 SM, nah membayangkan betapa lamanya sebelum Masehi pun sudah bikin puyeng 😀 pokoknya peradaban modern yang sudah tua sekali. Sempat mengalami berbagai macam pengrusakan karena perebutan kekuasaan sampai akhirnya sebagian kota hancur karena gempa di tahun 614 M. Ephesus terkenal akan Temple of Arthemis yang sayangnya pada tahun 356 SM dibakar oleh Herostratus. Saat ini puing peninggalan terkenal yang masih terlihat adalah Library Celsus dan amphitheater yang mampu menampung 25.000 penonton. Aamphitheater ini awalnya berfungsi sebagai panggung pertunjukkan drama tetapi kemudian pada jaman kekuasaan Romawi berkembang menjadi arena pertarungan gladiator, setelah ditemukan adanya bukti situs arkeologi kuburan gladiator pada tahun 2007.

Langit yang cerah tiba di Ephesus
Langit yang cerah tiba di Ephesus
Kemegahan Ephesus
Kemegahan Ephesus

Amphitheater at Ephesus
Amphitheater at Ephesus
Library of Celsus
Library of Celsus

Kami tiba di Ephesus

Kelaparan dan pasrah di Bus

Tentu saja kami berjalan dengan cepat sambil sesekali melihat jam untuk memastikan kami tidak telat mengejar jadwal bus ke Denizli. Sesampainya kembali di terminal kecil Efes, kami langsung memastikan tas yang kami titip di kantor tiket Kamilkoc dan teringat perut kami sangat lapar! Karena terakhir makan malam adalah jam 19.00 tadi malam di Istanbul. Dengan nekad aku meminta ijin kepada petugas tiket bus untuk membeli makan dibungkus sebentar. Ternyata untuk memesan kebab saja, waktu kami tidak cukup! Martha sudah menyusulku dan mengatakan bahwa bus tinggal menunggu kita berdua saja lagi untuk berangkat. Yahh dari pada kami kelaparan selam 3 jam ke Denizli dimana dalam bus tidak ada makanan berat yang disediakan dan tidak ada pedagang pecel lontong macam di Jawa :-D.

Buru-buru pesan kebab jumbo di terminal bus Efes
Buru-buru pesan kebab jumbo di terminal bus Efes

Dalam keadaan lapar kami makan roti kering jumbo isi kebab dan sayur itu, Ohh tapi kondektur boysband kali ini nampak tidak senang dan seolah mengatakan ingin mencicipi kebab kami tidak boleh makan dalam bus. Seorang mahasiswa cantik di seberang kursi kami dengan bahasa Inggris yang fasih memberitahukan bahwa memang tidak diperbolehkan makan berat di dalam bus di Turkey, terpaksa roti kebab kami simpan dulu. Yahh walo terserang tremor tapi Aku mengagumi kedisplinan orang Turkey yang jauh di atas bayanganku. Bus antar kota begitu bersih dan rapi layaknya bus yang baru sekali pakai dan gres! Dengan wajah kelaparan aku dan Martha kembali pasrah memandang ke luar melalui jendela bus yang besar dalam perjalanan menuju Denizli.

Siap melanjutkan perjalanan ke Denizli
Siap melanjutkan perjalanan ke Denizli
Kebab Jumbo yang ternyata tidak boleh dimakan di dalam bus walaupun kami kelaparan
Kebab Jumbo yang ternyata tidak boleh dimakan di dalam bus walaupun kami kelaparan

Advertisements

15 thoughts on “Lost in Translation on Night Busses Istanbul to Efes

      1. Baiknya naik bus aja Winny. Klo naek pesawat dari Istanbul airport terdekat ada di Izmir dan perlu sambung naik mobil lagi ke Ephesus. Naik bus biayanya sekitar 80-90TL, klo booking via web jauh2 hari dan kadang ada promo mungkin bisa jadi 50-60TL. Sembari tidur malam gak sewa hotel hehe 😄. Naik pesawat untuk Istanbul-Cappadocia aja airportnya ada di Nevsehir dekat Cappadocia.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s