Itinerary and Budget of Hectic Trip Turkey, Cinque Terre & Santorini in 12 Days!


Berhubung saya adalah seorang karyawan yang hanya punya jatah cuti terbatas dan seorang backpacker traveler asal Indonesia maka judul artikel ini sudah menjadi suatu kemakluman umum untuk nge-trip dengan gaya hectic wara-wiri kesana kemari dalam waktu singkat :-D. Bayangkan saja dalam 12 hari itu saya dan seorang travelmate mempunyai 10 kali nomor penerbangan yang harus kami […]

Read more "Itinerary and Budget of Hectic Trip Turkey, Cinque Terre & Santorini in 12 Days!"

Mendadak Jadi Guide


Untuk nge-trip di Nusantara kadang gue mendadak jadi manja perlu guide, perlu porter (kalau lagi kumat kepengen cobain naik gunung) dan ikut group tour dari travel agent, alasannya lebih banyak disebabkan publik transport yang belum memadai jika tempatnya lumayan terpencil atau gak punya group trip sendiri yang jumlah pesertanya mencukupi untuk urunan sewa perahu atau mobil untuk menjelajah […]

Read more "Mendadak Jadi Guide"

Ketika Visa Schengen Italy Ditolak


Kedip lampu putih tanda berita whatsapp sampai siang itu ketika makan siang. ” Ta, gw dah berhasil ambil Visa Schengen kita di VFS. Sekarang gw balik lagi yah ke kantor” Berita menggembirakan yang sudah dinanti membuat degup dadaku kian membuncah. Ohh Tuhan akhirnya aku bisa menjejakkan kaki di benua para “Penjelajah Dunia” yang terkenal akan […]

Read more "Ketika Visa Schengen Italy Ditolak"

Fabulous Choices for Stay in Europe Backpacker Trip #1


Dibanding kedua travelmateku, memang Aku yang paling cerewet menyeleksi pilihan menginap.. Iya donk karena prinsipnya tubuh kita harus dapat istirahat yang cukup dengan situasi dan kondisi penginapan yang nyaman, aman dan bersih (udah kayak slogan kota Adipura) selama backpacker trip.  Urusan harga itu adalah relatif mungkin pilihan tempat menginap di tulisan kali ini tidak efisien menurut […]

Read more "Fabulous Choices for Stay in Europe Backpacker Trip #1"

First Time Using JRPass in Japan!


Kon’nichiwa! Apa Kabar Jepang? Akhirnya kita bertemu lagi di musim dingin 2015. Di perjalanan kali ini, pertama kali Aku akan menggunakan JRPass (Japan Rail Pass) yaitu tiket kereta terusan yang dapat dipakai selama periode tertentu. Tahun 2013 lalu saat trip pertama kali ke Jepang, Aku hanya singgah di Tokyo, Kyoto dan Osaka. Perjalanan keluar kota […]

Read more "First Time Using JRPass in Japan!"

Beberapa Keuntungan Urban Traveling


Dari beraneka ragam pilihan gaya traveling, sepertinya urban traveling yang paling cocok untukku. Urban traveling disini pengertiannya dibuat oleh kesepakatan kami travelbandit team, teman-temanku yang sering ngetrip bareng Yeni dan Ade, bahwa kami yang pelesir jalan-jalan ke tempat baru, ke negeri orang secara independent alias mandiri, tidak menggunakan jasa travel agent luxury class dan sebagian besar perjalanan kami menggunakan public transport, kecuali kalau kami lagi di jamu oleh tuan rumah dari daerah yang kami singgahi baru biasanya kami diantarkan jalan-jalan pakai mobil 🙂

Kadang juga aku merasa lelah sebagai seorang urban traveller, angkat-angkat koper di subway, kadang diganti memanggul backpack seberat 12-18 KG, kadang harus nyasar dan salah jurusan naik subway, pusing baca peta, makan waktu cari-cari alamat guest house, sampai naik turun bangku penumpang untuk menaruh back pack kami di cabin kereta. Apalagi melihat beberapa akun social media selebriti ternama Indonesia, Sang Princess yang selalu traveling dengan high heels, aneka varian winter coat berbulu super tebal yang  aku suka berpikir itu klo aku yang bawa dalam trip mau di taro dibackpack or dimana ya? mau dikirim pake DHL kok ya kemahalan ongkos DHL nya hihihi..trus mobilitas selama traveling juga super lux, mulai dari jet pribadi, limousine, sport car. Muka luxury traveller selama trip gak pernah kelihatan berkeringat pula, beda banget sama tampangku kala kecapean naik tangga mati di subway di Paris atau Jepang..hahahaha..

Sampai suatu saat, ada pertanyaan yang menggugah hatiku yang datangnya dari kakakku sendiri. Kakakku adalah serorang wanita karir yang bekerja di hotel and tourism, pastinya kesempatan business trip ke luar negeri sangat sering. Dan suatu hari tiba-tiba dia bertanya ketika sedang liburan pulang ke rumah. “Elo klo traveling pas di sana explore tempat-tempat wisata naek apa?” Pertanyaan ini pasti muncul dari banyaknya foto-foto tempat wisata, local village, suburb yang aku kunjungi. ” Yah naek subway lah, bus kota, bus AKAPnya sono sampai kereta” jawabku seadanya. Dan satu pernyataan yang jarang aku denger dari seorang kakak perempuan yang superior pun keluar, ” Gw pengen naek subway dan bus kota kayak elo” reaksiku adalah pasang tampang terkejut, “What?? emangnya elo belom pernah naek subway and bus kota di LN sebagai pilihan yang paling murah meriah itu?” Dijawabnya dengan lesu dan agak malu karena aku tahu  sebenarnya jiwa adventure kakakku jauh lebih besar dari aku huehehe. “Belom pernah naik subway and bus kota klo ke LN. Gw kan business trip, selalu dianterin orang kantor”, katanya membela diri. “pernah cobain naik mrt di Thailand pengen tahu red district, kolega gw khawatir banget dan pas di Philipine naek Jepney ditemenin sama kolega”. Nah dari situ deh aku mulai menyimpulkan beberapa keuntungan Urban Traveling diantaranya sebagai berikut:

1. Merasakan sensasi petualangan yang jauh lebih menantang

Karena seringkali pergi pertama kali ke suatu tempat tanpa panduan guide atau local people, bener deh sensasi petualangannya jauh lebih menantang. Nyasar sedikit karena salah baca peta biasa. Trus pernah di Paris Nord Station pertama kali naik kereta antar negara mau ke Amsterdam kita gak tahu cara baca platform announcement yang jadul itu, dengan analog board berisi ribuan kubus yang setiap beberapa menit sekali mengeluarkan suara riuh karena balok kubus itu berputar sisi tanda update jadwal departure and arrival, kami malah enak ngopi-ngopi di satu cafe di dalam Paris Nord dengan cashier mirip Kim Bum si bintang drama Korea. Yah mana peduli dengan platform jadul itu 🙂 Alhasil kita pun ketinggalan kereta dan sempat di tegur keras sama petugas, harusnya kamu mandiri lihat update di platform! Weww dengan kepala dingin kita beli tiket lagi ke Amsterdam Centraal yang harganya 3x lipat dari harga booking online. Tapi kesudahannya ketika semua berjalan lancar dan sudah ketemu solusinya semua jadi lega, ketemu sama temen kami dan suaminya yang jemput di Amsterdam Centraal. Lain lagi di stasiun kereta bandara udara Fiumicino Italy, di tengah kebingungan setelah memanggul backpack kami naik ke atas kereta, aku gak yakin kereta ini menuju Roma Termini untuk lanjut ke Conca d’Oro the last stop untuk mencari alamat apartemen yang kami sewa dari house trip. Di tengah perdebatan aku dan Yeni tiba-tiba sebuah kepala berambut hitam kelabu muncul dari kursi deretan depan dan Ohh..pemiliknya seorang pria mapan bertampang George Clooney dengan ramah menyapa “Can I help you?” Dst..dst aku langsung menyambar ke dekatnya untuk meminta keterangan lebih lanjut. Dari seragam yang dikenakan mas Clooney ini di dadanya bertuliskan “Security” wadehh langsung lega ibarat ketemu es degan di kala terik..ahhh..aku langsung diberitahu kereta turun di Roma triburtina untuk segera berganti dengan metro jurusan Conca d’Oro last stop. Belajar dari petualangan yang mendebarkan kami semakin expert dalam membaca jadwal transportasi, urusan transit subway, transit platform dari subway ke line RER di paris misalnya.

2. Anti mainstream stream destination and transportation.

Ketika aku dan team berencana mengujungi Roma, Italy dan melihat rute jalan-jalan singkat dan efisien dari web tripomatic.com, waktu yang dibutuhkan melihat landmark Roma tidak terlalu banyak bisa selesai dalam setengah hari karena kami sudah membuat kategori jenis atraksi dan seight seeing di kota Roma. Sebagai travelbandit kami kurang puas dengan kategori wisata di Roma yang hampir sama semua, building, ancient temple and ruins, art statue. Maka kami mulai melirik kota yang berjarak sekitar 1-2 jam dari Roma. Pilihannya adalah Pompei, kota reuntuhan dari 76 M akibat meletusnya gunung Vesuvius dengan korban yang terawetkan dalam debu vulkanik dan beberapa peninggalan Pompei ternyata menyimpan rahasia yang besar dan selama ini disembunyikan. Disebut Pompei adalah kota yang mendapat azab karena berbudaya dan perilaku erotis. Bisa di gugling banyak cerita mengenai Pompei. Nah agak anti mainstream kan, belum lagi kami naik kereta lokal dan banyak gypsi yang meminta uang ketika membeli ticket di ticket machine. Subway yang agak bau pesing di Naples, sampai harus berjubelan berdiri di kereta menuju Pompei. Tapi kita bisa membaur dengan penduduk lokal, melihat gaya bicara mereka yang ramai. rasanya ketika berhasil sampai di Pompei dengan public transport tanpa panduan guide kami berasa sehabis memenangkan pertarungan di medan perang..hahaha ungkapan versi lebay 🙂

3. Menambah kenalan baru selama perjalanan.

Seringkali aku dan travelbandit team ini menginap di hostel dan guest house. Kesempatan mendapat kenalan baru di dua jenis penginapan ini sangat besar 🙂 Karena mereka menyiapkan Comunal room seperti ruang tamu, ruang makan dan dapur bersama dan kadang kami ambil yang share bathroom juga. Jadi berasa tinggal di asrama, berasa awet muda hahaha karena berasa seperti anak kuliahan yang tinggal di asrama. Saling menolong sesama traveler pun sering kejadian, pinjam notebook untuk transfer, minta tolong fotoin, nanya rute untuk perjalanan besok sama traveler yang lebih expert, cerita tentang negara asal kita masing-masing, semua keakraban itu terjadi di comunal room sebuah guest house atau hostel. Ada pula keakraban yang berlanjut terus kalau kita ketemu sama solo traveler di tengah trip kita. Ada yang bertukar akun social media seperti fb, email, line dsb.

4. Budget travel yang ekonomis

Kalau dibandingkan budget yang aku keluarkan sebagai urban traveler dengan trip menggunakan luxury travel agent tentu terdapat perbedaaan yang mencolok dalam angka nominalnya dan hal itu kadang membuat aku bangga karena beberapa teman merasa biaya trip mereka dengan menggunakan agent tour sangat tinggi dan jadwal trip yang singkat padat sehingga tidak bisa menikmati fasilitas hotel yang bagus. Istilah aku dan travelbandit team klo kita masih menjadi newbie di suatu tempat, pastinya banyak sekali tempat dan target wisata yang ingin kita dapatkan semua, memang membuat jadwal trip padat, tetapi tetap tidak bosan hanya digiring oleh tour guide untuk cepat-cepat masuk bus karena melanjutakan perjalanan. Urban traveling mempunyai banyak pilihan transportasi untuk keperluan pindah tempat tujuan wisata. Pernah kami naik tuk-tuk delman ditarik motor di kamboja seharian untuk keliling kota, naek boat kecil, subway, bus kota, bus malam dari Tokyo-Kyoto, sewa taxi dari Pnomh Penh-Siamreap yang harus diisi oleh 5 penumpang hehe. Kadang nasib baik menghampiri kami, di Palembang diantar jalan-jalan naik Rush oleh teman kuliahku Tanti, di Holland di antar dan diasuh oleh Ibu Wulan dan Bapak Meneer Jap yang baik hati. Untuk jalan-jalan Tokyo-Kawaguchiko sampai naik bis malam dekat Shizuoka diantar sahabat kami Akihiro. Dari Samosir sampai Brastagi bersama teman kami Dewi dan teman-temannya juga.

Aku merasa bersyukur punya kesempatan merasakan menjadi urban traveler, dimana kita bisa mengasah intuisi kita untuk semakin mandiri, berani dan juga melatih mental dan fisik. Saling berbagi dan menjalani trip dengan travelbandit team juga teman lama sebagai ajang reuni dan juga teman baru karena kita bertemu karena hobby yang sama. Siapa sih yang gak suka jalan-jalan? 🙂

 

 

 

 

 

 

Read more "Beberapa Keuntungan Urban Traveling"